Brutal Lover – Chap.2

brutal lover

Genre : NC17 | Romance | Slice of life | Drama

Disclaimer : cerita ini terinspirasi dari sebuah komik yang pernah saya baca. ceritanya sudah di rombak dan murni pemikiran Author. Please don’t Copy-Cat my story as you want.

©parknara

previous : 1


Kyuhyun menaruh minumannya di atas meja pendek di depan sofa kemudian kembali duduk menghadap Hae In. Gadis itu menatap Kyuhyun dengan pandangan takut dan juga tak percaya.

“Hae In-ah..” Kyuhyun menjulurkan kedua tangannya ke arah Hae In, membuat gadis itu refleks menutup kedua matanya rapat-rapat. Hae In merasakan telapak tangan Kyuhyun menangkup pipinya kemudian mengelusnya lembut. Perlahan Hae In membuka matanya dan mendapati Kyuhyun tersenyum tipis ke arahnya. Tidak ada tanda-tanda mengancam dari lelaki itu.

“Ini aku Hae In-ah. Kyuhyun yang suka menjambaki rambutmu dan memaksamu bermain.” Ucapnya dengan nada tenang dan lembut, walaupun kata yang terlontar berkebalikan dengan caranya berbicara. Hae In sempat terbius dengan suara Kyuhyun yang rendah dan tenang, sampai sedetik kemudian ia berteriak kencang.

“YAK! KYUHYUN!” Pekiknya nyaring. Kyuhyun menarik rambut Hae In untuk pertama kalinya setelah 10 tahun berselang. Kyuhyun melepaskan tarikan dari rambut Hae In kemudian tertawa. “Akhirnya kau memanggil namaku juga.” Kyuhyun menarik satu tangan Hae In kemudian membawanya ke dalam pelukan. Membuat Hae In kembali terdiam ditengah napasnya yang sedikit terengah.

“Aku merindukanmu, sungguh.” Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Dengan gerakan ragu Hae In membalas pelukan Kyuhyun, ia merasa jantungnya akan meledak sebentar lagi. “Aku tidak rindu padamu. Kukira setan kecil akan berubah, ternyata tidak.” cibirnya kesal.

Kyuhyun melonggarkan pelukannya, menatap Hae In dengan senyum miringnya yang terasa berbahaya. “Kau juga tidak berubah, nona penggerutu.”

Hae In mendesis sebal kemudian memukul dada Kyuhyun. “Cih, kalau segel iblis tidak terbuka mungkin aku tidak akan bertemu denganmu.” Gadis itu sedikit mendorong tubuh Kyuhyun kemudian kembali meluruskan duduknya, menghadap ke arah TV.

“Segel iblis?” Kyuhyun masih tetap dalam posisinya menghadap Hae In.

“Tongkat bisbol plastikmu. Begitu kau pergi langsung ku kubur dan kujadikan segel supaya kau tidak kembali. Tapi hari ini, sebelum aku pergi ke Inggris tongkat itu sudah tidak ada. Dirusak oleh anjingku dan ibuku membuangnya.” Hae In menghela napas pelan. “Dan segel iblis benar-benar terbuka. Aku bertemu kembali dengan iblis kecil itu ternyata.” Gadis itu menoleh ke arah Kyuhyun dengan bibir yang sedikit maju karena kesal.

“Kyaa –!”

Hae In terbaring di atas sofa, dengan tubuh Kyuhyun di atasnya. “Mau apa kau?” Hae In menahan dada Kyuhyun dengan tangannya. Kyuhyun tersenyum miring, dan kali ini membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Aura dingin mengelilingi Kyuhyun, dan Hae In mengutuk dirinya yang masih sempat-sempatnya terpesona karena Kyuhyun terlihat begitu tampan dan menggoda.

“Iblis kecil itu sudah tumbuh dewasa nona.” Kyuhyun merendahkan kepalanya dan membuat Hae In menolehkan kepalanya ke sebelah kanan dengan mata terpejam. “Dan aku akan mempermainkanmu layaknya orang dewasa.” Bisiknya tepat di telinga Hae In yang terekspos di depan wajahnya. Hae In mendesah tertahan ketika Kyuhyun menjilat telinganya tiba-tiba.

Hae In merasa akan segera gila karena Kyuhyun tumbuh menjadi lelaki yang luar biasa tampan dan menggoda. Ia takut dan juga kesal karena itu adalah Kyuhyun –teman iblisnya, tapi ia tidak bisa menahan pesona Kyuhyun yang terlalu menyilaukan.

Lumatan halus terasa di sekitar leher dan telinganya, tanpa sadar Hae In meremas kaos Kyuhyun dibagian dada. Tubuhnya bergerak gusar dan ia berusaha mati-matian menahan desahannya. “Kyuhyun..” rintihnya saat Kyuhyun mengecupi lehernya.

Tiba-tiba Kyuhyun menegakan tubuhnya dan menarik tangan gadis itu sampai terduduk. Pipi Hae In memerah, dadanya naik turun, matanya sedikit berair dan juga rambutnya yang acak-acakan membuat Kyuhyun menyumpahi dirinya sendiri karena membuat Hae In terlihat sangat menggoda.

Kyuhyun memegang kedua pipi Hae In dengan satu tangannya, membuat pipi gadis itu tertekan dan bibirnya sedikit manyun. “Apa perasaanku tidak tersampaikan?” Hae In merasakan tatapan mengerikan dari mata Kyuhyun.

“Untunglah kita bertemu disini. Sepertinya ini memang takdir kita Hae In-ah.” Kyuhyun terdiam sejenak, mengamati wajah Hae In yang terbengong ngeri. “Aku akan memperbaiki kisah cinta pertamaku –kita.”

Kyuhyun mendekatkan wajahnya, membuat ujung hidungnya bersentuhan dengan Hae In.

“Aku akan membuatmu benar-benar menyukaiku. Meski harus dengan kekerasan.” Kyuhyun tersenyum miring lalu menggigit pelan ujung hidung Hae In. Gadis itu memberontak dan berhasil melepaskan diri dari Kyuhyun.

“Kyuhyun jelek!” teriak gadis itu kesal lalu berlari menuruni tangga, dan tidak lama terdengar suara pintu ditutup cukup keras. Kyuhyun menghembuskan napas berat dan menyandarkan kepalanya pada sofa, menghadap ke langit-langit.

“Sial.” Desisnya geram. Ia mematikan TV kemudian turun menuju kamarnya.

.

.

Apa perasaanku tidak tersampaikan?

Aku akan membuatmu benar-benar menyukaiku. Meski harus dengan kekerasan.

Kata-kata tersebut berdengung dengan keras di pikirannya. Hae In membungkus tubuhnya dengan selimut dan meringkuk dengan pikiran dan jantungnya yang tidak karuan. Ia yakin wajahnya semerah tomat matang sekarang.

