Brutal Lover – Chap. 1

brutal lover

Genre : NC17 | Romance | Slice of life | Drama

Disclaimer : cerita ini terinspirasi dari sebuah komik yang pernah saya baca. ceritanya sudah di rombak dan murni pemikiran Author. Please don’t Copy-Cat my story as you want.

©parknara


Waktu kecil, ada seorang anak lelaki yang sangat menakutkan tinggal di dekat rumahku.

Dia mengerikan, seperti iblis.

.

.

.

.

Jeritan nyaring terdengar bersamaan dengan suara tongkat pemukul plastik yang diayunkan ke arah tanah. Gadis berkuncir dua itu terjatuh lalu meringis, matanya membola ketika melihat bunga yang dirawatnya sepenuh hati rusak. “Hae In, ayo kita main.” Anak lelaki itu mengulurkan tangannya dengan senyuman lebar, seolah tidak merasa bersalah setelah merusak bunga milik gadis kecil di hadapannya. PLAK! Hae In menepis tangan anak itu kesal, lalu berdiri dan menepuk celana pendeknya yang kotor. Selalu saja seperti ini. Anak lelaki itu pasti selalu menarik rambutnya dan juga membawa tongkat bisbol plastik yang digunakannya untuk merusak apapun. Hae In sangat takut dan juga kesalnya padanya. “Tidak mau, kau telah merusak bungaku! Kyuhyun jelek!” Teriaknya kesal lalu berbalik, berjalan meninggalkan Kyuhyun. sedetik kemudian Hae In limbung, kalau pijakannya tidak kuat mungkin ia akan kembali jatuh. “YAK! KYUHYUUUN!” teriaknya benar-benar kesal, tangan kecilnya memukul-mukul tangan Kyuhyun yang menarik sebelah kuncirannya. “Lepaskan! YAK!” Kyuhyun tidak mengendurkan genggaman pada rambut Hae In, ia menariknya lebih kuat sampai tubuh gadis itu hampir mendekat dengannya. “Ayo kita main.” Ucapnya tenang dengan senyuman miring di wajahnya. Hae In merasa pandangannya kabur, ia meneteskan air mata lalu mengangguk lemah. Kyuhyun melepaskan cengkramannya dari rambut Hae In. Ia memutar tubuh Hae In ke arahnya lalu membetulkan kunciran yang dirusaknya, kemudian menggenggam hangat tangan gadis itu. “Ibuku membuat kue. Kau mau mencicipinya?” Hae In menatap Kyuhyun dengan mata basah. “Aku akan memberi satu kotak susu pisangku untukmu.” Lanjutnya. Perlahan Hae In tersenyum dan meremas pelan tangan Kyuhyun yang menggenggamnya. “Aku mau.” Kedua anak pendek itu berjalan sambil berpegangan tangan ke arah rumah Kyuhyun. Tangan kanannya menggenggam tangan Hae In, sedangkan tangan kirinya memegang tokat bisbol plastiknya dan membiarkan tongkat itu menyeret tanah. Kyuhyun membuka pintu rumahnya tak sabaran, Hae In yang terseret dibelakangnya hampir tersandung tangga kecil yang ada di depan pintu. “Ibu aku minta kue!” teriaknya sambil berlari mencari ibunya. “Ibu!” teriaknya lagi lebih keras. Hanna – ibu Kyuhyun muncul dari balik pintu kamarnya, ia berniat memarahi Kyuhyun. Tapi ia mengurungkan niatnya begitu melihat Hae In datang bersama anaknya. “Ibu, aku dan Hae In ingin makan kue.” Pintanya. Hae In tersenyum manis kepada Ibu Kyuhyun, “Bibi, aku ingin mencicipi kue buatan bibi.” Wanita itu tersenyum ramah, “Baiklah, kalian tunggu di ruang TV saja. Nanti ibu bawakan, eo?” Kyuhyun dan Hae In menganggukan kepalanya serempak. Kedua pasang kaki mungil mereka berlari ke ruang TV. “Ibu aku juga ingin susu pisang!” teriak Kyuhyun dari ruang TV. Ibunya yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya, ia heran kenapa anak lelakinya bisa lebih cerewet dari kakak perempuannya.

.

.

.

