Brutal Lover – Chap.4

brutal lover

Genre : NC17 | Romance | Slice of life | Drama

Disclaimer : cerita ini terinspirasi dari sebuah komik yang pernah saya baca. ceritanya sudah di rombak dan murni pemikiran Author. Please don’t Copy-Cat my story as you want.

©parknara

previous : 1 | 2 | 3


“Wajahmu cerah sekali hari ini.”

Kyuhyun menoleh ke arah pintu, Rachel datang dengan secangkir kopi hangat di tangannya. Kyuhyun mengidikan bahunya dan mengulum senyum lalu kembali membaca dokumen di tangannya. Tentu saja Kyuhyun sangat senang. Tidurnya sangat nyenyak, ditambah saat Hae In masih dalam pelukannya saat ia terbangun, suara serak Hae In yang menyapanya dengan mata setengah terpejam, semuanya membuat pagi ini terasa cerah untuk Kyuhyun.

“Ini laporan saham kita hari ini. Kau sudah bisa sedikit bersantai karena saham perusahaan kita sudah kembali stabil dalam waktu beberapa jam saja.”

Kyuhyun menerima laporan itu dan membacanya dengan teliti. “Syukurlah. Tolong pantau terus karena bisa saja saham kita anjlok lagi.” Kyuhyun mengembalikan laporan itu kepada Rachel, “Kau bisa kembali. Terimakasih.”

Rachel tersenyum walaupun Kyuhyun tidak melihat ke arahnya, lelaki itu sudah terfokus pada monitor di depannya, jarinya bergerak di atas keyboard. “Kau mau makan siang bersama hari ini? Aku tahu restoran Italia yang enak di sekitar sini.”

“Tidak, terimakasih. Aku akan makan siang bersama Hae In hari ini.” balas Kyuhyun tanpa memalingkan pandangannya dari monitor dan tidak menghentikan jarinya dari keyboard. Wajah Rachel masam, lagi-lagi nama Hae In disebut oleh Kyuhyun. Rachel berdeham pelan lalu menyelipkan rambut lurus pirangnya ke belakang telinga. Oh, bahkan Kyuhyun tidak sadar kalau hari ini Rahel menggerai rambutnya.

“Baiklah, kalau begitu aku permisi.” Rachel tidak langsung beranjak pergi, ia menunggu respon dari Kyuhyun entah sebuah gumaman atau anggukan. Tapi nihil, Kyuhyun sudah terpaku pada pekerjaannya. Rachel menggigit bibirnya gemas lalu berjalan keluar dari ruangan Kyuhyun.

“Hai, Rachel. Kau menggerai rambutmu hari ini?” sapa pegawai lelaki yang kebetulan berpapasan dengannya. Rachel tidak menggubrisnya dan terus berjalan dengan wajah yang ditekuk. Ia tidak butuh ucapan seperti itu dari lelaki lain, ia ingin Kyuhyun yang berkata padanya seperti itu.

.

.

.

.

Suara dentingan piano dan gesekan biola yang saling bersahutan dan melengkapi melodi satu sama lain menggema di ruang berlapis kertas dinding berwarna cerah. Kaca besar dan pintu kaca yang menghadap ke koridor membuat siapa saja yang lewat dapat melihat siapa yang sedang bermain musik di dalamnya.

Adalah Hae In dan Janice yang sedang berlatih di dalamnya. Mata mereka fokus kepada partitur, jari mereka bergerak lincah di atas alat musik yang mereka mainkan, mereka menyatukan tarikan napas dan juga melodi bersama-sama. Sesekali mereka saling bertukar pandang dan tersenyum satu sama lain sambil menikmati permainan.

Audisi orkestra sudah di depan mata. Mereka hanya punya hari ini dan besok untuk berlatih sebelum tampil dihadapan Profesor yang punya kualifikasi tinggi untuk menyeleksi para pemain orkestra. Hae In menganggap audisi ini sebagai pembuktiannya kepada diri sendiri, kalau ia bisa bermain musik tanpa harus memiliki bakat. Ia hanya berbekal kecintaannya pada musik dan juga kerja kerasnya.

Janice menganggap audisi ini sebagai ajang tampil di hadapan Profesor yang menjadi juri. Hae In sadar bahwa Janice memiliki bakat dan kemampuan yang luar biasa. Hanya saja Janice selalu tertutup oleh bayangan orang lain sehingga nyaris tak pernah terperhatikan oleh orang lain. Hae In tidak keberatan saat Janice mengatakan hal seperti itu padanya, mereka punya satu tujuan yang sama. Memberikan penampilan terbaik mereka kepada para Profesor juri.

“Hae In apa kau lelah? Tempomu sedikit melenceng di bagian akhir.” Hae In tersenyum tipis lalu menggeleng, “Aku sedikit melamun, maafkan aku.” Janice mendesah pelan lalu menghampiri Hae In. “Bagaimana kalau kita istirahat sebentar, kita bermain selama 1 jam tanpa henti dan aku merasa jariku akan patah!” Janice menggerakan 10 jarinya di hadapan Hae In dengan wajah lelah yang dibuat-buat.

“Baiklah.” Hae In merenggangkan tubuhnya lalu menuju sofa di dekat pintu, memasukan biolanya ke dalam tas kemudian terduduk lunglai disana sambil memejamkan mata. Janice mengenyakan tubuhnya disamping Hae In, sama-sama terduduk lemas di atas sofa.

“Apa tadi malam menyenangkan?” Janice membuka suara.

“Tentu saja, Film yang kita tonton tadi malam seru sekali.” Hae In tertawa kecil begitu adegan lucu melintas di otaknya.

“Bukan itu! maksudku kau dan kekasihmu, Marcus.”

Hae In terdiam seketika, matanya yang tadi terpejam seketika terbuka dengan sempurna. Kejadian tadi malam berputar dengan jelas di benaknya. Pelukan hangat Kyuhyun, ciuman yang memabukan itu, lalu perasaannya yang terungkap. Dan… fakta bahwa mereka sudah resmi sebagai sepasang kekasih.

“Ouh! sepertinya terjadi sesuatu yang menyenangkan, huh?” Janice menoleh ke arah Hae In dengan tatapan jahil khasnya. Hae In balas menatap Janice dengan pipi yang sedikit memerah lalu mengulum senyum.

“Yah… bisa dibilang seperti itu. Aku tidur dikamarnya tadi malam dan–“

“Kalian tidur bersama?!” Janice menegakan tubuhnya, menatap Hae In dengan wajah penuh antusias. “Jangan bilang kalian sudah –“

“YAK!” Hae In mencubit lengan atas Janice. “Hanya tidur, tidak lebih dari itu!”

Janice terkekeh, “Kau tenang saja. Hal seperti itu bukanlah hal yang aneh disini.” Janice kembali menyandarkan tubuhnya. “Senang ya, tinggal bersama dengan kekasih.” Hae In memperhatikan wajah Janice dari samping, mata kehijauan itu berubah menjadi sedikit sendu.

“Pacarku kuliah di Jerman. Mungkin hampir setengah tahun ini aku belum bertemu dengannya lagi.”

“Aaaaah! Aku ingin bertemu dengan pacarku!” rengeknya sambil menghentak-hentakan kakinya ke udara. Hae In mendekat kemudian memeluk Janice dari samping, “Sabarlah. Sebentar lagi libur musim panas akan datang!” gadis bermata hijau itu tersenyum dan balas memeluk Hae In. “Kau benar. Terimakasih Hae In.”

Hal yang disyukuri oleh Hae In adalah bertemu dengan orang yang menyenangkan seperti Janice. Di negara yang sangat jauh dan dingin ini hatinya terasa hangat karena hadirnya seorang sahabat yang tidak pernah memandangnya sebelah mata.