Kyuhyun membuatnya berdebar tak karuan. Bayangan Kyuhyun yang ada di atas tubuhnya kembali berputar. Suaranya yang rendah, tatapannya yang mematikan, tubuhnya yang besar, lengannya yang kekar,bibir hangat yang menyentuh permukaan lehernya  dan fakta bahwa Kyuhyun menyukainya. Atau lebih tepatnya masih menyukainya hingga saat ini membuatnya benar-benar merasa akan segera gila.

“Kyuhyun menyukaiku..” gumamnya lirih.

Hae In terus bergelut dengan pikirannya hingga ia terlelap karena tubuhnya sudah benar-benar lelah. Terlalu banyak hal yang mengejutkan di hari pertamannya di Inggris.

*****

“Pagi.” sapa Kyuhyun saat melihat Hae In melangkah gontai menuju dapur. Wangi sesuatu yang gurih menggoda perutnya untuk segera menuju dapur.

Hae In menatap Kyuhyun sejenak. Lelaki itu sudah berpakaian rapih dengan kemeja dan celana bahannya, celemek biru tua tergantung manis di depan tubuhnya. Melindunginya dari apapun di dapur yang dapat mengotori bajunya.

“Duduklah, sebentar lagi sarapan siap.”

Dengan patuh Hae In menuju meja makan, menaiki bangku tinggi dengan sedikit susah payah karena badannya masih terasa lemas. Hae In memandangi punggung Kyuhyun yang bergerak-gerak. Dan Hae In merasa gila karena ia membayangkan dirinya memeluk punggung tegap itu dari belakang.

“Kau ada kuliah Kyu?” Hae In sedikit berdehem karena suaranya serak. Ia memutuskan bersikap biasa saja karena Kyuhyun bersikap seolah kemarin tidak terjadi apa-apa.

Kyuhyun berjalan ke arah meja dengan dua buah piring besar di tangannya, menaruh piring besar berisi English breakfast di hadapan Hae In, kemudian berputar dan duduk di sebelah gadis itu.

“Aku sudah bekerja Hae In-ah.” Kyuhyun menusuk kentang lalu memasukannya kedalam mulut.
“Kerja? Bagaimana bisa? Kau tidak kuliah?” ucap gadis itu tidak terlalu jelas karena mulutnya penuh dengan sosis yang dikunyahnya.

“Otakku terlalu pintar dan tidak bisa berada terlalu lama di sekolah, tidak sepertimu.” Kyuhyun mengetuk pelan jidat gadis itu dan berhasil membuatnya memberengut kesal.

“Aku sudah menyelesaikan kuliahku dua tahun lalu. Yah, aku tidak pernah bisa lepas dari kelas akselerasi.” Ucapnya penuh dengan kebanggaan. Hae In mencibir sebal walaupun ia kagum dengan kepintaran otak iblis itu.

“Jadi, sekarang kau kerja dimana?” Hae In memasukan kacang panggang bersaus merah ke mulutnya, ia menggeram kecil karena merasakan festival yang meriah dimulutnya. Enak sekali.

“Kantor cabang perusahaan ayahku di Oxford. Yah, tidak terlalu jauh dari sini.” Kyuhyun tersenyum tipis melihat Hae In yang tidak bisa berhenti memasukan makanan ke dalam mulutnya. Pipinya yang bergerak naik turun membuatnya gemas setengah mati.

“Kau sudah mengurus administrasi kuliahmu?”

Hae In menggeleng, kemudian menelan makanannya sebelum ia mulai berbicara. “Aku bingung karena universitas Oxford begitu besar, aku belum tahu dimana letak fakultas musik. Mungkin besok atau lusa, setelah aku mempelajari peta.” Gadis itu kembali memasukan makanan ke mulutnya.

“Jam 1 siang kutunggu di depan rumah.”

Hae In menoleh ke arah Kyuhyun, menatapnya tak mengerti.

“Aku akan menemanimu mengurus administrasi dan berkeliling universitas Oxford. Jam 1 kau harus sudah siap di depan rumah, kalau tidak jangan harap aku akan menemanimu di lain waktu.”

Mata Hae In berbinar senang, bibirnya terangkat dan menyunggingkan senyuman lebar kepada Kyuhyun. “Benarkah? Terimakasih Kyuhyun!” serunya senang.

“Yak! Telan makananmu dulu baru bicara!” Kyuhyun mendesis sebal lalu memeriksa kemejanya apakah ada makanan yang mendarat di kemejanya. Hae In yang merasa senang hanya tertawa lalu melanjutkan makannya. Teriakan kembali terdengar ketika Kyuhyun menarik rambut gadis itu. Hae In menendang kaki Kyuhyun yang menggantung bebas dan begitu seterusnya. Waktu sarapan yang sangat berisik.

*****

Hae In tergeletak di atas sofa, matanya menatap acara talkshow yang entah siapa artisnya. Mungkin kalau Benedict Cumberbatch –aktor British favoritnya yang memerankan Sherlock Holmes TV series –sebagai bintang tamu, dia akan dengan senang hati menyimaknya.

Kyuhyun sudah pergi kerja dua jam yang lalu, waktu menunjukan pukul 10 dan masih ada beberapa jam sebelum jam 1 siang. Hae In mematikan TV lalu menuruni tangga menuju kamarnya, berniat untuk membereskan kamar dan juga barangnya.

Hae In membuka koper bajunya dan segera memindahkannya kedalam lemari, lalu ia mengambil satu kardus besar yang berisi bajunya yang lain. Jaket, mantel, dress untuk keperluan formal , baju rumahan dan baju lainnya ada di kardus itu. Hae In menyusunnya dengan rapih dan seteratur mungkin, membedakan tumpukan baju untuk rumahan dan baju berpergiannya.

Hae In terperangah saat menyusun pakaian dalamnya. Pakaian dalam yang dibawanya hanya sedikit, dan Hae In merasa tidak betah jika tidak menggantinya minimal dua kali sehari. Hae In menghela napas, tidak ada jalan lain selain meminta Kyuhyun untuk menemaninya ke pusat perbelanjaan terdekat.

Hae In menyusun kosmetiknya dengan rapih di meja rias. Ia tidak terlalu suka berdandan, tapi setidaknya ia punya beberapa peralatan make-up dasar untuk acara-acara tertentu. Hae In membiarkan dua kardus besar berisi peralatannya tetap tertutup untuk sementara. Ia harus segera bersiap karena –yah, perempuan sedikit membutuhkan waktu lebih untuk bersiap-siap.

.

.

.

Hae In sibuk mondar-mandir di kamarnya. Mengambil ponselnya di meja rias, dompetnya di meja nakas, kameranya yang dicas didekat meja rias, dokumen universitasnya dan barang-barang keperluannya yang tercecer di kamar.

“Oh, iya. Payung!” sahutnya saat berjalan menuju pintu keluar. Ia kembali berlari ke kamarnya dan memasukan payungnya ke dalam tas selempangnya. Kyuhyun mengingatkannya untuk membawa payung karena terkadang cuaca disini tidak bisa di prediksi.

