Brutal Lover – Chap.3

brutal lover

Genre : NC17 | Romance | Slice of life | Drama

Disclaimer : cerita ini terinspirasi dari sebuah komik yang pernah saya baca. ceritanya sudah di rombak dan murni pemikiran Author. Please don’t Copy-Cat my story as you want.

©parknara

previous : 1 | 2


Hening. Hae In hanya menatap ke arah Kyuhyun tanpa berkedip. Berpikir, kenapa lelaki di depannya ini selalu tidak bisa ditebak.

“Aku tahu semuanya. Kedatanganmu ke Inggris, kuliahmu di Oxford, permainan Biolamu. Aku tahu semuanya tentang dirimu, bahkan saat kita terpisah jarak selama 10 tahun. Aku selalu mengandalkan ibumu sebagai informanku.”

“Ibu?! Ibuku memberitahumu semua tentangku? Astaga..” Kyuhyun terkekeh. “Pantas saja ibu sangat memaksa mencarikan tempat tinggal untukku di Oxford. Ternyata..”

“Ya, ibumu memang tahu aku tinggal di Oxford. Kebetulan yang sangat bagus kan? Kau kuliah di Oxford, dan aku tinggal di Oxford. Ibumu tidak perlu khawatir anak perempuannya akan kesulitan disini.” Kyuhyun tertawa dengan tawa khasnya, Hae In hanya bisa mencubit perut lelaki itu untuk menyalurkan kekesalannya.

“Soal tunangan itu..”

“Aku serius tentang itu.” Kyuhyun menggenggam jemari Hae In. “Aku tidak akan memaksamu untuk segera mengesahkan tunangan ini atau buru-buru menikah. Tentu saja aku ingin segera menikahimu. Mendamba wanita selama 10 tahun itu tidak mudah, kau tahu. Dan aku merasa sakit hati kau berusaha melupakanku.”

Hae In menatap ke arah jemarinya yang bertaut dengan Kyuhyun. Betapa hatinya membuncah saat merasakan kulit mereka yang bersentuhan. Jari lentiknya terasa begitu pas saat bertautan dengan jari-jari Kyuhyun yang panjang dan besar.

“Kau sendiri yang membuatku takut, bodoh.”

“Anak laki-laki selalu menjahili perempuan yang disukainya.”

“Tapi tidak dengan menjambaki rambutku setiap hari. Bagaimana kalau aku sampai botak?”

“Aku tetap suka padamu.”

Jantung Hae In terasa berhenti untuk satu detik. Bagaimana kata-kata itu menohoknya dengan debaran tak beraturan di hatinya. Ia terlalu malu untuk mengakui kalau dia juga punya perasaan lebih pada Kyuhyun. Seingatnya, dia bukan orang dengan gengsi yang tinggi. Dia cenderung orang yang blak-blakan dan apa adanya. tapi ketika menyangkut perasaannya pada Kyuhyun, gadis itu tidak bisa blak-blakan seperti biasanya.

“Dasar gombal!” balasnya dengan nada mengejek.

Kyuhyun mendengus geli lalu tersenyum miring khasnya. “Wajahmu memerah. Jangan berlagak tidak suka seperti itu, kau terlihat bodoh.” Hae In mendecak sebal. “Jangan mengataiku bodoh! Kau jelek!” gadis itu melepaskan tautan jari mereka secara sepihak lalu bersedekap dengan wajah sebal.

“YAK!” teriaknya sedetik kemudian. Kyuhyun menarik rambut Hae In hingga tubuh gadis itu condong ke arahnya. “Kau benar-benar ingin aku botak ya?!” sungutnya sambil meringis. Kyuhyun tertawa remeh lalu mendekatkan wajahnya hingga berhadapan dengan Hae In.

“Waktu kecil aku selalu menarik rambutmu untuk mencari perhatian. Tapi sekarang.. “ Kyuhyun menatap gadis itu lekat-lekat. Mendekatkan wajahnya hingga ujung  hidung mereka bersentuhan. “Kau terlihat sangat seksi jika rambutmu kutarik seperti ini.”

Kyuhyun memiringkan wajahnya, membuat Hae In refleks menutup matanya rapat-rapat. Jantungnya berdebar tak karuan, tanpa sadar ia meremas kuat ujung cardigan biru tuanya. Ia dapat merasakan hembusan napas Kyuhyun di permukaan kulitnya, membayangkan jika..

CUP!

Kyuhyun mengecup ujung hidungnya singkat. Perlahan Hae In membuka matanya dan melihat Kyuhyun yang tersenyum jahil ke arahnya. Hae In menghela napas, ada rasa kecewa di dalam hatinya. Ia tidak bisa memungkiri kalau ia juga ingin dicium oleh lelaki itu.

“Jangan kecewa begitu. aku hanya akan menciummu kalau kau mengizinkanku.” Jelasnya sambil terkekeh, mengacak-acak rambut Hae In gemas.

“Dalam mimpimu Cho Kyuhyun! Urusi saja pekerjaanmu Manager Cho.” Hae In mengambil dokumen yang tergeletak di atas meja lalu menaruhnya di pangkuan Kyuhyun dengan sedikit keras, membuat Kyuhyun mengerang tertahan.