*****

Janice mengerenyitkan dahinya saat melihat sosok tidak asing berdiri di depan kelas alat musik gesek. Lelaki tegap itu berdiri di sebrang jendela dengan tangan bersedekap dan tubuh yang tersender di dinding. Senyuman tipis terlihat menghiasi bibirnya, matanya terfokus kedalam memperhatikan seseorang disana.

“Nathan?”

Nathan menoleh, bola mata coklat terangnya bertubrukan dengan mata hijau Janice. “Hai, Janice!” sapanya ramah dengan senyuman menawannya. Poni yang biasanya menutupi dahi Nathan kini tertata rapih ke belakang dan sedikit acak, memamerkan dahinya yang semakin membuat wajah tampannya bersinar dan tampak lebih segar.

“Sedang apa kau di sini?” Janice memperhatikan arah pandang Nathan. Dan dugaannya benar, di dalam kelas itu ada Hae In dan gadis itu duduk di dekat jendela. Semua bisa melihatnya dengan jelas dari sini.

“Aku kebetulan lewat dan melihat Hae In sedang berada di kelas. Jadi aku melihatnya bermain, hanya sedikit penasaran.” Nathan menoleh sebentar lalu kembali memperhatikan Hae In. Janice menoleh ke arah Hae In kemudian mendesah.

“Nathan.”

“Hm?” gumamnya tanpa melepaskan pandangannya pada Hae In.

“Kau suka padanya, ya? Hae In.” Nathan menolah ke arah Janice. “Kenapa wajahmu serius begitu?” Nathan terkekeh. “Aku serius Nathan, apa kau suka pada Hae In?”

Nathan menghela napas kemudian mengangguk samar. “Kelihatan sekali, ya?” gumamnya, matanya menerawang lurus ke arah Hae In yang sedang mencoret sesuatu di kertas partiturnya.

“Hae In sudah punya kekasih.”

Air muka Nathan tiba-tiba berubah, terlihat sekali kalau wajahnya menjadi kaku begitu saja. senyum tipisnya yang sedari bertengger disana lenyap. “Kau sedang tidak bercanda kan?”

“Memangnya aku terlihat bercanda?” sergah Janice, “Dengar Nathan, aku tahu perasaanmu tidak salah, sama sekali tidak. Tapi kumohon menyerah saja kalau kau ingin merebut perhatian Hae In.”

Nathan tertawa remeh lalu mengusap wajahnya dengan satu tangan, sedikit memutar tubuhnya ke arah Janice dan menahan satu tangannya di pinggang. “Kau suka padaku, Janice?”

Janice menggeleng dengan mantap. “Tentu saja tidak. Aku sudah punya kekasih, lagipula kau bukan tipeku.” Nathan masih menatap Janice dengan penuh selidik, membuat Janice kembali menghela napasnya.

“Aku hanya memberitahumu sebelum perasaanmu terlalu jauh. Aku hanya mencoba membantu, oke?”

Pintu kelas terbuka dan Profesor yang mengajar keluar terlebih dahulu, lalu tak lama kemudian mahasiswa yang lain berhamburan keluar. Hae In tersenyum lebar ketika melihat sosok Janice yang sedang membelakanginya. Gadis itu berjalan mengendap bermaksud ingin mengejutkan sahabatnya dari belakang. Tapi ketika mencoba mendekat, Hae In menyadari bahwa Janice tampaknya sedang terlibat pembicaraan yang serius dengan Nathan. Gadis itu kembali berdiri tegak lalu mendekat ke arah Jance dengan tenang.

“Hae In.” Nathan terkesiap ketika Hae In berjalan mendekati mereka berdua. Janice membalikan tubuhnya dengan cepat dan mendapati Hae In melambai ke arahnya. “Hai, apa aku mengganggu?” tanyanya setelah berdiri bersebelahan dengan Janice.

“Tidak, kami hanya mengobrol santai.” Balas Nathan dengan santai, seolah perbincangan tadi tidak pernah terjadi. Hae In mengangguk-anggukan kepalanya lalu merangkul lengan Janice. “Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum latihan?” tawar Janice. Hae In mengiyakan dengan membuat tanda ‘OK’ dengan jarinya.

“Kalau begitu kami duluan.” Janice segera menarik tangan Hae In sebelum Nathan sempat membalas apapun. Hae In yang bingung menatap ke arah Nathan dan Janice secara bergantian, merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.

.

.

.

.

“Tampaknya kalian membicarakan hal yang serius.” Hae In melirik ke arah Janice penasaran. Gadis bermata hijau itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis. “Kami hanya membicarakan tentang audisi orkestra nanti.” Hae In bergumam sambil menganggukan kepalanya.

Hae In dan Janice menolehkan kepala mereka bersamaan saat mendengar keriuhan yang tak jauh dari mereka. Dugaan mereka tepat, Laura yang tertawa bersama dengan para pengikutnya.

“Menggoda lelaki lagi, huh?” cibir Janice saat melihat mereka mengerubuni seorang lelaki yang memunggungi mereka. “Owh, lihat mereka. Genit sekali.” Lanjut Janice saat melihat Laura memainkan rambutnya dengan pandangan genit, bahkan beberapa kali Laura berusaha menyentuh lelaki itu.

“Kasihan sekali lelaki itu– Hey! Hae In kau mau kemana?!”
Hae In bergegas menuruni beberapa anak tangga, Janice yang bingung segera mengikuti langkah Hae In dengan tergesa. Tiba-tiba Hae In berhenti, kemudian berjalan dengan langkah yang tenang mendekati mereka. Laura yang melihat Hae In mendekat langsung memasang wajah meremehkan, bahkan maju mendekati tubuh lelaki di depannya.

“Kyuhyun.” panggil Hae In dengan nada tenang. Kyuhyun berbalik dan kemudian tersenyum begitu melihat Hae In. “Kau datang?” Hae In berjalan mendekati Kyuhyun dengan senyum terkembang di bibirnya. Hae In melirik ke arah Laura dan dapat melihat wajah perempuan itu berubah menjadi kaku dan juga pucat.

“Aku mau mengajakmu makan siang.” Kyuhyun merangkul Hae In lalu mengecup puncak kepala kekasihnya. “Kau tidak ada jadwal lagi kan?” Hae In menggeleng, “Tapi aku akan latihan dengan–”

“Kita latihan besok saja!” serobot Janice. “Jariku sedikit pegal, jadi kupikir hari ini aku akan mengistirahatkan jariku.” Janice menggerak-gerakan jarinya. “Jadi, kalian bersenang-senanglah.” Lanjutnya dengan cengiran lebar.

“Kau mau ikut makan bersama kami? Aku tidak keberatan.” Tawar Kyuhyun. “Tidak usah repot-repot Marcus! Aku tidak mau menganggu.” Janice mengedipkan sebelah matanya. Kyuhyun dan Hae In terkekeh. “Kau benar tidak mau ikut?” tanya Hae In. Janice menggeleng dengan mantap. “Kalian pergilah. Selamat bersenang-senang!”

Kyuhyun dan Hae In berbalik, berjalan sambil bergandengan melewati Laura dan pengikutnya. Hae In melemparkan senyum manis saat melewati mereka. “Sampai jumpa Laura.” Bahkan Hae In melambaikan tangannya pada Laura.

Janice yang melihatnya mati-matian menahan tawa. Rasanya ingin sekali ia mengeluarkan ponselnya lalu memotret wajah terpukul Laura sekarang juga.

“Kau menggoda orang yang salah nona.” sahut Janice dengan tawa yang tertahan dan segera berlalu dari hadapan Laura dan para pengikutnya. Tawa Janice pecah begitu ia mendengar Laura berteriak frustasi dan para pengikutnya berusaha menenangkannya.