Hae In sedikit menyipitkan matanya saat keluar dari pintu, matahari siang ini cukup cerah dan cuacanya bersahabat. Hae In memandangi daerah sekitarnya, karena kemarin ia sampai disini saat hari sudah gelap, ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.

Hae In benar-benar suka dengan lingkungan barunya, Semuanya begitu rapih dan tertata. Walaupun di negara asalnya semua begitu rapih dan terorganisir, tapi kota yang tidak jauh dari London ini memiliki perasaan yang lain. Semuanya terlihat sangat klasik.

Kyuhyun tertegun dari tempatnya. Tanpa sadar langkahnya melambat saat melihat sosok Hae In yang menunggunya di depan pintu. Sweater rajutan tipis berwarna abu yang sedikit kebesaran di tubuhnya, celana jeans dongker yang mencetak setiap lekuk kakinya, sepatu Converse hitam yang mulai kumal, rambut panjang kecoklatan yang dikepang longgar lalu disampirkan di sebelah bahunya, semuanya terlihat indah dimata lelaki itu.

Hatinya membuncah bahagia karena gadis yang disukainya tetap terlihat sangat cantik walaupun menggunakan baju yang sederhana.

“Kyuhyun!” sadar dari lamunannya, Hae In melambaikan tangan dengan antusias ke arahnya. Gadis itu berlari kecil menghampirinya yang terdiam di sisi totoar, tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyuman tipis. Dulu gadis itu sering berlari ke arahnya kalau ingin memperlihatkan sesuatu yang disukainya.

“Ayo kita berangkat!” serunya antusias.

“Kau senang, huh?” Kyuhyun membalikan tubuhnya kemudian mulai berjalan, Hae In menyusul dan menyeimbangkan langkahnya.

“Tentu saja, ini pertama kalinya aku di luar negri. Bersikap baiklah sedikit padaku.” Hae In memukul punggung Kyuhyun kesal. Kyuhyun tertawa kecil lalu meraih tangan Hae In dan menggenggamnya. Hae In terdiam seketika, protes yang akan dilontarkannya hilang begitu saja ketika merasakan kehangatan Kyuhyun di telapak tangannya.

“Jangan jauh-jauh dariku. Dan ingat rute perjalanan ini baik-baik, aku tidak mau menjemputmu kalau kau tersesat.”

“Cih, memangnya aku anak kecil.” Hae In meremas tangan Kyuhyun yang menggenggamnya, ia sempat menyesal karena tadi jantungnya sedikit berdebar.

“Kita naik bis dari sini. Ayo naik tangga yang benar ya, kalau tidak nanti jatuh.” Kyuhyun menuntun Hae In menaiki tangga bis seperti anak kecil.

“Kyuhyun!” pekiknya kesal, lelaki itu terkikik kemudian membayar ongkos bus. Hae In mengekori Kyuhyun yang naik ke tingkat dua bis. Hae In tidak bisa menahan kekagumannya sesampainya ia di atas bis double decker tersebut. Perlahan bis bergerak dan angin semilir menyapunya dengan lembut.

“Ini keren sekali!” pekiknya senang. Hae In merogoh tasnya dan mengeluarkan kamera, memotret apapun yang menurutnya menarik dari atas bis. Kyuhyun duduk tak jauh dari Hae In dan hanya tersenyum melihat reaksi Hae In yang begitu menggemaskan, ia membiarkan gadis itu menikmati pengalaman pertamanya menaiki bis tingkat dua berwarna merah ini.

Hae In memotret kedai pinggir jalan yang terlihat indah, bangunan bergaya eropa klasik terlihat di manapun, terlihat megah, klasik, menawan dan misterius secara bersamaan. Ia membayangkan akan semegah apa kampusnya nanti. Hae In memutar tubuhnya ke kanan, bermaksud untuk mengambil gambar di sebelah sana. Sejenak ia terdiam mengamati layar pada kamera poketnya, lensa kameranya menangkap sosok Kyuhyun yang duduk dengan tenang. Menopang kepalanya dengan tangan kanannya yang tersandar di bagian pinggir bis. Fitur wajah Kyuhyun benar-benar terlihat menawan jika dilihat dari samping, lagi-lagi Hae In jatuh dalam pesonanya. Perlahan ia menekan tombol kameranya dan memotret Kyuhyun diam-diam.

“Kau memotretku, ya?” tuduh Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya.

“Cih, jangan ge-er kau. Aku memotret gedung yang ada di belakangmu, kau menghalanginya.” Sanggah Hae In berusaha menutupi. Gadis itu berjalan mendekati Kyuhyun bermaksud untuk duduk di sampingnya. Bis berbelok dan keseimbangan di tubuhnya hilang. Hae In jatuh tersungkur ke pangkuan Kyuhyun dengan setengah tubuhnya yang terduduk di atas bangku sebelah Kyuhyun.

Hae In langsung menarik tubuhnya, ia merasakan pipinya menghangat karena mencium aroma tubuh Kyuhyun yang begitu maskulin. “Kalau kau ingin dipangku bilang saja, aku tidak keberatan.” Kyuhyun menepuk-nepuk pahanya dengan senyum jahil di wajahnya.

“Tadi bis nya berbelok! Lalu tiba-tiba aku limbung dan –“

“Kau tidak usah malu-malu seperti itu. Kau menyukainya kan?” potong Kyuhyun masih dengan senyuman jahil di wajahnya.

“Oh, sepertinya aku benar. Wajahmu memerah.” Kyuhyun mencubit pipi Hae In lalu tertawa mengejek, membuat gadis di sampingnya kesal dan malu secara bersamaan.

“Kyuhyun jelek!”

.

.

.

Hae In terperangah saat berjalan memasuk kawasan Universitas Oxford. Mulutnya tidak bisa menutup karena terlalu kagum dengan keindahan kampus antik itu. Ia menepuk-nepuk pipinya, merasa tak percaya ia benar-benar akan kuliah disini.

“Heh, bodoh. Cepat ikuti aku atau kutinggal.” Hae In mempercpat langkahnya tanpa protes dengan panggilan bodoh, ia terlalu mengaggumi tempat itu sekarang.

“Kau mungkin sedikit bingung karena luasnya universitas dan juga tidak ada kampus yang terpusat seperti kebanyakan kampus di Korea atau negara lain.” Hae In menoleh ke arah Kyuhyun, tertarik dengan penjelasannya.

“ Universitas Oxford terbagi dalam beberapa College dan tersebar di pusat kota ini. Beberapa College ada yang tertutup untuk umum dan beberapa College juga punya jam buka yang berbeda.”

Gadis itu mengangguk-angguk mengerti, matanya benar-benar dimanjakan dengan bangunan kampus yang berbentuk kastil tua ala kerajaan. Terlalu indah untuk menjadi sebuah Universitas, pikirnya.