Gadis itu mengambil tasnya lalu berdiri. “Kau mau pergi?” nada kecewa terdengar jelas dari Kyuhyun, membuat Hae In tidak bisa menahan senyumnya. “Kau harus kembali bekerja Kyu. Aku akan pulang dan membuat makan malam.” Jelasnya lalu menggendong tas biolanya.

“Baiklah.” Desah Kyuhyun malas. “Sampai jumpa di rumah.”

Hae In mengangguk lalu beranjak keluar dari ruangan Kyuhyun. gadis itu sempat melambai sebelum menutup pintu, dan kemudian ruangan menjadi hening.

Kyuhyun menghela napas lalu menaruh dokumen di pangkuannya ke atas meja. Melihat ke arah tonjolan yang ada di celananya lalu tersenyum kecut. Ia hampir tidak bisa menahan diri saat hidungnya bersentuhan dengan Hae In, kalau Kyuhyun tidak menahan diri mungkin gadis itu sudah habis diciumnya. Mungkin bisa lebih dari itu. Dia hanya tidak mau mengambil resiko Hae In membencinya sebelum gadis itu mengatakan suka padanya.

“Aku harus membereskan masalah ini.” Kyuhyun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangannya. Mengunci pintunya rapat-rapat.

*****

Kyuhyun tidak bisa menahan senyumannya saat Hae In membukakan pintu dengan wajah yang segar. Rambutnya yang setengah basah menguarkan wangi lembut, gadis itu terlihat nyaman dengan celana rumahan sepanjang lutut dan juga kaos longgarnya.

Beberapa langkah saat memasuki rumah, Kyuhyun memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Merengkuh leher gadis itu dan menopang tubuhnya yang lebih besar di tubuh Hae In, seolah anak kecil yang meminta gendong di pundak ibunya.

“Kau berat Kyu!” protesnya tanpa berusaha melepaskan dirinya. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan Hae In berbalik menghadapnya. “Mandilah, kau terlihat sangat kusut hari ini.” Hae In melonggarkan dasi yang masih terpasang rapih di leher Kyuhyun. Mengambil jas yang disampirkan di bahu lelaki itu dan juga mengambil tas kerja yang sedari tadi digenggamnya.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu,eoh? Mengerikan.”

“Aku benar-benar ingin kau segera menjadi istriku.” Kyuhyun mencubit pipi gadis itu gemas. “Kau sangat terlihat cocok jika jadi istriku. Cepatlah suka padaku, eoh?” Hae In terdiam. Kyuhyun menepuk kepala gadis itu pelan lalu berjalan menuju kamarnya.

“Aku sudah suka padamu, bodoh.” Bisiknya parau dengan wajah yang memerah.

.

.

.

Setelah makan malam Hae In dan Kyuhyun duduk di ruang TV tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya suara TV yang terdengar mengisi keheningan di antara mereka berdua. Kyuhyun sibuk dengan laptopnya dan Hae In sibuk dengan kertas partiturnya, menuliskan sesuatu pada kertas itu kemudian kembali terdiam mempelajari partitur itu dengan sungguh-sungguh.

“Kau mau kemana?” sahut Kyuhyun saat Hae In beranjak dari sofa dengan biola di genggamannya.

“Aku ingin latihan sebentar di atas. Kenapa?”

“Latihan disini saja.”

“Kau tidak akan terganggu?” Kyuhyun menggeleng. “Baiklah. Kalau aku mengganggu kerjamu, bilang saja. Aku akan pindah ke atas.” Hae In mengambil selotip dan menempelkan kertas partitur itu di dinding sebelah sofa. Ia tidak punya stand partitur untuk meletakan kertas miliknya, jadi ia memutuskan untuk menempelnya di dinding. Ia tidak mau mengambil resiko pegal leher kalau ia harus menaruh kertas partiturnya di atas meja. bermain biola sambil menunduk itu tidak terdengar bagus.

Kyuhyun menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, menghadap ke arah Hae In dengan laptop di atas perutnya. Mengantisipasi permainannya saat gadis itu mulai menyangga biola di antara bahu dan mengamit dengan kepalanya.

“Kau memainkan lagu apa?” tanyanya penasaran.

“Beethoven Violin Sonata No. 5 Opus 24 –Spring. Sebut saja Spring, judulnya memang panjang.”

Nada yang tercipta dari gesekan biola mulai terdengar. Nada yang begitu ringan dan melompat-lompat terdengar begitu indah. Terkadang suaranya mengecil, kemudian kembali meninggi seiring dengan gesekannya yang cepat. Suara fibra yang menyenangkan dan melodi yang begitu hidup membuat Kyuhyun terhanyut. Jari lincah Hae In yang lincah bergerak-gerak di atas fingerboard, matanya terfokus pada kertas partitur di depannya. Tubuhnya bergerak seiring dengan nada yang dimainkannya, memejamkan mata ketika ritmenya turun perlahan, dan kembali membuka mata ketika nadanya kembali naik. Lagu yang begitu hangat dan ceria seperti musim semi.

Kyuhyun mengabaikan pekerjaan di laptopnya. Pemandangan di hadapannya sayang jika dilewatkan begitu saja. Tanpa sadar ia bertepuk tangan saat Hae In selesai memainkan biolanya.