*****

“Kenapa kau tiba-tiba cemberut seperti itu?” Kyuhyun heran karena tiba-tiba saja Hae In berubah drastis saat memasuki mobil. Wajahnya tertekuk kesal, kedua tangannya bersedekap di depan dada, bahkan membuang pandangannya keluar jendela.

Tidak ada jawaban dari Hae In. Kyuhyun menghela napas kemudian memajukan tubuhnya ke arah Hae In, menarik sabuk pengaman dan memasangnya pada tubuh Hae In. Gadis itu masih membuang pandangannya keluar jendela, Kyuhyun menarik dagu Hae In dengan cepat dan menyerbu bibir gadis itu dengan cepat juga. Hae In tidak bisa mengelak, tubuhnya kaku.

Kyuhyun melumat bibir Hae In dengan lembut. Hae In merasa jantungnya akan segera turun ke perut ketika Kyuhyun perlahan membuka matanya tanpa melepaskan ciuman mereka. Sorot tajam dari mata Kyuhyun membuatnya meleleh, lumatan lembut di bibirnya berangsur menjadi lebih menuntut.

Hae In hanya bisa melampiaskan perasaannya kepada sabuk pengaman yang ia cengkram erat-erat sedari tadi. Kyuhyun melepaskan ciumannya, menatap Hae In dengan wajah datar. Bibir Hae In yang memerah kembali menggodanya, tapi Kyuhyun tidak menciumnya. Hanya mengecupnya sekilas kemudian kembali menatap Hae In.

“Kau cemburu?”

Hae In merasa sesuatu menohok tepat ke jantungnya.

“Ya, kau cemburu pada gadis pirang tadi.” Kyuhyun tersenyum miring kemudian kembali duduk tegak di balik kursi kemudi. Menggunakan sabuk pengaman, menyalakan mobil dan mulai meninggalkan area kampus.

“Kau tidak mau tahu ceritanya? Hm?” tawar Kyuhyun. Hae In melirik sejenak kemudian menghela napas. “Ceritakan padaku.” Balasnya masih dengan nada kesal.

“Dia menjatuhkan sapu tangannya tepat di depanku. Secara naluriah wajar bila aku akan mengambilnya dan mengembalikan kepada pemiliknya. Aku bermaksud segera menemuimu setelah mengembalikan sapu tangan itu, tapi gadis itu menahanku.”

“Laura memang begitu. Dia tidak akan menyia-nyiakan lelaki tampan yang dia temui.” Gumam Hae In. Walaupun hanya gumaman, Kyuhyun bisa mendengarnya dengan cukup jelas.

“Gadis Barbie yang kau maksud itu dia?” Hae In mengangguk. Kyuhyun tersenyum miring, “Dia cantik dan juga tinggi, belum lagi tubuhnya langsing.” Hae In menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Kyuhyun.

“YAK!” teriaknya kesal lalu memukul tubuh Kyuhyun tanpa ampun. “Demi Tuhan dia tinggi hanya karena memakai sepatu haknya yang setinggi sumpit itu!” cecar Hae In tanpa menghentikan pukulannya. Membuat Kyuhyun tertawa dan juga sedikit kewalahan.

“Aku ingin turun.” Kyuhyun tidak menggubris Hae In, masih terus tertawa sambil melajukan mobilnya. “Kau tidak dengar aku ingin turun?” suara Hae In meninggi. Gadis itu segera melepas sabuk pengamannya dan mengambil tasnya yang ia taruh di dekat kaki.

Kyuhyun menggenggam satu tangan Hae In kemudian menariknya mendekat ke arahnya. “Aku hanya bercanda, maafkan aku.” Kemudian mengecup punggung tangan Hae In yang ada di gengamannya.

“Aku sudah tidak punya mood untuk makan siang.”

“Bahkan untuk Pizza dan Cake?”  Hae In terdiam, Pizza dan Cake adalah makanan kesukaannya. Tentu saja ia tidak bisa menolaknya. Tapi Kyuhyun telah membuatnya kesal dan ia ingin menolak segala tawaran dari Kyuhyun.

“Tidak. Aku malas berada di luar, aku ingin pulang.” Hae In menarik tangannya kemudian kembali bersedekap. “Aku ingin pulang.” Ulangnya lagi.

Kyuhyun menghela napas kemudian memutar arah kemudinya. “Kau tidak perlu mengantarku. Aku bisa pulang sendiri.”

“Pakai sabukmu. Kita makan siang di kantor.”

“Tapi aku –“

“Pakai sabukmu, Hae In.” perintah Kyuhyun dengan nada mutlak. Hae In mendelikan matanya malas kemudian memakai kembali sabuknya. Kyuhyun mengambil ponselnya kemudian menelepon seseorang, Hae In merasa semakin kesal ketika Kyuhyun menyerukan nama Rachel. Entah apa yang akan mereka bicarakan tapi Hae In merasa sangat terganggu. Hae In segera menyumpal telinganya dengan earphone dan memutar lagu dari ponselnya dengan volume maksimal.  Laura dan Rachel adalah gadis pirang yang paling malas ia dengar namanya.

*****

Hae In terdiam, tak jauh dari tempatnya berdiri Rachel juga terdiam. Hae In memandang dengan wajah datar, Rachel memandang dengan wajah tak suka. Kyuhyun yang tidak menyadari apa-apa mengenyakan tubuhnya ke sofa, dengan wajah polosnya ia menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. “Kenapa kau diam disitu? Kemarilah.”

Hae In masih diam di ambang pintu, pandangannya masih bertubrukan dengan Rachel yang berdiri di dekat sofa yang Kyuhyun duduki. Kyuhyun menoleh ke arah Rachel kemudian kembali menoleh ke arah Hae In.

Hae In memutus kontak mata mereka lalu berjalan ke arah Kyuhyun dan duduk di sebelahnya.

“Terimakasih, Rachel. Kau bisa keluar.” Rachel mendengus sebal lalu berjalan keluar tanpa berkomentar apapun. Begitu pintu ditutup Hae In mendesah pelan. Kepalanya terasa sakit karena dua perempuan berambut pirang merusak siang harinya.

Kyuhyun membuka kotak Pizza, mengambil satu potongannya dan menyodorkannya pada Hae In. “Makanlah.” Hae In melirik Pizza di tangan Kyuhyun, lalu melirik ke arah Kyuhyun. Hae In diam, ia ingin tetap diam karena moodnya sedang buruk, dan entah mengapa Kyuhyun terasa sangat menyebalkan hari ini.

“Ayolah, jangan diam saja.” Kyuhyun menempelkan ujung Pizza itu di bibir Hae In. Gadis itu mulai goyah, wangi Pizza yang menggelitik hidungnya, rasa gurih yang menyusup dari sela bibirnya yang sediki terbuka, perutnya yang mulai bergemuruh membuat aksi protesnya buyar.

Hae In menggigit Pizza itu dengan gigitan besar. Kyuhyun tersenyum miring , kemudian memakan sisa Pizza yang sudah di gigit Hae In. Gadis itu memajukan tubuhnya, tangannya sibuk membuka botol soda, kemudian kembali mencomot potongan Pizza dan memasukannya kedalam mulut.

Kyuhyun mengamati Hae In dengan tenang dari samping. Wajah gadis itu berangsur membaik, kerutan kesal di wajahnya sudah hilang entah kemana, mata gadis itu membundar bahagia dengan pipi dan mulut yang sibuk bergerak.

“Kau suka?”

Hae In mengangguk antusias. “Terima kasih Kyuhyun.” ucapnya dengan mulut penuh. Kyuhyun tersenyum miring, tangannya menggapai wajah Hae In kemudian membersihkan sudut bibir Hae In yang ternoda oleh saus dengan jarinya. Hae In tidak bisa menyembunyikan senyum dan juga rona merah di pipinya.