“Hey, Itu tempat syuting Harry Potter kan?” Hae In menunjuk ke sebuah halaman rumput luas dengan gedung belakang yang sangat familiar. Kyuhyun mengangguk, “Kalau nanti ada waktu luang aku akan mengajakmu untuk ikut tour mengelilingi kampus Oxford. Kau akan diajak berkeliling ke tempat-tempat yang dijadikan lokasi syuting Harry Potter.”

Bola mata Hae In mengilat semangat, “Benarkah? Keren!” serunya girang. Saking antusiasnya, gadis itu tidak sadar kalau sedari tadi dia mendekap lengan Kyuhyun. Terkadang menggoyangnya karena terlalu bersemangat juga senang. Kyuhyun membiarkannya dan tidak berusaha menggoda gadis itu karena memeluk lengannya, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Setelah melihat peta Universitas, Hae In dan Kyuhyun menuju ke tempat fakultas musik. Mereka memilih untuk berjalan kaki walaupun jaraknya cukup jauh. Kali ini mereka bergandengan tangan, sesekali Hae In mengayunkan tangan mereka karena senang. Matahari hari ini sangat hangat, pohon-pohon hijau menyejukan mata, keramaian para turis yang mengunjung Universitas Oxford, semuanya terasa menyenangkan.

Hati gadis itu menghangat bersamaan dengan genggaman di tangannya. Ia mengakui kalau Kyuhyun sudah berubah menjadi sedikit lebih baik dibanding saat mereka anak-anak dulu. Walaupun sifat jahil dan mulut jahatnya tidak berubah, ia mulai melihat Kyuhyun sebagai lelaki yang membuat jantungnya berdebar menyenangkan. Mungkin efek dia tinggal di negara gentleman ini, membuat sikapnya begitu menyenangkan dilihat. Walaupun hanya sesekali.

.

.

.

Selesai mengurus segala keperluan kuliahnya, Kyuhyun mengajak Hae In makan siang. Wajah gadis itu sudah tertekuk karena lapar. Mereka mencari pintu keluar area kampus yang terdekat lalu menyetop taksi.

Sepanjang perjalanan Hae Intidak pernah melepaskan matanya dari pemandangan di luar sana. Berpikir, betapa menyenangkan melihat pemandangan gedung-gedung tua di sekelilingnya setiap hari. Ia merasa lebih menyukai kota ini dibanding London.

“Hey, kita sudah sampai.”

Hae In terkesiap, Kyuhyun sudah keluar dari taxi dan menunggunya di luar sambil memegang pintu taxi. Hae In mengucapkan terimakasih lalu buru-buru keluar. “Lapar membuatmu tampak lebih bodoh daripada biasanya.” Kyuhyun membalikan tubuhnya, berjalan mendahului Hae In dengan langkah santai. Dibelakangnya, Hae In mengumpat tanpa mengeluarkan suara. Membuat gerakan seolah mencekek leher lelaki menyebalkan di depannya.

Wangi masakan tercium begitu mereka memasuki area tempat makan. Dengan patuh Hae In mengikuti Kyuhyun yang berjalan ke tempat duduk di dekat jendela. Hae In mengedarkan pandangannya, restoran ini tidak besar dan hanya seukuran Cafe yang biasa ia datangi di dekat kampusnya dulu. Suasananya begitu tenang , suara orang yang mengobrol dan dentingan alat makan pun terdengar samar-samar. Musik Jazz mengalun merdu dari speaker yang tertempel di dinding-dinding restaurant. Suara musik itu entah mengapa terasa nyaman di telinga, seperti diputar dari piringan hitam.

“Kau mau makan apa?” lagi-lagi Kyuhyun membuyarkan lamunan Hae In. Gadis itu menoleh ke arah buku menu lalu membukanya dengan semangat. Bibirnya bergerak pelan menggumamkan satu persatu menu yang tertangkap oleh matanya.

“Karena aku sedang ada di Inggris, aku akan memesan Fish and Chips. Dan, um..” Hae In membuka lembaran menu minuman. “English Tea.” Hae In menutup buku menunya lalu menaruhnya diatas meja dengan sebuah senyuman lebar.

Kyuhyun menyebutkan pesanannya kepada pelayan yang sedaritadi menunggu. Perempuan pirang dipertengahan 20an itu tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada Kyuhyun, dan Hae In melihatnya dengan sangat jelas. Pelayan itu merendahkan tubuhnya, seolah Kyuhyun menyebutkan pesanannya dengan suara yang berbisik. Belum lagi kancing kemejanya yang entah sengaja atau tidak disengaja dibiarkan terbuka begitu saja dan memamerkan belahan dadanya yang padat –plus, bagian atas bra yang berenda terekspos dengan indahnya. Pelayan itu juga selalu mencuri-curi pandang ke arah Kyuhyun dan membuat Hae In merasa tidak suka.

Hae In mengamati wajah Kyuhyun. Dan lelaki itu menyebutkan pesanannya sambil sibuk membolak-balik buku menu –tanpa melirik ke arah belahan dada pelayan itu.

“Itu saja, terimakasih.” Kyuhyun mengembalikan buku menu tanpa menoleh ke arah pelayan, membuat wanita pirang itu menampilkan wajah kecewa dan berjalan menjauhi mereka berdua.

“Kenapa kau melihatku seperti itu.”

Hae In terkesiap, menyelipkan rambutnya kebelakang telinga dengan salah tingkah. “Aku –hanya eum..” gadis itu berdehem lalu membuang pandangannya ke arah jendela. “Aku hanya heran karena kau tampaknya tidak tertarik dengan pelayan itu.” Kyuhyun terdiam sejenak lalu tertawa.

“Astaga.” Kyuhyun kembali tertawa, Hae In menoleh ke arahnya dengan pandangan sebal. “Aku juga heran padahal dia cantik, mata hijaunya cantik sekali, tubuhnya juga seksi, apalagi renda di branya terlihat menggoda sekali.” Kyuhyun mengatakan itu di sela-sela tawanya yang tak kunjung reda.

“Jadi kau melihatnya?!” sembur Hae In dengan gebrakan di meja mereka.

“Mana mungkin aku melewatkan pemandangan bagus. Dadanya bagus sekali, beda jauh denganmu.” Hae In melihat ke arah dadanya lalu bersedekap dengan wajah kesal. Kyuhyun makin terpingkal melihat Hae In dengan wajah merajuk yang lucu.

Di tengah riuhnya obrolan mereka, pelayan pirang tadi kembali datang menyajikan makanan. Hae In menatap tidak suka ke arah perempuan pirang yang melempar senyum terbaiknya ke arah Kyuhyun, sedangkan saat menaruh pesanan dihadapannya perempuan pirang itu membalas menatapnya tak suka. Pelayan itu mengucapkan permisi dengan nada centil ke arah Kyuhyun lalu kembali pergi menjauh.

Heol!” dengus Hae In sebal lalu menusuk kentang gorengnya dengan garpu. Kyuhyun masih tertawa di sela kunyahannya.