“Jangan mengikutiku Kyuhyun. Ini sudah sore, aku harus mandi dan belajar!” gerutu Hae In kesal sambil terus berjalan mendahului Kyuhyun. “Aku hanya ingin mengantarmu.” Balasnya tak peduli. Hae In menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Kyuhyun. “Lihat, sudah sampai. Kau tidak perlu mengantarku.” Gadis itu berkacak pinggang di depan pagar rumahnya. Kyuhyun menggaruk rambutnya yang gatal karena berkeringat. “Yasudah, aku pulang.” Kyuhyun berbalik lalu berjalan meninggalkan Hae In. “Terimakasih Kue dan susu nya, enak sekali!” ucap Hae In sedikit keras sebelum Kyuhyun menghilang dibalik pagar. Kemudian jemari kecil Kyuhyun muncul di balik jeruji pagar, membalas ucapan terimakasih gadis itu dengan acungan jempolnya. Hae In terkikik pelan lalu segera masuk ke rumahnya. Walaupun hanya terpisah oleh satu rumah, Kyuhyun kecil bersikeras mengantar Hae In sampai rumahnya. Hanya memastikan gadis itu tidak tersandung batu.

*****

“Kau lama!” semprot Hae In kesal ketika melihat Kyuhyun keluar dari pagar rumahnya. Kyuhyun hanya menguap lalu menarik kunciran Hae In. “YAK!” Hae In langsung memukul tangan Kyuhyun sebelum anak lelaki itu kembali merusak kuncirannya. “Kalau kau merusak kunciranku aku tidak mau pergi kesekolah bersamamu lagi!” ancamnya dengan telunjuk mengarah kepada Kyuhyun. Lelaki kecil itu memanyunkan bibirnya kesal, “Kalau begitu pegang tanganku.” Ia menyodorkan tangan kecilnya kepada Hae In. “Tidak mau. Kau menyebalkan!” gadis itu melipat kedua tangannya kesal di depan dada, menatap sinis ke arah Kyuhyun. “Yasudah, kalau begitu kutarik lagi rambutmu.” Kyuhyun maju satu langkah dan Hae In mundur dua langkah. Gadis kecil itu menatap Kyuhyun ngeri, kemudian bahunya merosot lemas. Tidak ada pilihan lain. “Baiklah, Tapi jangan tarik rambutku lagi.” Hae In menggenggam tangan Kyuhyun dan berjalan beriringan menuju sekolah mereka yang tak jauh dari rumah. Keisengan Kyuhyun tak berhenti bahkan saat di sekolah. Ia selalu mengusili Hae In yang duduk di sebelahnya. Melemparinya kertas, terkadang menarik buku gadis itu dengan sengaja. Walaupun sudah diperingatkan oleh guru Kyuhyun tetap menjahili Hae In, dan gadis itu tidak membalas dengan perbuatan serupa. Ia hanya membalasnya dengan meneriaki Kyuhyun atau mengancamnya tidak akan pulang bersama lagi. Dan Kyuhyun akan langsung duduk terdiam lalu mengekori Hae In tanpa menjahilinya sedikitpun. Sayangnya, itu hanya bertahan kurang dari dua jam saja. Hae In memekik tertahan ketika seseorang menarik kunciran rambutnya saat ia sedang bermain bersama teman-teman perempuannya. “YAK! KYUHYUN!” tanpa perlu menoleh ia pun tahu siapa yang selalu menarik rambutnya. “Ayo kita main.” Kyuhyun tidak melepaskan genggamannya pada kunciran Hae In walaupun gadis kecil itu sudah berdiri menghadapnya dengan kepala yang condong ke arahnya. “Aku juga ingin main dengan yang lain –YAK!” Hae In reflek memukul tangan Kyuhyun saat tarikan di rambutnya berubah menjadi sebuah jambakan. Dengan sekuat tenaga gadis itu mendorong tubuh Kyuhyun, tapi dia tak kunjung melepas jambakannya. Teman-teman Hae In –para gadis, menyoraki Kyuhyun. Kalimat kesal dan kebencian terlontar dari bibir mungil mereka. Beberapa dari mereka mencoba membantu untuk melepaskan jambakan dari Kyuhyun. Tapi para gadis kecil itu kewalahan, tubuh mungil mereka hampir ikut tertarik ke arah Kyuhyun. Hae In berteriak dan menangis, tangan mungilnya tak berhenti bergerak memukuli tubuh dan tangan Kyuhyun yang tak mau melepasnya. Sedangkan Kyuhyun masih dengan wajah datarnya, tetap menjambak rambut Hae In tanpa mengurangi tenaganya. “Ayo main denganku.” Ulangnya lagi dengan datar. “Tidak! Tidak mau!” “Kubilang ayo main denganku.” “TIDAK MAU!” PLAK! Tubuh Kyuhyun terjatuh. Lalu seketika semuanya hening. Hae In mematung sambil terisak, ia memandang telapak tangannya lalu memandang ke arah Kyuhyun yang memegangi pipinya. Kyuhyun berdiri lalu menepuk celananya. Hae In bisa melihat goresan merah di pipi putih Kyuhyun. Ia tidak sengaja mencakar pipinya. Gadis itu terkejut, begitu juga dengan teman-temannya. “Aku..” kaki Hae In melangkah mundur saat Kyuhyun mendekat ke arahnya dengan tatapan dingin. “AKU BENCI KYUHYUN!” teriaknya tepat di depan wajah Kyuhyun. Kemudian dia berlari meninggalkan Kyuhyun dan teman-temannya yang masih mematung.