Ia merasa sedikit keterlaluan pada Kyuhyun dan juga merasa malu, seharusnya ia tidak bersikap kekanak-kanakan seperti tadi saat di mobil. “Maaf, aku sedikit berlebihan tadi.”

“Telan dulu makananmu baru bicara.” Kyuhyun merangkul Hae In. Gadis itu sedikit kesulitan menelan makanannya, ia belum terbiasa sedekat ini dengan Kyuhyun. “Maafkan aku, Kyu.”

“Kau memang gadis baik.” Kyuhyun mengelus pelan kepala Hae In. “Kau tidak pernah bisa marah padaku. Marahmu hanya jangka pendek.” Kyuhyun terkekeh. “Sialnya iya. Aku heran kenapa aku tidak bisa marah lama-lama pada orang menyebalkan sepertimu.”

Hae In meneguk sodanya, dengan cepat Kyuhyun menarik wajah Hae In dan menciumnya. Hae In hampir tersedak ketika Kyuhyun menciumnya dengan tiba-tiba, dan juga dengan mulutnya yang penuh soda. Hae In merasakan sensasi yang luar biasa, soda dingin di dalam mulutnya dan bibir hangat Kyuhyun yang melumatnya. Air soda meluncur dari sudut bibir mereka yang terbuka, Hae In benar-benar merasa pusing karena terlalu banyak sensasi di tubuhnya. Ciuman dengan Kyuhyun benar-benar memabukan.

Kyuhyun melepaskan ciumannya, tesenyum miring lalu menyeka area bibir dan dagunya yang basah dengan punggung tangannya. Sedangkan Hae In hanya terbengong dengan wajah memerah dan sebotol soda yang masih di genggamnya.

“K-kau..” Hae In menelan sisa soda yang ada dimulutnya. “Kalau aku mati tersedak bagaimana?!” semburnya dengan wajah memerah. “Kau tidak akan mati semudah itu. Aku akan memberi napas buatan untukmu dengan segera.” Kyuhyun memajukan tubuhnya berniat ingin kembali mencium Hae In. dengan sigap Hae In menahan wajah Kyuhyun yang mendekat dengan tangannya kemudian membekap bibir Kyuhyun.

“A- aku lapar. Biarkan aku makan dulu, oke?” Hae In menelan liurnya gugup karena Kyuhyun tidak berhenti memandanginya dengan sorot mata yang tajam.

Kyuhyun mengecup telapak tangan Hae In yang membekap mulutnya, kemudian menjilat dengan ujung lidahnya.

“Y-YAK!” seru Hae In terkejut dan refleks melepaskan bekapannya. Kyuhyun tersenyum miring kemudian membetulkan posisi duduknya, mencomot Pizza dan memakannya seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.

Sedangkan Hae In terdiam memandangi telapak tangannya yang terasa aneh. Entah mengapa telapak tangannya terasa geli karena jilatan Kyuhyun barusan.

“Kau menyebalkan Kyu!”

.

.

Hae In berbaring di sofa dan sibuk dengan ponselnya. Kyuhyun kembali ke meja kerjanya dan membisu, larut dalam pekerjaannya.

Hae In dikurung oleh Kyuhyun, gadis itu harus menemaninya di kantor sampai pekerjaannya selesai. Bahkan Kyuhyun sampai mengunci pintu dan menaruh kuncinya di dalam saku celananya untuk mencegah kemungkinan Hae In kabur saat gadis itu sudah merasa bosan.

Dan sekarang gadis itu sudah mulai bosan. Tidak ada sesuatu yang dapat dimakannya karena semuanya sudah ia habiskan bersama Kyuhyun dua jam yang lalu. Hae In bangkit lalu duduk, menoleh ke belakang penasaran dengan Kyuhyun. Hae In terus memperhatikan Kyuhyun, berharap lelaki itu melirik ke arahnya sebentar atau mengeluarkan sepatah dua patah kata karena diperhatikan olehnya. Tapi nihil, Kyuhyun tidak melirik atau bercuap sedikitpun. Matanya tetap terfokus pada komputer.

Hae In menghela napas kecewa, tapi gadis itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.

Lengan kemejanya yang digulung sampai siku, wajah yang serius, kacamata berbingkai coklat tua yang entah mengapa membuat Kyuhyun terlihat begitu cerdas dan juga seksi. Dan fakta bahwa lelaki mengaggumkan itu adalah kekasihnya membuat Hae In berdebar tak karuan. Ia menjadi sedikit kesal memikirkan berapa banyak wanita di dataran Eropa ini yang memuja ketampanannya, dan mungkin juga menggodanya sebelum ia bertemu kembali dengan Kyuhyun.

Hae In berdiri kemudian merenggangkan tubuhnya. Berjalan ke arah jendela dan menempelkan kedua tangannya dikaca sambil memperhatikan keadaan diluar sana. Sore ini kota Oxford di kunjungi oleh hujan yang cukup deras. Payung warna-warni berseliweran di trotoar membuat hari yang hujan ini sedikit berwarna.

Tubuh Hae In sedikit tersentak kaget ketika sepasang tangan kokoh melingkar di perutnya, menariknya mendekat dan memeluknya erat. Tubuhnya kembali rileks ketika merasakan punggungnya yang tersandar dengan nyaman di dada bidang Kyuhyun.

“Pekerjaanmu sudah selesai?”

Kyuhyun menumpukan dagunya pada puncak kepala Hae In, mengangguk perlahan. “Ku selesaikan dengan cepat karena tampaknya ada seseorang yang kesepian sampai tidak bisa berhenti memperhatikanku sedari tadi.”

Hae In terkekeh, “Kelihatan sekali, ya?”

Kyuhyun memutar tubuh Hae In ke arahnya, membuat Hae In yang lebih pendek mendongak. Mereka hanya saling bertatapan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kyuhyun mendapati pemandangan yang membuatnya gelisah.

Gadis itu memakai kaus V-neck yang berukuran lebih besar dari tubuhnya hari ini. Seharusnya tidak terlihat sejelas itu. Tapi karena gadis itu melepas kemeja flannel nya, semuanya terlihat jelas dari sudut pandang Kyuhyun.

Kyuhyun dapat melihat bra Hae In yang sedikit menerawang dari balik kausnya. Yang membuatnya gelisah adalah belahan dada gadis itu yang terlihat jelas olehnya. Kyuhyun kembali menatap ke arah Hae In, gadis itu masih menatapnya dengan tatapan polos karena gadis itu tidak tahu apa yang dipikirkan Kyuhyun saat ini.

“Kau sedang menggodaku sekarang?”

“Huh?” Hae In tak mengerti.

Kyuhyun memejamkan matanya frustasi. Wajah yang polos dengan tubuh yang menggoda, Kyuhyun benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Saat ia membuka matanya, semuanya terlihat buram kecuali Hae In yang memandangnya dengan wajah yang kebingungan.

Hae In memekik tertahan ketika Kyuhyun tiba-tiba menarik rambutnya dari belakang tubuhnya. Tubuhnya yang sedikit limbung ditopang oleh satu tangan Kyuhyun yang kokoh menahannya. Hae In yang berniat mengeluarkan protes menjadi bungkam seketika ketika Kyuhyun menciumnya.

Ciuman kali ini berbeda. Membuatnya kewalahan dan kehabisan napas dengan cepat. Kyuhyun menciumnya dengan penuh tuntutan dan keputus asaan. Bahkan sekarang Hae In dapat merasakan lidah Kyuhyun yang menerobos kedalam mulutnya, membelit lidahnya dan membuat Hae In merasa kesadarannya akan hilang dengan segera.

Hae In mendesah tertahan di tengah ciumannya saat Kyuhyun menjambak rambutnya lebih keras. Hae In merasa ada yang salah dirinya. Jambakan Kyuhyun membuat sensasi nikmat tersendiri baginya, ia ingin lebih dan tidak ingin menyudahi ciuman itu dengan segera. Hae In melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Kyuhyun dan menempelkan bibir mereka lebih erat lagi. Hae In hanya bisa meremas rambut Kyuhyun sebagai pelampiasannya.