“Astaga!” pekik Hae In lalu memasukan potongan ikan berbalut tepung roti ke mulutnya, “Ini enak sekali!” dengan tidak sabaran ia memasukan 2 buah kentang goreng ke mulutnya, mengunyahnya bersamaan dengan ikan Cod yang terasa begitu nikmat di mulutnya.

“Enak?”

Hae In mengangguk semangat. “Beda sekali dari yang pernah kumakan di Korea, ini benar-benar rasa Inggris!” gadis itu kembali memasukan makanan dan menggeram bahagia karena di dalam mulutnya benar-benar ada festival yang meriah.

“Kau mau coba?” Kyuhyun menyodorkan garpunya yang terlilit spageti saus putih. Hae In memajukan sedikit kepalanya dan melahapnya, tak lama Kyuhyun kembali mendengarkan geraman bahagia gadis itu. Hae In balas menyuapi Kyuhyun dengan makanannya. Mudah sekali mendamaikan gadis ini, pikir Kyuhyun.

“Eum, Kyu.” Kyuhyun menatap ke arah gadis itu. “Wae?”
“Tolong temani aku ke departemen store, aku harus membeli beberapa baju. Kau mau, kan?” lelaki itu mengangguk dan Hae In bernapas lega, ia pikir Kyuhyun akan menolaknya mentah-mentah. Dan yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana caranya supaya Kyuhyun tidak membuntutinya ke toko pakaian dalam saat disana nanti.

*****

“Kau mencari pakaian apa sih? Daritadi kita hanya berputar-putar di sini.” Kyuhyun mengikuti Hae In yang ada di depannya beberapa langkah dengan tangan bersedekap di depan dada. Hae In tidak menyahut, ia sudah menemukan toko pakaian dalam di lantai ini dan sekarang dia bingung bagaimana caranya masuk kesana tanpa ketahuan dan dibuntuti Kyuhyun.

Hae In berbalik tiba-tiba dan membuat Kyuhyun hampir menubruk tubuh pendeknya. “Kyu aku haus, belikan minum untukku ya? Aku akan menunggumu disini.” Gadis itu mengeluarkan wajah memelasnya, dengan kedua tangan terkepal di bawah dagunya dan tatapan memohon.

“Malas, ah.”

“Ayolah, kumohon. Kakiku pegal sekali jadi aku tunggu disini, ya ya ya?” Hae In mendekatkan tubuhnya pada Kyuhyun, mendesak lelaki itu supaya merasa kasihan padanya. Kyuhyun mendesah keras, kalau ini bukan tempat umum dia akan menerkam gadis itu segera.

“Oke, oke. Tunggu disini, jangan kemana-mana.”

Roger!” Hae In memberi hormat kepada punggung Kyuhyun yang mulai menjauh.

Setelah Kyuhyun hilang di balik dinding Hae In segera melesat ke toko pakaian dalam yang ada di depannya, masuk dengan tergesa sampai membuat beberapa pegawai toko terkejut. Keadaan toko saat itu sedang sepi, hanya ada Hae In yang panik memilih dan dua pegawai toko yang sedang bertugas. Satu di belakang kasir dan satu lagi sedang merapikan tumpukan pakaian dalam di salah satu sudut toko.

Gadis itu bingung dan semakin panik karena model pakaian dalam di sini membuatnya sedikit terkejut. Ia menoleh ke arah pintu,memastikan Kyuhyun belum datang. Ia harus cepat-cepat membeli karena ia tidak mungkin mengajak Kyuhyun berkeliling dan menyuruhnya untuk membelikan sesuatu lagi.

Hae In bergerak menuju rak yang berada di tengah, bersebrangan dengan pintu masuk. Sesekali ia melihat ke arah pintu, dan tangannya bergerak gelisah melihat tag harga yang akan langsung membuat uang sakunya habis. “Apa aku salah masuk toko? Ini mahal sekali!” umpatnya pelan. mata dan tangannya terus bergerak mencari pakaian dalam dengan model dan harga yang seminimalis mungkin.

“Aku lebih suka yang ini.”

Hae In mematung di tempatnya, suara Kyuhyun. “Kurasa yang ini cocok untukmu. Lihat renda ini manis sekali.” Hae In merasa sendi lehernya berkarat hingga terasa sulit sekali untuk menoleh ke arah Kyuhyun. Lelaki itu tersenyum miring, dengan kilat mata jahil disana.

“Pantas kau gelisah sekali dari tadi, ternyata mau beli pakaian dalam eoh?”

“Diam kau!”

“Tapi aku serius yang ini bagus sekali, Kau beli yang ini saja.” Kyuhyun menaruh satu pasang pakaian dalam berwarna putih dengan aksen renda pada bagian bra pada tangan Hae In.

“Yang ini juga bagus.” Kemudian satu pasang pakaian dalam berwarna hitam polos dengan bra berbelahan dada rendah. “Apa kau suka memakai yang kaitannya ada di depan? Warna merah ini seksi sekali, loh.” Lagi, menaruh satu pasang di tangan Hae In.

“Kau seperti maniak.”

“Kau butuh lumayan banyak pakaian dalam kan? aku akan membelikannya. Ukuranmu berapa?”

“Kau benar-benar maniak, semangat sekali membicarakan hal seperti itu.” Kyuhyun terkekeh. “Aku ini lelaki Hae In-ah, wajar jika aku memiliki ketertarikan lebih pada hal seperti ini.”

“Ketertarikan lebih pada hal seperti ini? Kau suka pakai pakaian dalam wanita?” Hae In membuat wajah terkejut yang di buat-buat.

“YAK –!” Hae In segera membungkam mulutnya sendiri saat tiba-tiba Kyuhyun menarik rambutnya, Membuat tubuh mereka berdekatan satu sama lain. “Kau mau beli tidak? Aku akan membelikannya untukmu, jadi jangan protes dengan apa yang aku pilihkan. Kalaupun tidak mau aku juga tidak keberatan kalau kau tidak memakai pakaian dalam di rumah, aku lebih suka itu.”

Wajah Hae In memanas saat Kyuhyun berbicara dengan nada rendah tepat di telinganya. Astaga Hae In, Apa kau sudah berubah menjadi gadis mesum sekarang? Mendengar suara rendahnya membuatmu ingin menelanjanginya dan menerkamnya sekarang juga? Kau benar-benar gadis mesum!,Teriaknya frustasi dalam hati.

“Mau atau tidak? Aku tidak segan-segan akan menelanjangimu saat di rumah nanti.” Kyuhyun menghembuskan napas tepat di telinganya, membuat Hae In bergidik geli dan menimbulkan reaksi panas di tubuhnya.

“Aku mau Kyuhyun. Aku mau! Jadi pilih sesukamu dan lepaskan rambutku!”Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan lalu melepaskan cengkramannya pada rambut Hae In.