.

.

.

Semenjak kejadian saat istirahat tadi, Kyuhyun dan Hae In saling mendiamkan satu sama lain. Kyuhyun terus menopang kepalanya dan memandang keluar jendela. Hae In merasa bersalah, tapi rasa kesal lebih mendominasinya. Kemudian gadis itu memilih untuk diam dan tidak mau berbicara dengan Kyuhyun untuk beberapa hari kedepan.

.

.

Keesokan harinya, Hae In mengintip dari balik tirai jendela kamarnya. Ia penasaran karena sedari tadi suara Ibunya Kyuhyun terdengar dari luar rumah. Tidak biasanya ibu Kyuhyun sesibuk itu di luar rumah. Mata kecilnya membulat ketika melihat orang berseragam mengangkut kardus-kardus besar kedalam truk. Dia bisa melihat ibu Kyuhyun yang sibuk memeriksa kardus besar itu sebelum di masukan kedalam truk. Tanpa memikirkan rencana balas dendamnya kepada Kyuhyun –mendiamkannya sampai dua hari kedepan, kaki kecil gadis itu berlari tergesa-gesa keluar dari rumah. Bahkan ia lupa untuk memakai sendalnya. “Kyuhyun!” panggilnya saat melihat sosok lelaki mungil itu. Dari pakaiannya yang rapih, dan ransel yang penuh bisa dipastikan Kyuhyun akan pergi. “Kau mau pergi?” tanyanya dengan napas terengah-engah. Kyuhyun hanya memandanginya dengan pandangan datar. Kyuhyun berbalik dan berjalan mendekat ke arah Hae In. Tubuh mungil gadis itu sedikit bergetar ketakutan, tapi pandangannya tidak bisa terlepas dari sepasang bola mata gelap yang menatapnya. Kyuhyun mengambil tongkat bisbol plastiknya yang menyembul di sisi tasnya. Membuat Hae In refleks menutup matanya rapat-rapat dan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Satu detik, dua detik.. ia tidak merasakan apa-apa, Kyuhyun tidak memukul atau menjambaknya. Perlahan Hae In membuka matanya dan menegakan tubuhnya, tongkat bisbol plastik itu terarah padanya. “Ambilah.” “Eh?” “Simpan tongkat ini sebagai penggantiku.” Hae In menerimanya dengan tidak yakin, takut tiba-tiba anak lelaki itu menyodok wajahnya dengan tongkat. Tapi tidak seperti yang dibayangkannya, Kyuhyun tetap diam dan sekarang tongkat itu sudah ada dalam pelukannya. “Kau mau pergi kemana?” “Ibu bilang aku akan pergi ke negara yang sangat jauh.” “Kau akan pergi dari Korea?” tanya gadis itu tak percaya. Matanya mebundar antusias, hatinya berdebar bahagia karena sosok mengerikan itu akan pergi dari hadapannya. “Mungkin tidak akan kembali.” Kyuhyun tersenyum sedih. Hae In yang melihatnya hanya terdiam. Karena itu pertama kalinya ia melihat wajah anak jahil itu menjadi sendu. Dan rasa bahagianya sedikit terusik karena wajah sedih Kyuhyun. Kyuhyun menoleh saat ibunya memanggil namanya, menyuruhnya untuk bergegas karena mereka akan segera berangkat. “Aku pergi dulu.” Kyuhyun mendekat hingga ia hanya berjarak satu langkah dari tubuh Hae In. Gadis itu hanya terdiam ketika bibir Kyuhyun menyentuh keningnya. Kyuhyun langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Hae In yang mematung sambil memeluk tongkat bisbolnya. “Kyuhyun jelek!” teriaknya saat Kyuhyun sudah masuk kedalam mobil. Hae In berlari kecil ke arah mobil Kyuhyun yang mulai bergerak pelan meninggalkan tempatnya. “KYUHYUN JELEEEEK!” Membalikan tubuhnya, Hae In segera berlari ke rumahnya kemudian mencari sekop kecil yang biasa ibunya pakai untuk berkebun. Dengan tak sabaran ia menggali tanah di daerah tempatnya menanam bunga kesukaannya. Ia menggali cukup dalam sampai tongkat bisbol plastik itu masuk kemudian menguburnya dan menyisakan gagangnya yang mencuat sepanjang 10 senti.