Kyuhyun melepaskan ciuman mereka tanpa membuat jarak dari bibir Hae In.

“Kau menggodaku. Kau harus menerima akibatnya.”

Kedua tangan Kyuhyun bergerak pelan di punggung Hae In, mengelusnya perlahan. Sedangkan bibirnya sibuk mengecupi wajah Hae In. Kyuhyun menarik kedua tali bra Hae In lalu melepasnya begitu saja, membuat Hae In sedikit tersentak dengan jepretan yang terasa di kulit punggungnya.

“Jangan macam-macam Kyuhyun.” Hae In mencubit leher Kyuhyun.

Kyuhyun tertawa pelan lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya. Hae In dapat merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana saat ia berpelukan dengan Kyuhyun. Hae In menelan salivanya dan merasa wajahnya sangat panas. Ia sudah dewasa, tentu saja ia tahu kalau Kyuhyun sedang ‘menyala’. Di satu sisi ia merasa kaget dan di satu sisi ia merasa tersanjung karena Kyuhyun bereaksi terhadap dirinya.

“Bagaimana kalau kita cepat-cepat menikah saja.” Kyuhyun mengelus pelan rambut Hae In.

“Kenapa?” Hae In menurunkan tangannya ke pinggang Kyuhyun kemudian menyandarkan kepalanya dengan nyaman di tubuh Kyuhyun sambil menoleh ke arahnya.

“Aku ingin memilikimu secepatnya, dan seutuhnya.”

“Aku sudah milikmu.”

“Tapi aku belum berhak menyentuhmu lebih jauh.”

“Owh, manis sekali.” Hae In terkekeh.

“Aku ingin sekali menerkammu sekarang juga, kau tahu. Memasukimu sampai kau tidak kuat untuk sekedar berdiri dengan kedua kakimu.”

Hae In tak bisa berkata-kata, tubuhnya terasa panas saat membayangkan Kyuhyun melakukan hal tersebut kepadanya. Walaupun terdengar sedikit kejam, tapi entah mengapa Hae In suka mendengarnya.

“Maka dari itu, cepatlah lulus dan menikah denganku.” Kyuhyun mengeratkan pelukannya. “Aku ingin kau segera menjadi istriku.”

Hae In tersenyum kemudian mengangguk dalam pelukannya. “Aku mengambil mata kuliah padat, kupastikan aku akan segera lulus kurang dari satu tahun.”

“Kalau bisa, besok kau sudah lulus.”

Hae In memutar bola matanya sambil tersenyum geli, “Berharaplah seperti itu.”

*****

Hae In dan Janice tidak melepaskan genggaman tangan mereka sedari tadi. Raut wajah keduanya terlihat tegang, bahkan Janice terlihat sedikit pucat.

“Kenapa kalian berdua pucat seperti itu?”

Hae In dan Janice menoleh bersamaan. Nathan datang dengan senyuman hangat di bibirnya. Nathan berjongkok di hadapan kedua gadis itu, merogoh kantong plastik yang sedari tadi dibawanya dan mengeluarkan dua buah kaleng jus jeruk. Hae In dan Janice menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Membuat Nathan tersenyum prihatin kemudian mengambil kembali kedua kaleng jus itu, lalu membukakan satu persatu untuk mereka.

“Ikatan kalian benar-benar kuat ya.”

Hae In dan Janice menatap Nathan. “Satu gugup, semuanya gugup. Satu gemetar, semuanya gemetar.” Nathan meletakan tangannya di masing-masing lutut kedua gadis itu.

“Aku takut membuat kesalahan dan membuat Hae In tidak lolos audisi.” Ucap Janice dengan suara yang terdengar lemah. Hae In menggenggam satu tangan Janice kemudian tersenyum. “Jangan begitu, aku juga takut aku membuat kesalahan.”

“Kalau begitu kalian berdua harus percaya diri.” Nathan tersenyum tipis, “Bermainlah tanpa memikirkan lolos atau tidak. Bermainlah karena kalian terhubung lewat musik.”

Hae In dan Janice menghela napas pelan kemudian saling melempar senyum. “Kau benar, terimakasih Nathan.” Ucap Hae In tulus.

Pintu ruang auditorium terbuka. Suara langkah sepatu hak terdengar nyaring bersamaan dengan sosok Laura yang keluar dengan menenteng biola pink nya. Tatapan merendahkan tidak bisa lepas dari matanya saat melewati peserta audisi yang duduk berjejer menunggu giliran. Menganggap mereka semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya.

“Oh, lihat siapa yang ada disini.” Ucap Laura dengan nada mengejek.

Hae In, Janice dan Nathan menoleh bersamaan ke arah Laura. Nathan berdiri kemudian menatap Laura dengan wajah datar, karena dia tidak mengenalnya. Mata Laura membundar saat melihat Nathan berdiri di hadapannya. Gadis itu sudah lama mengincar Nathan. Bukan hanya Laura, banyak gadis yang mengharapakan Nathan karena dia salah satu lelaki paling tampan di fakultas musik.

“Oh, hai Nathan!” sapa Laura sambil bertingkah genit. Nathan tersenyum tipis dan juga bingung kenapa perempuan di depannya bisa tahu namanya. Nathan hanya tersenyum aneh tanpa membalas sapaan Laura.

“Kau ikut audisi juga?” tanya Laura, kali ini dia menyelipkan rambut pirangnya kebelakang telinga dengan sengaja. Hae In dan Janice hanya memandangi Laura dengan tatapan malas.

“Tidak, aku datang untuk mendukung mereka.”

Laura menatap ke arah Nathan dan juga Hae In, Janice secara bergantian. Terlihat sekali Laura berusaha tetap tersenyum. “Me –mereka?” tunjuk Laura dengan jarinya.

Nathan mengangguk, “Mereka temanku.”

Janice bersedekap dengan senyuman menang di wajahnya, ia yakin gadis barbie itu sangat terkejut sekarang. Hae In yang mati-matian menahan tawanya hanya bisa mengulum senyum sambil sesekali meneguk jus jeruknya.

“Nathan juga membelikan jus jeruk untuk kami. Kau mau?” Hae In menyodorkan kaleng jus miliknya. Laura menatap Hae In kesal, “Tidak, terimakasih.” Balas Laura sehalus mungkin, Hae In ingin sekali rasanya menyemburkan jus jeruk dari mulutnya ke wajah Laura karena senyum palsu gadis itu.

“Begitu? Ya sudah.” Jawab Hae In santai lalu meneguk kembali jusnya. Janice mengulum senyum.

Dari jauh terdengar nama Laura dipanggil dengan suara melengking yang saling bersahutan. Membuat seluruh orang di koridor menatap ke satu arah, para perempuan pengikut Laura.

“Aku harus pergi. Sayang sekali, padahal aku masih ingin mengobrol denganmu.” Ujar Laura dengan wajah manis yang dibuat-buat.

“Semangat untuk audisinya.” Laura melemparkan senyum terpaksanya kepada Hae In dan Janice. “Terimakasih. Tidak usah repot-repot.” Balas Janice dengan nada riang.

“Sampai jumpa Nathan!” Laura menepuk bahu Nathan lalu melenggang pergi dengan suara sepatu haknya yang sangat berisik.

“Dia.. siapa?” tanya Nathan dengan wajah kebingungan. Hae In dan Janice yang sedari tadi menahan tawa langsung meledak begitu saja, membuat Nathan semakin bingung.

“Kau dengar tadi? ‘semangat untuk audisinya.’” Hae In menirukan cara biacara Laura lalu kembali tertawa. Janice hanya mengangguk sambil memegang perutnya, ia tidak bisa berkata apapun selain tertawa.