“Dengan senang hati.” Sahutnya senang lalu mengambil macam-macam model pakaian dalam yang membuat Hae In tak berhenti membelalakan matanya. Bahkan beberapa ada yang berbahan transparant, tampaknya Kyuhyun mengambil lingerie.

Gadis itu hanya menghembuskan napas pasrah sembari memegang minuman yang Kyuhyun beli, sedangkan lelaki itu dengan asiknya memilih pakaian dalam yang ia suka.

“Dasar maniak.”

*****

Sudah 4 minggu sejak Hae In tinggal di Oxford. Hae In mulai membiasakan diri dengan ritme orang Eropa yang begitu cepat saat berjalan dan juga bergerak. Tidak heran jalan mereka cepat, badan mereka tinggi dan kaki mereka panjang. Bahkan seringkali Hae In tidak sengaja ditabrak oleh orang lain karena badannya yang kecil.

Karena ia tidak bisa berjalan cepat, ia memilih untuk memanfaatkan badannya yang kecil untuk berjalan di sisi dalam trotoar. Badannya yang kecil bisa dengan mudah menghindar dari orang yang tidak melihatnya.

Hae In berjalan santai menuju kelasnya, musik mengalun menyenangkan dari earphone yang menempel di telinganya. Hari ini kuliah umum dengan pemain alat musik lain, mata kuliah yang sangat di tunggu-tunggu olehnya tiap minggu. Karena di hari lain ia hanya belajar bersama pemain alat musik gesek lainnya. Ia punya obsesi khusus dengan suara Oboe. Menurutnya, suara dari Oboe seperti membawanya ke negri dongeng. Seolah menjadi putri dongeng yang berdansa di ballroom megah dengan seorang pangeran.

DUK!

“Hey, Watch out!” Sentak seseorang saat tubuhnya bertubrukan dengan Hae In. Gadis berambut pirang panjang, bermata biru, dan memulas bibir cantiknya dengan lipstik pink –gadis Barbie, sebutan Hae In untuknya.

“Maaf Laura, aku tidak sengaja.” Sahut Hae In datar, dan gadis barbie itu melengos dengan wajah sinis. Berjalan dengan langkah berisik dari sepatu haknya, diikuti dengan 3 orang pengikut setianya. “Cih, kau yang menabrak ku, pirang.” Gumamnya pelan.

Hae In tidak tahu pasti apa yang membuat gadis Amerika itu selalu sinis padanya. Tipikal gadis blonde Amerika yang sinis dan sangat bossy, persis seperti yang ia lihat di film-film Amerika. Kau, gadis cupu dan tidak menarik. Sedangkan Laura –si gadis Barbie yang cantik dan populer dengan beberapa pengikut setia yang tingkat kecantikannya berada sedikit dibawah sang ketua. Ya, Laura populer karena tingkahnya yang menyebalkan dan suka mencari perhatian.

Hae In memasuki ruang kelas yang berundak. Ia memilih duduk di barisan tengah seperti biasa, tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh untuk melihat papan tulis.

“Boleh aku duduk disini?” Hae In menoleh, perempuan berambut coklat dengan senyum menyenangkan.

“Oh, tentu saja.” Hae In memindahkan tas biolanya dari kursi yang akan di duduki perempuan itu.

“Janice.” Hae In sempat terdiam beberapa detik sebelum menyambut uluran tangan gadis itu.

“Park Hae In.” Hae In ikut tersenyum saat melihat Janice tersenyum. Senyum gadis itu manis sekali, pikirnya.

“Aku selalu penasaran denganmu. Kau selalu terlihat sendiri dan misterius, dan karena kau juga–“

“Orang Asia?” sela Hae In. Janice terdiam sesaat, “Kuharap kau tak tersinggung.” Hae In tertawa sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah. “Tidak, tidak sama sekali. Senang berkenalan denganmu.” Janice tersenyum.

Keriuhan di kelas mereda saat Profesor memasuki kelas. “Selamat pagi.” sapanya dengan tenang sambil menaruh beberapa berkas di mejanya. Ucapan salam balasan dari murid terdengar seperti paduan suara yang sumbang.

“Sebelum kita mulai, aku akan memberi tahu pengumuman penting.” Wanita berambut coklat keabuan tersebut memakai kacamatanya.

“Sebentar lagi fakultas kita akan mengadakan festial musik tahunan. Dan audisi untuk Orkestra akan di buka minggu depan. Kalian bisa meminta formulirnya padaku setelah mata kuliah ini selesai.” Suasana berangsur riuh dengan bisik-bisikan mahasiswa satu dengan yang lainnya.

“Kau harus ikut! Festival ini bergengsi sekali. Kau tahu, masuk ke dalam Orkestra yang akan tampil di festival musik kampus itu rasanya mugkin akan sebanding dengan menjadi Rihanna. Yeah, Shine bright like a Diamond.” Hae In terkekeh geli mendengar penjelasan Janice.

“Kau ikut juga tidak?”

“Hmm, entahlah. Pemain Piano sepertiku kurang dibutuhkan dalam Orkestra, kecuali kalau mereka mau menampilkan konser Piano sih tentu saja aku mau ikut audisi.” Janice menepuk bahu Hae In. “Kalau kau butuh pendamping Piano untuk audisi nanti, aku siap membantu.” Hae In membelalak senang, setelah 4 minggu berada disini akhirnya ada seseorang yang mau berkenalan dengannya, bahkan dengan baik hatinya menawarkan bantuan yang sangat tak ternilai harganya bagi gadis itu.

“Janice, kau benar-benar seperti malaikat. Terima kasih!” Hae In menggenggam kedua tangan Janice dengan erat. “My pleasure, Hae In.”

.

.

.

.

Pukul 2 siang, cuaca berawan dan berpotensi akan turun hujan. Hae In dan Janice duduk berhadapan di meja panjang kantin. Setelah berkenalan mereka memutuskan untuk lebih sering bertemu dan menjadi teman walaupun berbeda konsentrasi kuliah. Hae In biola dan Janice Piano.

Suara riuh terdengar dari pintu masuk kantin, membuat seisi kantin menengok ke arah sumber suara.

“Bisa tidak sih sehari saja mereka diam?” umpat Janice melihat Laura dan anak buahnya tertawa berlebihan sambil berjalan bak penguasa. Hae In menggigit sandwich tuna sambil melirik ke arah Laura.

“Setidaknya kalau di kelas dia diam, walaupun selalu bersikap dia yang paling pintar.”

“Kau sekelas dengannya? Astaga, aku tidak bisa membayangkannya.” Janice menatap ke arah Hae In prihatin. “Kau harus bersyukur tidak sekelas dengannya. Dia itu benar-benar tipikal perempuan Amerika dalam drama remaja.” Hae In memasukan suapan terakhir sandwich ke dalam mulutnya.

“Apa di suka berkata ‘well, well, well’dengan nada yang menyebalkan itu?” Hae In terbahak melihat wajah Janice yang di buat-buat. Janice tidak berhenti menirukan cara bicara Laura dan juga gerak-geriknya.