“Ini segel..” ucapnya terengah-engah karena kelelahan sehabis menggali. “Ini segel supaya iblis tidak kembali!”

*****

10 tahun berlalu… Setelah kepergian Kyuhyun, Hae In hidup dalam kedamaian. Terkadang ia rindu dengan Kyuhyun. Walaupun dia sangat menyebalkan, ia kesepian karena tidak ada lagi teman bermain di dekat rumahnya. tapi Lambat laun bayangan tentang Kyuhyun menghilang sepenuhnya. Hae In tumbuh menjadi gadis cantik yang ceria dan lembut. Keceriaan dan keanggunan terpancar bersamaan dari dirinya. Mulai dari SMA ia masuk sekolah khusus seni dan mengambil jalur musik sebagai fokusnya. Hae In adalah seorang pemain biola yang pekerja keras. Hae In sadar akan tidak adanya bakat pada dirinya, tapi ia berlatih lebih keras dari siapapun sampai akhirnya ia bisa melampaui beberapa orang yang dinyatakan memiliki bakat. Kerja kerasnya terbayar, ia masuk universitas ternama. Dan di tahun ketiganya kuliah, ia mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan kuliahnya di luar negri. Sisa 1 tahun lagi untuk lulus. Setiap ia melihat tongkat yang dikuburnya ia selalu merasa ketakutan karena bayangan Kyuhyun kecil menghampirinya, Hae In tidak benci Kyuhyun, tapi dia hanya takut. Ia selalu berdoa supaya tidak pernah bertemu lagi dengan anak lelaki yang ditakutinya itu. “Sudah tidak ada yang tertinggal?” tanya Ibunya yang muncul dari pintu. Hae In menggeleng lalu tersenyum, “Tidak ada bu, semuanya sudah beres.” Hae In berdiri lalu memakai jaketnya dan memasukan pasport dan tiketnya kedalam tas kecilnya. “Kenapa wajahmu seperti itu, bu?” Ibu Hae In menggeleng pelan, senyuman sendu terukir di wajahnya. Membuat Hae In teringat dengan senyum sendu iblis kecil yang tidak mau ia sebut namanya lagi. “Ibu merasa bahagia dan juga sedih, kau harus melanjutkan studymu di luar negri.” Wanita paruh baya itu mendekat ke arah Hae In lalu memeluk anak bungsunya. Mengelus rambut anaknya lamat-lamat. “Aku hanya menyelesaikan masa studi ku disana bu. Aku pasti kembali.” Ibu Hae In melonggarkan pelukannya lalu mengelus wajah putrinya dengan senyuman bangga di wajahnya. “Hati-hati disana,eo? Kau harus berhubungan baik dengan teman barumu disana.” Hae In tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapih. “Tenang saja bu. Aku cukup percaya diri dengan kemampuan bahasaku untuk membuat teman baru disana.” Lalu terkekeh. Hae In dan Ibunya turun ke bawah membawa dua buah koper besar. Satu berisi baju, dan satu lagi berisi makanan instant, kimchi dan beberapa bumbu masakan korea yang dirasanya sangat penting demi kelangsungan perutnya. “Oh iya, bu. Kemarin ibu bilang teman satu kamar di flat-ku itu orang korea juga?” “Iya. Ibu sudah bicara dengannya, dan memintanya untuk menjagamu.” “Siapa namanya?” Ibunya terdiam sejenak. “Eum.. ibu lupa karena namanya sedikit sulit. Namanya sedikit kebarat-baratan. Tunggu, tunggu.. Ma- Mark?” “Mark?” “Tunggu sebentar.” Ibu Hae In menghampiri