“Permainanmu bagus. Aku yakin kau akan lulus audisi.” Ucapnya dengan nada bangga.

Hae In tersenyum tipis, “Aku banyak melakukan kesalahan. Permainanku belum sempurna Kyu.”

Kyuhyun memanggut, “Aku tidak mengerti biola, sih. Untuk orang awam sepertiku itu terdengar bagus.” Hae In terkekeh, “Ternyata General Manager yang sombong itu hanya orang awam, toh.” Ejeknya lalu kembali bermain biola, mengabaikan protes Kyuhyun yang berapi-api.

*****

Sepasang mata coklat terang mengamati kedatangan gadis itu dari kejauhan. Seperti sesuatu yang selalu dilakukan seperti bernapas, lelaki bermata coklat terang itu tersenyum memandangi gerak-gerik tubuh gadis itu.

Matahari musim semi pagi ini bersinar terang seolah menyorot kemanapun gadis itu berjalan. Ia selalu terkagum dengan kecantikan gadis itu yang sederhana. Bahkan hanya degan menggunakan kaos dan jeans gadis itu tetap terlihat mengaggumkan. Lelaki itu mendesah pelan ketika sosok gadis itu menghilang di balik pintu masuk gedung fakultas musik. Ia menenteng tasnya dan mulai melangkah mengikuti gadis itu.

.

.

Hae In sibuk mencari buku di loker miliknya. Buku musik Beethoven miliknya tidak ada di rumah, ia butuh buku itu untuk mata kuliah hari ini dan sepertinya akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan kalau ia menghilangkan buku itu. Harus membeli kembali buku yang harganya cukup menguras dompetnya, mendapat peringatan dari profesornya, dan mungkin gadis Barbie –Laura itu akan mengejeknya habis-habisan.

Aish, aku yakin terakhir kali melihatnya ada disini.” Gumamnya panik, tangannya terus bergerak mengacak lokernya berulang kali.

“Park Hae In?” sahut seseorang. Hae In sedikit memundurkan tubuhnya hingga kepalanya menyembul di balik pintu lokernya yang terbuka. Sosok yang baru pertama kali dilihatnya, lelaki tinggi dengan kulit yang sehat –tidak terlalu pucat dan tidak terlalu gelap, rambut coklat dengan swipe bangs nya yang teratur ke arah kanan memberi kesan ramah dan lembut kepada wajah khas Eropa itu.

“Y- Yes?” jawabnya dengan wajah bingung, Hae In menutup pintu lokernya dan berdiri berhadapan dengan lelaki itu.

“Ini milikmu?” mata Hae In membundar ketika melihat buku yang dicarinya ada pada lelaki itu. secara spontan gadis itu berjalan mendekati lelaki manis itu dengan gerakan cepat, mengambil bukunya dengan senyuman lebar di wajahnya.

“Ya, ini milikku! Terimakasih banyak!” serunya girang.

“Nathan.” Lelaki itu mengulurkan tangannya, Hae In sempat terdiam beberapa saat sebelum membalas uluran tangan lelaki itu. “Hae In. terimakasih telah menemukan bukuku.”

“Bukan masalah besar. Aku menemukannya tergeletak di meja kantin, lalu aku menemukan lokermu kemarin dan berniat mengembalikannya hari ini. kebetulan sekali kau ada di sini.”

Hae In menoleh ke arah lokernya, menyadari bahwa namanya terpampang disitu kemudian terkekeh, menertawai dirinya sendiri karena sempat bingung kenapa Nathan bisa menemukan lokernya. “Aku benar-benar berterimakasih padamu. Kalau buku ini hilang mungkin aku akan terkena masalah.”

“Senang bisa membantumu nona.” Hae In tidak bisa berhenti tersenyum karena terlalu senang, dan dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau Nathan sangat tampan dan senyum manisnya sangat menular hingga membuat orang lain juga ingin tersenyum.

Tiba-tiba bayangan Kyuhyun muncul di kepalanya. Senyum jahat lelaki itu menggentayangi pikirannya. Senyum sinis yang membuatnya berdebar tak karuan, senyum yang selalu membuatnya merasa tertindas, dan senyum yang penuh dengan keangkuhan dan pesonanya. Dan sekarang gadis itu mulai berdebar karena khayalannya sendiri, ia merasa Kyuhyun sudah benar-benar mengontrol dirinya secara psikologis.

“Hae In?” Nathan menggerakan tangannya di hadapan wajah Hae In. “Ah, maaf aku melamun.” Serunya dengan tawa hambar. “Sekali lagi terimakasih karena menemukan bukuku. Aku berhutang padamu.” Hae In melirik jam tangannya kemudian terkejut, “Kalau begitu akau duluan, aku sudah terlambat 3 menit. Thank’s, Nathan!”

Nathan melambaikan tangannya walaupun Hae In berlari memunggunginya. Senyuman manisnya masih tidak hilang dari bibir tipisnya.

*****

Hae In dan Janice menikmati makan siang mereka di kantin. Seperti biasa Hae In membeli sandwich tuna dan Janice memesan salad dengan jus buah. Hae In menceritakan kejadian tadi pagi saat ia bertemu Nathan, Janice menyimaknya dengan mata berbinar penasaran.