Nathan menghela napas kemudian tersenyum. “Yah, aku tidak tahu dia siapa. Tapi setidaknya kalian terlihat lebih baik sekarang.”

“Kami harus berterimakasih banyak pada Laura.” Ucap Janice disela tawanya. “Kau benar. Dia benar-benar penghibur.” Timpal Hae In setuju.

Hae In merogoh sakunya, ponselnya bergetar. tawanya berganti dengan senyum lebar saat melihat deretan pesan dari Kyuhyun di ponselnya.

Tebak siapa yang akan lolos audisi hari ini? Park Hae In.
Jangan tanya aku tahu darimana, saat Juri melihatmu pun mereka tahu kalau kau pasti lolos. Bermainlah dengan baik, ada makan malam spesial menunggumu di rumah.

“Oh, sepertinya ada yang mendapat pesan romantis?” Janice menyikut Hae In dengiran cengiran jahil. “Yah, begitulah.”

Tanpa sadar tangan Nathan terkepal saat melihat Hae In yang tersenyum malu-malu dengan wajah tersipu. Siapa dia? Siapa yang membuat Hae In tersipu seperti itu? Kau benar sudah punya kekasih? Segala pertanyaan dan kekhawatiran memenuhi kepalanya, tapi ia hanya bisa diam sambil memandangi Hae In yang masih tersipu karena di goda oleh Janice.

Pintu auditorium terbuka untuk yang kesekian kalinya, wanita yang sedari tadi sibuk dengan daftar para peserta kembali keluar dan kembali memanggil nomer peserta.

“Kita dipanggil!” seru Janice lalu segera berdiri dan merapihkan pakaiannya. Hae In berdiri, menghela napas kemudian memejamkan matanya sejenak, memanjatkan doa kepada Tuhan.

Hae In tersentak ketika tiba-tiba Nathan menarik tangannya cukup kasar dan membuat gadis itu merintih. “Nathan?” Hae In menatpnya bingung.

Seperti tersadar, Nathan melepaskan cengkramannya dengan segera. “Maafkan aku! Astaga, aku benar-benar minta maaf. Tanganmu tidak apa-apa?”

Hae In menggerak-gerakan tangannya kemudian tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”

“Maaf, aku tidak bermaksud kasar –aku ingin mengucapkan semangat padamu.” bohong Nathan, Hae In menggeleng. “Kalau begitu, aku masuk dulu. Doakan kami berhasil.”

Nathan mengangguk lalu melambai dengan senyuman tipis. Menghela napas berat, menyesali kecemburuan yang hampir merusak sesuatu yang penting.

.

.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Janice sebelum mereka naik ke panggung. Hae In menatapnya dengan pandangan bingung.

“Tanganmu. Aku tahu tadi Nathan menarikmu cukup keras.” Hae In menggerak-gerakan pergelangan tangannya. “Aku tidak apa-apa, tenang saja.”

“Silakan naik ke panggung.” Perintah panitia yang berdiri di dekat panggung.

“Janice, ayo nikmati permainan kita.” Hae In menggenggam erat tangan sahabatnya. Janice tersenyum kemudian mengangguk mantap. “Aku bersamamu.”

*****

Kyuhyun mengetuk-ketukan pulpennya ke atas meja. Matanya tidak bisa lepas dari ponselnya yang tergeletak tak jauh dari tangannya. Kyuhyun sedang berada di ruang rapat kecil yang ada di lantai karyawan. Ruang rapat itu berlapisi kaca bening dan membuat pegawai perempuan di lantai ini bisa memandanginya dengan bebas.

Ini adalah momen yang langka, karena Kyuhyun biasanya tidak berlama-lama ada di lantai karyawan. Biasanya sehabis rapat dia akan kembali ke ruangannya, dan tidak menampakan diri sampai jam pulang kerja.

Rachel dengan tenang duduk menemani Kyuhyun di ruangan itu. Sesekali melempar pandangan angkuh pada pegawai perempuan yang sedang menatap iri ke arahnya karena bisa  berdua bersama Kyuhyun.

Ponsel Kyuhyun bergetar. Kyuhyun terduduk tegak lalu segera mengambil ponselnya, membuka pesan yang datang dari Hae In.

Tebak siapa yang lolos audisi? Park Hae In.
Jangan tanya kenapa aku bisa lolos, tadi pagi ada yang meramalku dan ramalannya tepat sekali.
aku lapar, mungkin
cheesecake untuk makanan penutup terdengar enak.

Kyuhyun tersenyum lebar. “Yes!” serunya sambil mengepalkan tangannya. Rachel terkejut, baru pertamakali ia melihat Kyuhyun bersorak. Bahkan Kyuhyun menciumi ponselnya. Kyuhyun berdiri dan berjalan tergesa ke arah pintu.

“Kau mau kemana Marcus?” Rachel berdiri dari tempatnya.

Kyuhyun tersenyum miring. “Makan malam dengan Hae In.” serunya dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikannya.

“Tapi ini masih jam –“ belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Kyuhyun sudah keluar dari ruangan rapat dengan langkah yang ringan. “lima sore..”

*****

Kyuhyun mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan kota Oxford sore ini cukup senggang karena hujan yang turun cukup deras. Kyuhyun menawari sebuah jemputan, dan Hae In menerimanya dengan senang hati.

Kyuhyun sudah membayangkan Hae In akan menyambutnya dengan senyuman hangat kemudian memeluknya dengan girang karena lolos audisi. Hanya membayangkan hal remeh seperti itu bisa membuat Kyuhyun tersenyum sepanjang perjalanan.

.

.

.

Hae In memandangi air yang menetes dari pinggiran atap pelataran fakultas tempatnya menunggu. Sesekali memandangi sekitarnya yang mulai sepi karena hujan dan waktu mulai bergerak ke arah malam. Hanya ada beberapa mahasiswa yang menunggu seperti dirinya. Janice sudah pamit lebih dulu karena ia merasa sangat mulas sehabis audisi, Hae In hanya mendoakan sahabatnya tidak terguyur hujan saat perjalanan pulang.

“Kau masih disini?” sapa seseorang.

Hae In membalikan tubuhnya, sosok jangkung Nathan berjalan ke arahnya dengan senyuman tipis bertengger di bibirnya. Hae In mengangguk pelan kemudian Nathan mensejajarkan dirinya dengan Hae In.

“Hujannya deras sekali.” Nathan menjulurkan tangannya, membiarkan tetesan air membasahi telapak tangannya.

“Untung saja anginnya tidak terlalu kencang.” Hae In kembali memandangi tetesan air.

“Kau mau pulang? Biar ku antar.”

“Terima kasih Nathan. Tapi aku sudah dijemput.”

“Siapa yang menjemputmu?”

Hae In mengulum senyum, tiba-tiba merasa malu kepada dirinya sendiri. “Pacarku.” Jawabnya dengan pipi yang menghangat. Alis Nathan sedikit mengerut mendengar kata ‘pacar’ yang dilontarkan Hae In. Seketika percakapannya dengan Janice beberapa waktu lalu teringat kembali di otakknya.

“Hae In sudah punya kekasih.”

Nathan merasa ada bongkahan batu yang menimpanya. Ia tidak ingin mempercayai hal itu, tapi ketika Hae In mengatakan dari mulutnya sendiri ia merasa terpukul. Nathan selalu memperhatikan gadis itu dari hari pertama Hae In masuk. Walaupun mereka mengambil konsentrasi alat musik yang berbeda, Nathan selalu melihatnya karena Hae In selalu ada di tempat yang sama. Kelas alat musik gesek, taman di dekat kelas Nathan, dan juga kantin. Dan disitulah ia mulai jatuh cinta pada gadis yang berbeda ras darinya. Ia menemukan bahwa Hae In itu gadis unik yang belum pernah ditemuinya.