“Tampaknya senang sekali, huh?” Laura –dan 3 orang pengikut berdiri dibelakangnya dengan pose yang sama, menyilangkan tangan di depan dada dengan wajah sinis.

“Yah begitulah.” Jawab Janice sambil mengusap air matanya karena terlalu banyak tertawa. Laura menyambar sesuatu dari meja dengan sangat cepat, tertawa meremehkan lalu memegang benda itu dengan telunjuk dan ibu jarinya seperti benda itu menjijikan.

“Kau ikut audisi Orkestra, huh? Tidak salah?” Dengan cepat Hae In berdiri dan menyambar kembali kertas formulirnya. Ia merasa ingin menonjok wajah menyebalkan Laura sekarang juga.

“Memangnya ada yang salah? Kurasa tidak.” jawab Hae In dingin. Ia tidak merasa terancam dengan tubuh Laura yang lebih tinggi darinya, karena ia tahu perempuan itu tinggi karena memakai sepatu haknya yang setinggi sumpit.

“Apa kau pernah mendengarkan permainanmu sendiri? itu sangat buruk nona Hae In! kau tahu, aku sangat tersiksa di kelas ketika giliranmu memainkan Biola. Rasanya telingaku akan segera tuli mendengarnya.” Semprot Laura. Hae In bergeming tanpa ada perubahan ekspresi di wajahnya, tetap datar.

“Kau tahu? Orang Asia yang sipit sepertimu itu tidak pantas bermain musik klasik. Lebih baik kau pindah ke jurusan lain dan gunakan otak pintarmu itu untuk menghitung angka atau mencari penemuan baru.” Laura mengetuk-ketukan jarinya di dahi Hae In. Ia memejamkan matanya, berusaha menahan amarahnya. Sungguh, ia ingin menancapkan sepatu hak Laura ke kepala gadis itu. mungkin itu satu-satunya cara supaya gadis itu segera sadar.

“Ya, aku memang orang Asia dan mataku tidak sebesar punyamu. Tapi setidaknya aku lebih pintar dan jauh lebih mengerti tata krama daripada dirimu nona. Jadi aku tidak pernah merendahkan orang dan menilai kemampuan orang seenaknya. Itulah gunanya orang Asia mempunyai otak cerdas.” Balas Hae In lantang sambil mengetuk-ketukan jarinya di pelipis.

“Jangan mempermalukan dirimu disini nona. Lihat, semuanya sedang melihat ke arah kita.” Lanjutnya santai lalu tersenyum miring.

Laura tercengang dan sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi merah dengan mata yang sedikit berair. “Lihat saja nanti! Kau pasti tidak akan lulus audisi! Tidak akan!” Laura mengentakan kakinya kesal lalu berjalan cepat keluar dari kantin diikuti oleh pengikutnya.

Hae In tersenyum kikuk kepada orang-orang yang sedari tadi memperhatikannya. Lalu kembali duduk dan segera memasukan kertas formulir ke dalam tasnya.

“Yang tadi itu keren.”

“Hahaha, terimakasih. Mau menemaniku mengembalikan formulir?”

“Tentu. Let’s go!”

*****

Dahi gadis itu berkerut ketika membaca pesan masuk di ponselnya. “Janice, apa tempat ini jauh dari sini?” mata hijaunya bergerak membaca satu persatu alamat yang tertera di layar ponsel.

“Tidak terlalu jauh, kurasa sekitar 20 menit perjalanan. Siapa Marcus? Pacarmu?” Janice mengerling nakal ke arah Hae In. Gadis itu hanya tertawa hambar dan berandai dalam hati seandainya dia benar-benar pacar Kyuhyun.

.

.

“Kau sudang datang.” Hae In tersentak ketika Kyuhyun tiba-tiba memeluknya dari belakang dan hampir menjatuhkan ponselnya.

“Jangan mengaggetkanku Kyuhyun!” serunya kesal. Kyuhyun hanya terkekeh lalu mengeratkan pelukannya, mengendus aroma manis dari tubuh Hae In. Dan gadis itu terdiam di tempatnya, bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

“Kyu, orang-orang memperhatikan kita.” Hae In bergerak tak nyaman. Ini di lobby kantor dan Kyuhyun memeluknya mesra. “Yak! Apa kau gila? Lepaskan aku!” bisiknya gemas sambil memukul-mukul pelan tangan Kyuhyun yang melingkar di perutnya.

“Aku merindukanmu.” Bisiknya dengan suara berat. Hae In terdiam dan mengerang dalam hati, ia juga ingin sekali mengatakan hal yang sama. Tapi entah mengapa rasanya tidak bisa dan juga malu. Lagipula ini di lobby kantor dan.. astaga.

“Kyu, aku mohon. Orang lain sedang memperhatikan kita.” Hae In berhasil melepaskan diri, dan menatap Kyuhyun tajam.

“Baiklah, aku minta maaf. Ayo ke kantorku supaya tidak ada yang mengganggu.” Kyuhyun menggenggam tangan Hae In, “Aku tidak terima penolakan untuk yang ini. Kajja.” Hae In menghela napas dan berjalan berdampingan dengan Kyuhyun. Ia tidak berani menegakan kepalanya karena dia mendapat tatapan aneh, penasaran dan juga sinis. Terutama dari karyawan perempuan.

“Kenapa kau bengong disitu, ayo masuk.”

Hae In menatap ke arah plat yang terpasang di pintu dan Kyuhyun secara bergantian dengan tatapan tak percaya. “Kau General Manager? Wah, kau sedang tidak membohongiku, kan?” gadis itu membawa dirinya kedalam ruang kerja Kyuhyun yang minimalis, wangi segar citrus memanjakan hidungnya. Ruangan itu rapih dan juga nyaman. Pigura kayu hitam membingkai gagah lukisan nirmana hitam putih di sisi ruangan yang berhadapan langsung dengan meja kerjanya.

“Kau meremehkan ku nona. Otak Asia-ku terlalu pintar untuk ada di jajaran karyawan biasa.” Kyuhyun tersenyum miring sambil mengetuk-ketukan jarinya di pelipis. Membuat Hae In mendengus geli karena ucapan Kyuhyun barusan mengingatkannya pada Laura, si rambut pirang yang histeris.

“Hidup di lingkungan Multi kultur seperti ini kadang membuatku sedikit muak. Jujur saja.” Hae In menyusul Kyuhyun yang sudah terlebih dulu duduk di sofa. “Memangnya ada apa dengan orang Asia? Memangnya kenapa kalau mataku kecil? Untuk ukuran orang Korea mataku termasuk besar!.” Cerocosnya pada Kyuhyun.