“Setahuku, Nathan itu cukup terkenal. Aku pernah mendengar namanya beberapa kali disebut oleh teman sekelas.” Komentar Janice ditengah kunyahannya. Hae In hanya mengangguk-angguk kecil lalu kembali menggigit sandwichnya. “Tidak aneh kalau dia terkenal, dia sangat tampan.”

Mata Janice berkilat nakal, “Ouh! Jadi apa nona dari Korea ini jatuh cinta pada pangeran dari negri Eropa yang menyelamatkan hidupnya tadi pagi?” godanya sambil tersenyum. Hae In tertawa cukup keras, “Kau berlebihan! Aku tidak jatuh cinta padanya. Aku kan hanya bilang kalau dia tampan, bukan berarti aku jatuh cinta nona Janice.” Hae In mengeluarkan buku partitur dari tasnya lalu menyodorkannya pada Janice.

“Daripada membahas Nathan, bagaimana kalau kita membahas tentang audisi orkestraku?”

Janice menyeret buku itu ke hadapannya sambil menyengir, “Baiklah, baiklah. Calon pianis dunia ini akan mengiringimu dengan permainan yang menakjubkan.” Hae In hanya menggeleng pasarah, “Terserahmu saja Janice. Tapi suatu kehormatan bagiku kalau kau benar-benar jadi pianis dunia suatu saat nanti.”

“Tentu saja! kau lihat saja 5 tahun kedepan aku akan menggelar konser tunggal dan –“

“Janice.” Potong Hae In. Janice hanya tersenyum tanpa dosa dengan memamerkan deretan giginya yang rapih, “Oke. Jadi kita mulai darimana?” lanjutnya segera sambil membuka buku partitur. Hae In kembali menggelengkan kepalanya dengan pasrah untuk kesekian kalinya.

Di sisa waktu makan siang mereka menghabiskan waktu dengan membahas duet mereka. berdiskusi apakah baiknya permainan itu dilakukan seperti lagu original atau sedikit diberi sentuhan pribadi. Hae In dengan serius mendengarkan saran dan juga penjelasan Janice, walaupun terkadang ia harus mengingatkan Janice karena pembahasan mereka beberapa kali melenceng dari topik utama, atau Hae In meminta Janice memelankan sedikit kecepatan bicaranya, karena gadis itu tidak bisa mencerna kalimat-kalimat tak berspasi dari Janice.

“Siang Ladies, apa aku boleh bergabung?”

Hae In dan Janice serentak menoleh ke arah sumber suara. Nathan datang dengan nampan di tangannya kemudian duduk di sebelah Hae In tanpa menunggu jawaban dari kedua gadis itu.

“Nathan?” Hae In menatapnya dengan wajah sedikit terkejut dan juga bingung.

“Hai, Hae In. Kau sudah makan siang?” Janice dan Hae In saling melempar tatapan, Hae In dengan tatapan bingungnya dan Janice dengan tatapan berbinarnya. “Eum, Hai. Aku Janice sahabatnya Hae In.”

“Aku Nathan.” Lelaki itu membalas uluran tangan Janice, kemudian tersenyum. “Senang berkenalan denganmu.” Janice mengangguk antusias dengan senyum tak hilang dari wajahnya. “Aku juga!” serunya semangat. Hae In mengulum senyum, rasanya ingin sekali ia memotret wajah Janice dan memperlihatkan tampang bodohnya kepada sahabatnya itu. Tampang Janice yang berbinar begitu menggelikan.

“Kalian akan berduet?” Nathan melirik ke arah buku partitur milik Hae In yang terbuka tepat di sampingnya. “Hae In akan mengikuti audisi Orkestra kampus, dan aku akan mendampinginya di audisi.” Jawab Janice cepat sebelum Hae In sempat membuka mulutnya untuk menjawab.

“Benarkah? Keren!” Nathan memalingkan wajahnya ke arah Hae In dengan senyum mematikannya. Hae In hanya membalasnya dengan tawa hambar, “Hahaha, biasa saja. lagipula belum tentu aku lolos.”

“Aku yakin kau pasti lolos.” Dengan santainya Nathan menaruh tangannya di atas tangan Hae In yang bertengger di atas meja dan menggenggamnya dengan lembut tanpa merasa canggung sama sekali. Dengan gerakan refleks Hae In menarik tangannya, kemudian melirik ke arah Janice dengan pandangan yang tidak nyaman. Janice yang melihatnya juga terdiam dan terkejut dengan sikap Nathan yang tidak terduga.

“Hae In, sudah jam segini. Kau ada kelas, kan?” sahut Janice. Hae In menatap ke arah Janice dengan tatapan bingung, kuliahnya hari ini sudah berakhir dan tidak ada kelas lagi. Hae In menangkap kedipan Janice dan kemudian mengerti.

“Ah, kau benar! Hampir saja aku lupa kalau ada kelas.” Hae In segera mengemasi barangnya ke dalam tas dengan tergesa. “Perlu ku antar?” tawar Nathan.

“Tidak terimakasih Nathan, aku bersama Janice.” Janice berdiri dan menyandang totte bag nya di bahu, “Tidak usah repot-repot Nathan. Kebetulan aku mau ke perpustakaan, nikmati saja makan siangmu. Kalau begitu, kami duluan.”