“O-oh, begitu.” Nathan berdehem kemudian menoleh ke arah Hae In, memperhatikan Hae In yang masih mengulum senyum sembari memandangi tetesan air. “Sudah berapa lama? Dengan pacarmu.”

Hae In balas menoleh ke arah Nathan kemudian terlihat berpikir. “Belum lama ini.” kemudian tertawa pelan, “Aku sendiri heran dan masih tidak percaya dia menjadi pacarku sekarang.”

Tanpa sadar tangan Nathan terkepal. Menahan amarah dan juga hasratnya di ubun-ubun. Ia benci karena Hae In tersipu untuk kekasihnya, tersenyum manis untuk kekasihnya, dan bahkan terlihat sangat menggemaskan saat memikirkan kekasihnya. Nathan memiliki keinginan yang besar untuk memiliki Hae In, gadis istimewa yang merebut hatinya tanpa melakukan apapun.

Mata Hae In membundar saat melihat sosok Kyuhyun yang berjalan ke arahnya dengan payung hitam besar di tangannya. Kyuhyun sudah melepas jasnya dan menyisakan kemeja putihnya yang digulung sampai siku dan cukup jelas mencetak tubuhnya yang atletis. Hae In merapikan baju terusan dan cardigan yang dipakainya.

Mereka saling melempar senyum saat Kyuhyun mulai mendekat. Nathan melihat ke arah Kyuhyun yang mendekat, kemudian melihat ke arah Hae In. Air mukanya mengeras.

“Apa aku membuatmu menunggu lama?” Kyuhyun menurunkan payungnya saat sudah memasuki pelataran, berdiri berhadapan dengan Hae In. “Tidak juga. Maaf merepotkanmu, Kyu.” Mereka saling melempar senyum satu sama lain.

Kyuhyun menoleh ke arah Nathan dan membuat Hae In menoleh ke arahnya juga. “Ah, Kyu. Ini Nathan, dia bermain saxsophone.” Kyuhyun dan Nathan saling bertatapan, Kyuhyun dapat menangkap kilat aneh disana. Nathan tersenyum tipis lalu menjulurkan tangannya.

“Dan Nathan, Ini Kyu- Eum, Marcus. Dia –“

“Aku Marcus, tunangannya Hae In. Salam kenal.” Potong Kyuhyun lalu segera menyambut uluran tangan Nathan dengan senyum dingin. Hae In sedikit tersipu kemudian menunduk menyembunyikan pipinya yang terasa memanas. Dia tidak sadar kalau Kyuhyun dan Marcus saling melempar senyum dengan jabatan tangan yang terkepal sangat erat.

Setelah melepas jabatan mereka, Kyuhyun menarik Hae In mendekat lalu membuka payungnya. “Kami ada acara, dan harus segera pergi. Terima kasih sudah menemani Hae In saat menungguku.” Kyuhyun tersenyum dingin lalu merangkul pinggang Hae In hingga menempel ke tubuhnya. Hae In yang merasa malu hanya tersenyum kikuk kepada Nathan.

Kyuhyun berbalik dan mulai berjalan dengan Hae In yang masih dirangkulnya, meninggalkan Nathan yang memandangi mereka berjalan menjauh dengan wajah yang tidak menyenangkan.

“Eum, Kyu. Kurasa kau memegangku terlalu kuat.” Mereka berjalan dibawah hujan, suasana kampus yang sepi entah mengapa terasa sangat romantis.

“Aku tidak ingin kau kau terkena air, dan juga ini hangat.” Kyuhyun mengelus pinggang Hae In, membuat Hae In mengulum senyumnya. Gadis itu tidak bisa menahan dirinya saat Kyuhyun menjadi romantis seperti ini. Rasanya ia masih belum terbiasa dengan sisi manis Kyuhyun yang selalu membuatnya meleleh.

“Kau sudah lama kenal dengannya?”

Hae In mendongak ke arah Kyuhyun, “Siapa?”

“Nathan.”

Hae In menggeleng. “Aku baru mengenalnya beberapa minggu yang lalu. Dia mengembalikan bukuku yang hilang. Kenapa?”

“Tidak. Hanya ingin bertanya saja.” tangan Kyuhyun naik ke bahu Hae In dan merangkulnya lebih erat, kemudian Hae In menyelipkan tangannya ke pinggang Kyuhyun merapatkan tubuh mereka. Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara. Suara air yang menabrak payung, kecipak air dari langkah mereka, dan napas mereka yang seirama terasa luar biasa nyaman.

.

.

.

.

Nathan memandangi sedan hitam yang mulai bergerak meninggalkan area fakultas musik. Di bawah payung abu-abu tuanya ia mendengus kasar, tangannya mencengkram gagang payung dengan erat. Bergumam dengan emosi yang ditahannya. “Seharusnya kau jadi milikku.”

*****

Hae In duduk di meja makan bergaya bar di dapur rumah. Menggerak-gerakan kakinya yang tergantung sedikit jauh dari lantai karena kursi yang tinggi. Kedua tangannya menopang kepalanya, dan senyum bahagia belum hilang semenjak ia sampai di rumah.

Sesaat setelah sampai rumah Kyuhyun bergegas masuk ke kamarnya untuk mandi. Tapi Hae In melarangnya, dan meminta Kyuhyun untuk tidak mandi dulu. Pertamanya Kyuhyun bersikeras karena ia merasa kurang nyaman, dan lagi mereka akan makan malam. Walaupun hanya makan malam sederhana di rumah, Kyuhyun tetap ingin terlihat bersih dan segar di hadapan Hae In.

Tapi Hae In bersikeras dan akhirnya Kyuhyun mengalah.  Gadis itu hanya mengizinkan Kyuhyun untuk mencuci mukanya.

Dan sekarang gadis itu tersenyum seperti orang bodoh melihat Kyuhyun yang sibuk dengan bahan-bahan dan alat masaknya. Menikmati pemandangan punggung Kyuhyun yang bergerak-gerak. Kemeja putih yang pas di tubuhnya membuat Hae In menjerit dalam hati. Punggung yang tegap itu seolah menggodanya untuk datang ke arahnya dan menempel disana. Kemejanya yang sedikit kusut entah mengapa menambah poin seksi. Hae In menertawai dirinya sendiri karena ia terlihat seperti gadis yang mesum dan juga maniak.

Kyuhyun berjalan ke arahnya dengan 2 piring besar berisi daging steak dengan saus coklat dan juga salad kentang yang terlihat menggiurkan. Tanpa sadar gadis itu bertepuk tangan dengan sorakan girang saat piring itu sudah tersaji di depannya.

Kyuhyun menuangkan wine dan menaruhnya di dekat piring mereka. Lalu duduk di sebelah Hae In.

“Seharusnya kita duduk berhadapan. Tapi karena meja makannya seperti ini apa boleh buat.” Keluh Kyuhyun.

Hae In terkekeh, “Tidak masalah buatku. Aku tetap senang.” Ucapnya, membuat Kyuhyun tersenyum.

Mereka mulai menyantap makanan dengan obrolan ringan. Kyuhyun dengan setia mendengarkan Hae In yang bercerita dengan antusias tentang audisinya tadi siang. Menceritakan bagaimana dia tidak bisa berhenti merinding karena permainan duetnya dengan Janice, dan juga tentang laura yang membuatnya terbahak. Sampai hasil audisi diumumkan.

Sesekali Kyuhyun membersihkan sudut bibir Hae In yang ternoda saus saat gadis itu berceloteh. Kyuhyun tidak bisa berhenti tersenyum karena gadisnya terlihat begitu menggemaskan. Seperti gadis kecil yang sedang bercerita kepada ayahnya.

Selesai makan, mereka memutar kursi mereka dan duduk berhadapan sambil menikmati wine.