Kyuhyun merangkulkan sebelah tangannya ke bahu Hae In dan menarik gadis itu mendekat. “Ada yang mengganggumu? Kau bisa cerita padaku.” Hae In menyandarkan kepalanya ke bahu Kyuhyun dengan nyaman. Ajaibnya seorang Kyuhyun bagi dirinya adalah, dia selalu membuat gadis itu kesal tapi juga bisa membuat rasa kesal gadis itu hilang begitu saja. Walaupun kadar menyebalkannya kadang tak bisa di toleransi, Hae In tidak pernah bisa benci pada Kyuhyun sedari mereka kecil dulu.

Semuanya mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan oleh gadis itu. tentang ia merasa di kucilkan di kelas, lalu soal Laura dan juga 3 pengikut setianya yang selalu hidup seperti di drama televisi Amerika, teman pertamanya setelah 4 minggu kuliah –Janice, gadis dengan mata hijau mempesona dan juga rambut coklat gelombang pendeknya yang terlihat menakjubkan. Perdebatan yang di alaminya saat makan siang tadi, dan juga audisi Orkestranya minggu depan.

“Aku yakin kau bisa lulus di audisi Orkestra. Dan aku tidak keberatan bolos kerja untuk menontonmu tampil.” Kyuhyun bisa merasakan Hae In mengangguk, kemudian mengelus lembut rambut gadis itu. Kemudian mereka larut dalam keheningan, saling menikmati kenyamanan satu sama lain.

Tiba-tiba pintu ruang kerja Kyuhyun terbuka, Hae In yang terkejut refleks menegakan tubuhnya tapi ditahan oleh Kyuhyun dan gadis itu kembali bersandar di bahu Kyuhyun dengan posisi yang tak nyaman.

Perempuan tinggi dengan setelan kantor berwarna hitam, kaki jenjangnya terlihat menakjubkan dengan sepatu hak hitam mengkilap, kulitnya putih khas eropa, rambut pirangnya di sanggul rapih memberi kesan rapih dan profesional.

“Hai, Rachel. Ada apa?” sapa Kyuhyun santai sambil terus mengelus rambut Hae In. gadis itu berusaha duduk tegak tapi Kyuhyun selalu menahan kepalanya tiap kali ia berusaha. Setelah menyikut pinggang Kyuhyun beberapa kali akhirnya ia bisa duduk tegak, masih dengan tangan Kyuhyun yang merangkul di bahunya. Gadis itu menyerah,Kyuhyun tidak akan melepaskan rangkulannya.

“Siapa dia?” tanya perempuan itu ketus.

Kyuhyun mengecup puncak kepala Hae In cepat, membuat kedua perempuan itu mematung. “Tunanganku.” Jawabnya dengan senyuman lebar di wajahnya. Hae In menoleh cepat, melotot ke arah Kyuhyun dengan tatapan apa-maksudmu-huh. Baru saja Hae In ingin menyanggah ucapan Kyuhun, ia merasa cengkraman kuat di bahunya. Kyuhyun tersenyum ke arahnya.

“Iya kan, sayang?” gadis itu merinding hebat. Kyuhyun yang tersenyum manis ke arahnya, menyebutnya sayang, dan cengkraman kuat di bahunya yang seolah ingin melepas daging dari tulangnya, Hae In merasakan ancaman dari senyum manisnya.

“ A-ah, iya. Aku tunangannya, namaku Hae In. Salam kenal.” Hae In membungkukan badannya dan tersenyum kikuk. Perempuan bernama Rachel itu menatapnya angkuh dan tidak suka. Rambutnya yang disanggul rapih membuat garis rahangnya begitu jelas, matanya yang tajam dan fitur wajah yang mengaggumkan membuat gadis itu merasa terintimidasi.

“Sejak kapan kau punya tunangan, Marcus?” Rachel berjalan ke arah sofa kemudian duduk di hadapan mereka berdua.

“Sejak tadi. Kenapa?” jawabnya enteng. Hae In menggelengkan kepalanya pasrah, lelaki ini terlalu tidak bisa ditebak.

Rachel menghela napas keras, terlihat sekali ia menahan amarahnya. Hae In merasa tak nyaman dengan tatapan yang diberikan oleh Rachel, perempuan itu jelas-jelas memiliki perasaan pada Kyuhyun.

“Ini dokumen yang harus kau urus. Kuharap perempuan itu tidak akan mengganggu pekerjaanmu.” Ucapnya ketus lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Kyuhyun.

“Dia.. siapa?” Hae In menggeser tubuhnya menghadap ke arah Kyuhyun.

“Rachel, sekertarisku. Kenapa?”

“Kau tidak lihat dia menatapku seperti itu? dan lagi kenapa kau harus bilang aku tunanganmu!” Hae In memukul dada Kyuhyun gemas. “Sudah cukup aku berurusan dengan perempuan berambut pirang Kyu, sungguh. Perempuan yang di restoran, Laura dan sekarang Rachel.” Mendengus sebal, gadis itu bersedekap dengan wajah di tekuk.

“Aku memang bermaksud ingin menikahimu, dari dulu.” Kyuhyun menghadapkan tubuhnya ke arah Hae In, menyangga kepalanya dengan satu tangan yang tertumpu di sandaran sofa. Hae In terdiam, menatap Kyuhyun dengan air muka yang sulit yang sulit dijelaskan.

“Aku kan sudah mengatakannya, kau cinta pertamaku bahkan sampai sekarang perasaanku tiak berubah. Aku pernah berkencan dengan beberapa wanita, tapi tidak bisa lebih lama dari 3 hari.”

Tangannya terulur kemudian mencubit pipi gadis itu. “Itu semua gara-gara aku tidak bisa berhenti memikirkan si bodoh ini.”

.

.

.

tbc

:: halo! akhirnya chapter 2 terbit juga muhahahahahah. semoga kalian suka ya, dan maafkan kalo ada typo disana-sini, mata saya udah siwer liatin laptop mulu @w@

jangan lupa komen kritik dan sarannya ya! ^^/

Iklan

14 thoughts on “Brutal Lover – Chap.2

  1. Daebak eonni !! Naega neomu joha !! :v Ceritanya tambah seru eonni. . Aku suka bngt sama karakter kyupa di sini. . Next eonn :v Fighting !! Aku akan selalu setia menunggu 😀 he he he ^^

  2. Okay eonn (y) .. makasih juga udh buat cerita yang daebak kaya gni .. bisa bikin aku kya orang stres gara2 senyum2 sendiri hahaha 😀

  3. Sangat sukaaaa….astaga aku di buat merona waktu belanja belanja Bra… kyuhyun di sini memang apalah apalah..ah ga tau mesti ngomong apa..Hae in sepertinya harus punya cadangan jantung ngadepin kyuhyun yang selalu bertindak sesuka hati …lanjut yaaa….^_^

  4. Ping-balik: Brutal Lover – Chap.3 | FanFiction World

  5. Jiaahhh..
    Kyuhyun tmbuh jdi namja yg romantis ahahaha tpp aura menindasnya masih ada.. Ckckck dri kecil emng gak bsa di ubah tuh aura pembunuhnya..

  6. Ping-balik: Brutal Lover – Chap.4 | FanFiction World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s