Hae In tersenyum kikuk ke arah Nathan lalu segera menyusul Janice yang sudah beberapa langkah meninggalkannya. Menyisakan Nathan yang masih memandangi punggung gadis itu yang menjauh dan semakin menjauh.

.

.

“Terimakasih Janice.” Janice memandang ke arah Hae In yang berjalan di sebelahnya. “Aku sedikit takut, jujur saja. Apa aku terlalu berlebihan karena culture shock? Itu sesuatu yang biasa kan disini?”

Janice terkekeh kemudian menggeleng. “Dia suka padamu Hae In, kelihatan sekali.” Hae In mendesah keras, “Janice, kumohon jangan mulai lagi.”

“Memangnya kau tidak senang kalau Nathan suka padamu? Hey, dia tampan sekali!”

Hae In menggeleng. “Aku baru bertemu dengannya tadi pagi, dan aku tidak punya alasan untuk merasa senang kalau dia benar suka padaku.”

Janice menghentikan langkahnya dan membuat Hae In juga ikut berhenti. “Jadi.. kau sudah punya kekasih, huh?” Janice mengerling nakal, dan Hae In terdiam dengan wajah kaku. “Tuh, kan! Kau sudah punya kekasih! Kenapa kau tidak cerita padaku sih?!” seru Janice dengan suara meninggi karena terlalu bersemangat.

“Tidak usah keras-keras Janice.” Hae In kembali berjalan, Janice segera mengikutinya. “Jadi benar kau sudah punya kekasih?” todong Janice dengan wajah cerah dan senyum jahilnya. Hae In hanya mendelik kemudian mengidikan bahunya, menutup mulutnya rapat-rapat walaupun Janice tidak pernah berhenti untuk berusaha mendapat jawaban darinya.

*****

Kyuhyun memijat pelipisnya, wajahnya kusut dan terlihat lelah. Bahkan dia tidak sadar kalau langit sudah berubah menjadi gelap. Ia menaruh pulpennya malas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menghela napas berat kemudian mengusap wajahnya frustasi. Pekerjaannya membuatnya menggila, saham perusahaannya sedikit menurun dan ia berusaha mengatasinya secepat mungkin.

Pintu kantornya diketuk, tak lama kemudian Rachel masuk dengan secangkir kopi di tangannya. Kyuhyun hanya meliriknya sekilas lalu kembali memejamkan matanya.

“Jangan terlalu memaksakan diri Marcus. Ini tidak segawat yang kau pikirkan.” Rachel mendekat lalu menaruh secangkir kopi dengan uap yang masih mengepul. “Kau tidak akan tahu kalau sesuatu yang kecil bisa menjadi besar dan menghancurkan semuanya.” Balas Kyuhyun masih dengan mata terpejam.

“Apa ada yang bisa kubantu?” Kyuhyun bisa merasakan Rachel berjalan mendekat ke arahnya, kemudian tangan Rachel mengelus pundaknya dari arah belakang kursi. “Ya.” Kyuhyun membuka matanya perlahan kemudian mendengus. “Keluar dari ruanganku akan sangat membantu.”

Rachel membatu. Kyuhyun berdiri kemudian mengambil ponsel dan memasukan beberapa dokumen ke dalam tasnya. “Ah, kau tidak perlu keluar, biar aku saja.” Kyuhyun memakai jasnya kemudian menoleh ke arah Rachel. “Selamat malam.”

Rachel tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun hingga Kyuhyun meninggalkan ruangannya. Matanya melirik tajam ke arah bingkai foto yang bertengger manis di atas meja kerja Kyuhyun. Menatap foto Kyuhyun dan Hae In yang tersenyum cerah di depan gedung Universitas Oxford. Rachel mengepalkan tangannya kesal, ia merasa ini tidak adil karena ia sudah lama berada di sisi Kyuhyun, sedangkan Hae In –gadis yang entah darimana asalnya datang begitu saja dan sudah menyandang status sebagai tunangan Kyuhyun. Rachel membalikan bingkai foto itu dengan kesal sebelum ia keluar dari ruangan Kyuhyun, membawa kopi buatannya yang sia-sia.

.

.

.

Kyuhyun mengerutkan keningnya begitu ia memasuki rumah. Ada suara asing di rumah ini, suara Hae In dan suara orang tak dikenal dari lantai dua. Mereka tertawa begitu keras dan heboh sekali, tanpa pikir panjang Kyuhyun menaiki tangga menuju keriuhan tawa itu.

Kyuhyun berdiri di anak tangga terakhir, mengamati Hae In dan seorang perempuan asing dengan rambut pendek coklat bergelombang. Entah apa yang mereka tonton, yang pasti itu membuat mereka berdua tertawa hingga terpingkal dan wajah mereka memerah, dan tidak sadar kalau sedaritadi Kyuhyun sudah berdiri di pinggir sofa.

“Tampaknya seru sekali.” Sahut Kyuhyun datar, dan seketika Hae In dan Janice berteriak karena terkejut. Wajah mereka yang memerah seketika pucat karena terkejut. “Tidak usah berteriak seperti itu, aku bukan hantu.”

“Kyuhyun! kau sudah pulang? Kau mengagetkanku saja!” Hae In berdiri menghampiri Kyuhyun kemudian tersenyum dengan wajah polosnya. “Ehem!” Janice berdehem dan membuat Hae In dan Kyuhyun menoleh ke arahnya secara bersamaan.