“Kenapa kau tidak membolehkan aku mandi. Badanku gatal.” Keluh Kyuhyun.

“Kau terlihat sangat tampan kalau seperti ini.” Hae In menyesap anggurnya, “Dan juga wangimu enak.”

Kyuhyun mengundus tubuhnya. “Apa aku bau badan?”

“Aku bilang wangimu enak, bodoh. Bukan bau badan.” Hae In menyenggol kaki Kyuhyun kemudian dibalas hal serupa olehnya.

Kyuhyun menaruh gelasnya di atas meja kemudian turun dari kursi tingginya. “Kau mau kemana?” tanya Hae In. “Badanku gatal, aku ingin mandi.” Kyuhyun membuka kancing kemejanya, membuat tatapan Hae In fokus pada gerakan jari Kyuhyun. Hae In masih duduk di kursi sehingga tinggi mereka hampir sejajar.

“Aku juga ingin mandi.” Hae In memegang bahu Kyuhyun lalu memutar tubuhnya. Kemudian melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun. “Gendong aku.”

“Kau mau mandi bersamaku? Terdengar menyenangkan.” Kyuhyun sedikit merendahkan tubuhnya kemudian menggendong Hae In di punggungnya. Kyuhyun tertawa saat lehernya dicekik oleh Hae In. “Aku tidak bilang mandi bersama bodoh!”

“Jangan bergerak, tubuhmu berat!” seru Kyuhyun saat mereka menuruni tangga. “Aku habis makan, wajar bila beratku bertambah.” Hae In menopangkan dagunya di bahu Kyuhyun.

“Hae In berat, Hae In berat. Walaupun kecil badannya seberat kulkas.” Kyuhyun bernyanyi dengan nada datar dan jitakan mendarat dengan mulus di kepalanya. Kyuhyun berhenti di depan pintu kamar Hae In kemudian Hae In melompat turun.

“Kyuhyun bodoh, wlee!” Hae In menjulurkan lidahnya lalu masuk ke kamarnya. Kyuhyun hanya terkekeh lalu masuk ke kamarnya dan segera membersihkan diri.

*****

“Kapan kau akan tampil?”

Hae In naik ke atas kasur lalu ikut bersandar bersama Kyuhyun di kepala tempat tidur. “2 minggu lagi. mulai besok tampaknya aku akan latihan intensif.” Hae In besandar di bahu Kyuhyun, mengintip buku yang sedang Kyuhyun baca.

“Apa kau akan pulang malam terus sampai pentas nanti?” Hae In mengidikan bahunya. “Aku tidak tahu, latihannya saja belum dimulai. Kau cerewet.”

“Aku hanya khawatir kalau kau pulang malam sendirian.” Ucapnya tenang dan fokus pada bukunya.

“Kau sudah berubah jadi lelaki romantis sekarang? Manis sekali.” Goda Hae In. Kyuhyun hanya tersenyum miring. “ Jadi kau lebih suka kalau aku siksa seperti kecil dulu?”

“Tentu saja tidak!” Hae In menendang kaki Kyuhyun pelan. “Aku tidak mau mengalami kebotakan dini karena kau menjambak rambutku terus.” Protesnya.

“Tapi menjambakmu sangat menyenangkan.”

“Kau benar-benar sadis ya?”

Kyuhyun menutup bukunya, menaruhnya di meja nakas kemudian menatap Hae In dengan senyum tipis.

“YAK! KYUHYUN!” tubuh Hae In tertarik ke arah Kyuhyun seiring dengan rambutnya yang ditarik tiba-tiba oleh lelaki itu. Kyuhyun terkekeh kemudian mengelus rambut Hae In dan menarik rambutnya dari belakang kepala. Membuat Hae In sedikit mendongak ke arahnya.

Sensasi itu datang lagi. sensasi saat Kyuhyun menarik rambutnya dengan kasar, entah mengapa membuat tubuhnya terasa aneh. Ditambah Kyuhyun yang menatapnya dengan dalam dan wajahnya mulai mendekat. Hae In menggigit bibir bawahnya saat Kyuhyun menarik rambutnya agar ia lebih mendongak dan membuat lehernya terekspos.

Kyuhyun mendaratkan bibirnya di leher Hae In. Mengecupnya perlahan lalu menjilat dengan ujung lidahnya. Hae In meremas kaos di lengan Kyuhyun, melampiaskan sensasi geli di permukaan kulitnya.

“Dulu, aku suka menarik rambutmu karena kau terlihat lucu saat marah. Dan juga aku ingin dapat perhatianmu.” Kyuhyun mensejajarkan wajahnya dengan Hae In. Menikmati semburat merah yang muncul di pipi Hae In.

“Sekarang, aku suka menarik rambutmu karena kau terlihat sangat..” Kyuhyun mendekatkan wajah mereka. “Seksi dan menggoda.” Kemudian melumat bibir Hae In.

Hae In memejamkan matanya, menikmati ciuman Kyuhyun yang lembut. Kyuhyun melepas tarikan rambutnya kemudian beralih mengelus kepala Hae In lembut. Kyuhyun membisikan kata cinta disela ciumannya, membuat jantung Hae In seperti mau meledak. Gadis itu tidak bisa menahan keromantisan Kyuhyun. Dia terlalu manis, hangat dan juga nyaman. Hae In tidak akan pernah berpikir untuk melirik pria lain, Kyuhyun sudah sangat cukup untuknya.

“Selamat malam Hae In.” Kyuhyun melepaskan ciumannya lalu mengecup kelopak mata Hae In. gadis itu tersenyum kemudian membalas mengecup kedua pipi Kyuhyun. “Selamat malam Kyu.”

Mereka membetulkan posisi lalu kembali berpelukan. Saling menatap sampai akhirnya terlelap.

.

.

.

tbc

:: halo! aku kembali bawa lanjutan cerita kkk~
sebenernya part ini udah selesai dari minggu kemaren, tapi aku lupa ngepost gara2 urusan kuliah, maafkan aku!
maklum anak semester 6, tugas numpuk, kegiatan HIMA bejibun, dan kerja praktek lapangan menyita waktu T^T
maaf kalau updatetannya bakal lama, karena aku cuma bisa ngetik di waktu kosong, disela-sela tugas dan kerja praktek. jadi mohon sedikit pengertiannya yah temanku :’)
aku gabakal pernah bosen ngucapin makasih banyak untuk yang udah baca dan ngasih komentar di blog-ku.
satu baris komen dari kalian sangat berarti buat aku. semoga kalian suka, aku bakal usahain posting lanjutan secepatnya. have a nice day! ❤

Iklan

11 thoughts on “Brutal Lover – Chap.4

  1. suka banget sama kyuhyun nya yaaampunn meskipun sedikit kasar tapi ada sisi romantisnyaa
    next chap jangan lama lama yaah

  2. Sumvehh gua rasa si hae in rada” gila dehh masa’ rmbutnya di tarik dia gak kesakitan malah dia seneng -_- Anehh bin ajaib !!
    Ahahaha kasian bnget si kyu nahan mulu’ kekekeke ddaebakk author-nim..
    Very nice !!

    • saya rasa Hae In itu sesikit masochist, jadi dia seneng di siksa… sama cintanya Kyuhyun :v
      makasih udah komen dan baca, semoga bisa bersabar nunggu apdetannya X’D

  3. Ya ampun suka bnget liat kyu kek gni,ntah kenapa pas kyu narik rambutny hae in trus hae in ny dicium,it romantis sekali

  4. Hiks hika hiks #nangis kejeng..
    Thor-nim knpe ff ini blm di lnjutin ?? Ak udh kmgen dgn klanjutannya.. udh ampir 3 bln thor-nim blm ngelanjut ..
    Smoga author-nim kena hidayah spy cpt ngelanjut..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s