“Ah, ini teman yang waktu itu kuceritakan, Janice.” Janice berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Kyuhyun. “Hai, aku Janice salam kenal.” Kyuhyun balas menjabat tangan Janice, “Aku Kyuhyun. tapi panggil saja aku Marcus, salam kenal.” Janice mengulum senyum, ia tidak bisa bohong kalau ia terpesona oleh Kyuhyun.

“Jadi Marcus kau ini –“

“Tunangannya Hae In.” jawab Kyuhyun cepat, membuat Hae In memukul punggungnya cukup keras. Janice menganga, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kemudian ia menatap ke arah Hae In dengan tatapan penuh arti. “Kenapa kau harus menyembunyikannya dariku, Hae In?”

“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, Janice. Hanya saja –“

“Kami belum resmi bertunangan. Baru rencana saja, mungkin itu sebabnya dia tidak memberitahumu.” Potong Kyuhyun. Janice dan Hae In menatap ke arahnya secara bersamaan, Kyuhyun tersenyum miring kemudian menepuk kepala Hae In. “Gadis ini terlalu malu untuk membicarakan hal yang seperti itu, maklumi saja.” Hae In terdiam, masih menatap ke arah Kyuhyun.

Tanpa sadar Janice tersenyum melihat pemandangan manis yang baru pertamakali dilihatnya. “Baiklah, aku mengerti sekarang kenapa Hae In tidak tertarik sama sekali dengan lelaki tampan yang bertebaran di kampus.” Janice tersenyum jahil ke arah Hae In, “Ternyata dia sudah punya kekasih yang sangat tampan.” kemudian terkekeh. Hae In hanya membalas melotot kesal ke arahnya dengan wajah yang memerah. Hae In diselimuti rasa yang kompleks. Senang, malu, dan lega bercampur menjadi satu. Ia lega karena ia tidak perlu menjelaskan hubungannya rumitnya dengan Kyuhyun. Secara teknis, Hae In bukanlah siapa-siapa untuk Kyuhyun. Karena gadis itu tidak menolak atau mengiyakan pertanyaan Kyuhyun untuk menjadi tunangannya ataupun kekasihnya. Hubungan mereka menggantung begitu saja.

“Kalau begitu aku pamit. Tampaknya aku akan sangat mengganggu bila terlalu lama disini.” Janice membereskan barangnya kemudian mengerling nakal pada Hae In. “Aish..” umpat Hae In kesal sambil mengepalkan tangannya ke arah Janice seolah akan memukulnya.

See you, Marcus!” Janice pamit kemudian menuruni tangga. “Aku akan mengantarnya sebentar.” Hae In segera berjalan menyusul Janice.

Hae In berdiri di ambang pintu, memperhatikan Janice yang melilitkan Scraf warna salem di leher jenjangnya. “Bagaimana, kau sudah puas, kan? Jadi jangan merecokiku lagi dengan pertanyaan apakah aku sudah punya kekasih atau belum.”

“Sangat puas!” kemudian ia terkekeh, “Marcus sangat tampan dan tampaknya bisa dipercaya. Kalian terlihat sangat serasi.” Hae In tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar kalimat yang begitu tulus dari Janice. “Terima kasih, Janice.”

“Sampai jumpa besok!” Janice melambaikan tangannya lalu berjalan menjauh. Hae In tetap berdiri di ambang pintu sampai sosok Janice menghilang di belokan, kemudian gadis itu segera kembali ke dalam karena angin berhembus sangat kencang malam ini.

Kyuhyun baru saja turun dari tangga saat Hae In menutup pintu. “Tumben kau pulang selarut ini.” Hae In melirik ke arah jam dinding di dekat tangga, “Jam 10 malam. Sampai-sampai aku harus meminta Janice untuk menemaniku.”

Kyuhyun tersenyum miring, “Kau kesepian karena tidak ada aku, eoh?” Hae In menggeleng, “Jangan ge-er! Malam ini anginnya kencang sekali, jadi aku sedikit ketakutan.” Gadis itu bersedekap dengan wajah salah tingkah.

“Jangan mencoba berbohong kalau kau tidak bisa.” Kyuhyun terkekeh, “Wajahmu merah, bodoh.”
Hae In terdiam, tidak bisa membantah untuk kedua kalinya.

“Kau kusut sekali. Lebih kusut dari hari-hari sebelumnya.” Hae In berdehem kemudian mengambil tas kerja digenggaman Kyuhyun. “Yah, ada sedikit kekacauan di perusahaan.” Kyuhyun berbalik kemudian berjalan ke arah kamarnya sambil melonggarkan ikatan dasinya, Hae In mengikuti Kyuhyun di belakangnya.

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya begitu saja ke atas kasur, masih dengan baju kerjanya yang kusut. Tubuhnya remuk, dan matanya terasa begitu berat. Hae In menaruh tas kerja Kyuhyun di meja kerja kecil dan minimalis di sudut ruangan. Kemudian mendekat ke arah Kyuhyun, Hae In merasa khawatir karena Kyuhyun terlihat sangat lelah. Gadis itu berjongkok, melepaskan sepatu dan kaus kaki dari kaki Kyuhyun yang menjuntai ke lantai. Hae In merangkak naik, menepuk pelan pipi Kyuhyun dan menyuruhnya untuk duduk.

Dengan susah payah Kyuhyun duduk, bahkan lelaki itu tidak membuka matanya sama sekali. Hae In melepaskan satu persatu pakaian Kyuhyun dan hanya menyisakan celana yang dipakainya. Ia bisa merasakan pipinya menghangat saat melihat Kyuhyun bertelanjang dada di hadapannya. Mata Kyuhyun masih terpejam, kepalanya menunduk lunglai.

“Kau harus mandi dulu, baru tidur.” Hae In mengguncang bahu Kyuhyun pelan. Kyuhyun bergumam tidak jelas kemudian menjatuhkan tubuhnya ke depan, tepat kepada Hae In. Kyuhyun menggeliat pelan lalu memeluk tubuh Hae In. “Malas, aku ingin tidur saja.”

“Kau bau keringat Kyu. Ayo mandi!” Hae In menepuk-nepuk punggung polos Kyuhyun. Di sisi lain, Hae In merasa terlena dengan aroma tubuh Kyuhyun yang begitu memabukan, wangi parfum maskulin yang tercampur dengan keringat entah mengapa tercium sangat menggoda untuknya.

Kyuhyun membuka matanya perlahan di dalam dekapan Hae In, ia tersenyum tipis saat mendengar detak jantung Hae In yang tak beraturan. Mendapati fakta bahwa gadis itu berdebar karena dirinya sudah memusnahkan segala kerisauannya, ia sudah mendapatkan jawabannya.

“Aku akan mandi. Tapi kau harus menemaniku tidur malam ini. Bagaimana?” Kyuhyun menggeliat kemudian memeluk Hae In semakin erat. “Kau tidak akan macam-macam, kan?” Kyuhyun mengangguk. Hae In menghela napas, “Baiklah, kalau kau tidak akan macam-macam aku tidak keberatan. Cepat mandi.” Hae In mendorong bahu Kyuhyun hingga mereka kembali duduk berhadapan. Kyuhyun tersenyum dengan mata setengah terpejam, “Jangan tersenyum seperti itu, kau membuatku takut!” Kyuhyun terkekeh, dengan langkah ogah-ogahan ia masuk ke kamar mandi meninggalkan Hae In yang berdecak di atas tempat tidur.

.

.

Ketika Kyuhyun keluar dari kamar mandi keadaan kamar sudah remang, hanya lampu tidur di meja nakas yang menyala. Hae In yang sudah setengah tertidur sedikit tersentak ketika Kyuhyun tiba-tiba memeluknya dari belakang. Wangi segar menguar dari tubuh Kyuhyun, Hae In membalikan tubuhnya dan langsung bertatapan dengan Kyuhyun. Wajahnya sudah terlihat lebih segar, hanya saja lelah masih terlihat jelas di wajah Kyuhyun.

“Tidurlah, kau terlihat sangat lelah.” Hae In menarik selimut hingga batas dada mereka, kemudian kembali berbaring menghadap Kyuhyun. “Kau sudah bekerja keras.” Hae In merapikan rambut Kyuhyun yang sedikit berantakan, perlahan mata Kyuhyun terpejam. Hae In memandanginya untuk beberapa saat, mengagumi wajah Kyuhyun yang tidak pernah membuatnya bosan. Masih merasa tak percaya Kyuhyun mencintainya sedari 10 tahun yang lalu, bahkan sampai tumbuh menjadi setampan ini lelaki itu masih menjaga perasaannya. “Selamat malam, Kyu.” Perlahan matanya pun ikut terpejam.

Kyuhyun merengkuh tubuh Hae In, memangkas jarak yang kecil menjadi tidak ada sama sekali. Walaupun mata mereka terpejam tapi mereka belum terlelap. Hae In menaruh tangannya di dada bidang Kyuhyun, menikmati detak jantung yang beraturan dan membuatnya merasa nyaman.

Kyuhyun sedikit menurunkan tubuhnya, masih dengan mata terpejam tangannya bergerak perlahan menelusuri sisi tubuh Hae In, Kemudian mengelus pipi gadis itu lembut. Hae In dapat merasakan hembusan napas Kyuhyun di permukaan kulitnya, tanpa sadar ia meremas baju di bagian dada Kyuhyun ketika merasakan wajah Kyuhyun semakin mendekat padanya. Hae In menginginkannya, ia ingin Kyuhyun menciumnya.

Kyuhyun membiarkan matanya terpejam karena lelah, dan mengandalkan nalurinya untuk menyentuh Hae In. Bibirnya menyentuh dahi gadis itu, membiarkannya cukup lama berada disana. Kemudian meluncur turun menciumi hidungnya, bergeser ke kedua pipi, lalu dagu gadis itu. Kyuhyun dan Hae In sama-sama terdiam, kemudian Kyuhyun merasakan elusan lembut di dadanya. Perlahan Kyuhyun menaikan bibirnya, mengecup bibir bawah gadis itu pelan kemudian mempertemukan bibir mereka seutuhnya.

Kembang api meledak di dalam tubuh mereka, rasanya begitu membuncah hingga mereka sendiri tidak percaya apa yang terjadi. Kyuhyun melumat bibir Hae In perlahan, memperdalam ciuman mereka. Hae In merasa tubuhnya begitu lemas, tubuhnya panas seiring dengan lumatan di bibirnya yang semakin intens. Kyuhyun mulai menciumi Hae In dengan rakus, menelusupkan lidahnya tak sabaran. Kyuhyun mengelus tengkuk Hae In kemudian menariknya dan semakin memperdalam ciuman mereka. Hae In merasa frustasi karena ciuman Kyuhyun terlalu memabukan, tangannya bergerak gelisah mengelus rambut Kyuhyun dan sesekali menariknya.

Kyuhyun melepaskan ciumannya, mereka memasok kembali oksigen sebanyak yang mereka bisa. Perlahan Kyuhyun membuka matanya, begitu juga dengan Hae In dan pandangan mereka bertemu. Kyuhyun tersenyum, masih dengan napas yang terengah ia mengelus pipi Hae In lembut.

“Aku tidak akan pernah bosan mengatakan ini.” Kyuhyun menyingkirkan rambut nakal yang turun ke wajah Hae In. “Aku mencintaimu, sejak 10 tahun yang lalu.” Hae In mengangguk dan tersenyum tipis, ia tidak bisa menahannya lagi. ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi.

“Aku juga.” Seketika mulutnya terasa kering, tapi gadis itu terus melanjutkannya. Karena ia merasa tidak yakin bisa mengatakannya di lain waktu, selagi keberaniannya masih ada dia harus mengatakannya sekarang. “Aku juga mencintaimu,Kyu.” Ucapnya susah payah dengan wajahnya yang sangat merah.

Kyuhyun terdiam, seketika kepalanya terasa berputar sangat hebat. Kyuhyun tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia manampar pipinya sendiri, kemudian mencubitnya keras-keras, meyakinkan ia sedang tidak bermimpi.

“Coba kau ulangi sekali lagi.”

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun jelek!” Hae In mencibir sebal lalu mencubit perut Kyuhyun keras-keras karena kesal dan juga malu. “Aw! Aw!” Kyuhyun menggeliat kesakitan, sedetik kemudian ia kembali menghadap ke arah Hae In. Menangkup kedua pipi gadis itu dengan tangannya dan langsung menciumi gadis itu tak sabaran.

Hae In memukuli dada Kyuhyun tak sabaran, ia tidak siap dengan ciuman panas yang tiba-tiba seperti ini. “Akhirnya..” Kyuhyun melepas ciuman mereka, “Akhirnya kau jadi milikku, Hae In-ah.” Hae In mengurungkan niatnya untuk memukuli lelaki itu, wajah Kyuhyun yang terlihat begitu bahagia membuatnya tak bisa membuatnya menahan senyum. Hae In mengangguk lalu mencubit pipi lelaki itu pelan.

“Sekarang aku bisa tidur dengan sangat nyenyak.” Kyuhyun kembali memeluk tubuh Hae In.

“Ya, tidurlah. Kau harus kembali bekerja besok.” Kyuhyun bergumam kemudian perlahan memejamkan matanya. Walaupun rasa kantuknya hilang begitu saja, tapi tubuhnya terlalu lelah untuk bangun lebih lama.

“Selamat malam.”

.

.

.

tbc

:: halo! maaf ya aku baru sempet ngepost chapter 3, padahal udah selesai dari lama. karena kemarin aku lagi ada di luar kota, terus lagi sibuk kerja praktek juga, jadi pikirannya terpecah belah sana sini. maklum anak semester 6 @w@

maafkan kalo ada typo dan alur cerita yang makin gak jelas, semoga kalian terhibur baca cerita ini. jangan lupa tinggalkan jejak komen dan saran yak! ❤

Iklan

11 thoughts on “Brutal Lover – Chap.3

  1. Ya Ampuuunn… ini so Sweet banget…. akhirnya harapan Kyuhyun terkabul juga..yo..nikah yo..:D

    “Kau sangat terlihat cocok jika jadi istriku. Cepatlah suka padaku, eoh?” ah aku suka kata-kata itu..meleleh jadinya padahal kalo aku mah tanpa disuruh juga udah suka sama kamu Kyu..wkwkwk…

    btw apa Nathan akan jadi orang ketigakah? ah semoga aja konfliknya nanti ga berat2…;)

    part 4 nya semoga ga lama ya..^_^

    • halo sukhwi! 😀
      kkkk~ pesona Kyuhyun emang ga ada batasnya, bikin perempuan lupa diri :p
      bisa jadi iya, bisa jadi ngga. soalnya aku masih bingung si Nathan ini mau diapain *nah loh authornya aja bingung.
      makasih ya udah mau baca dan komen, aku usahakan ga bakal lama-lama ❤

  2. Aaa kyuhyunnya so sweet.. akhirnya hae in nyatain cintanya juga sama kyuhyun….
    Next onnie jangan lama lamaa💜💜💜

  3. Ahkk..
    Dasar TBC kamvrettt..
    Ganggu aja luu.. Orng lgi seneng” bcanye ehh mlah Tbc … Aishh..
    Thor cpetan lanjut yeahh…

  4. Ping-balik: Brutal Lover – Chap.4 | FanFiction World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s