meja kecil di dekat pintu lalu merobek memo kecil yang ditaruh di samping telepon. “Marcus. Ya, namanya Marcus Cho.” Hae In menerima robekan kertas bertuliskan alamat lengkap, rute perjalanan dan nomer telepon teman satu flatnya. Kedua alis Hae In terangkat antusias. “Wah, tampaknya blasteran Korea.” melihat anak gadisnya yang tersenyum genit membuatnya geleng-gelengkan kepala. “Kau tidak boleh merepotkannya. Dia sudah berbaik hati mau berbagi flat nya denganmu.” “Tenang saja ibu. Aku tidak akan merepotkannya.” Taksi yang dipesannya sudah menunggu di depan pagar. Sekali lagi Hae In berpelukan dengan ibunya di depan pintu. “Aku akan merindukanmu bu.” Bisiknya lalu mengecup kedua pipi ibunya. Dan dibalas hal yang serupa oleh ibunya. Hae In melangkah menuju pagar, dan matanya menangkap benda yang ia kubur sejak 13 tahun yang lalu sudah tidak ada. Panik, ia berbalik menghadap ibunya yang masih berdiri di depan pintu. “Ibu, tongkat yang aku kubur disini kemana?” tanyanya gusar. “Tongkat?” Ibu Hae In berpikir sejenak. “Aaah, tongkat itu. Sudah ibu buang karena Choco menggigitnya sampai rusak. Kenapa?” Serasa disambar petir, Hae In terdiam seketika. “Tidak.. tidak apa-apa, bu. Aku pergi.” Balasnya lemas lalu menyeret kedua kopernya menuju taksi. Hae In melambaikan tangannya sebelum taksi itu meluncur menjauh meninggalkan rumahnya. Seketika hatinya tidak tenang karena tongkat itu sudah tidak ditempatnya. Kekhawatirannya tentang kuliah di luar negri menghilang begitu saja, ada sesuatu yang lebih membuatnya khawatir dan takut. “Segel iblis telah dibuka..”

*****

Hae In meregangkan tubuhnya dengan erangan tertahan. Ia merasa tubuhnya remuk karena duduk dalam waktu yang lama di dalam pesawat. Ia terbangun karena suara peringatan untuk memakai sabuk pengaman berkumandang di seluruh koridor pesawat. Ia memakai sabuknya lalu membuka penutup kaca jendela pesawatnya, dan pandangannya terpaku dengan pemandangan di bawahnya. Hae In melirik monitor yang tertempel di bangku penumpang. Pukul 2 siang waktu London, dan sebentar lagi mereka akan mendarat. Hae In tersenyum melihat deretan bangunan dari atas pesawat. Ia tidak sabar untuk segera turun dan menghirup udara kota London. Jantungnya berdebar antusias, ia tidak lagi memikirkan segel iblisnya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah turun dari pesawat, menginjakan kaki di London, lalu mencicipi kuliner London yang membuatnya mulutnya berliur hanya dengan membayangkannya.

.

.

.

Bandara Heathrow, London. Hae In keluar dari bagian imigrasi dengan senyuman yang tidak dapat ia tahan. Urusan Visa dan imigrasinya sudah beres, tanpa ada kesulitan. Ia menggiring 2 koper besarnya dengan troli dan tas biolanya di punggung, berjalan di dalam bangunan bandara yang sangat luas. Matanya tidak bisa berhenti mengamati sekitarnya, negara dan tempat yang asing baginya. Ia dapat mendengar berbagai bahasa tiap ia melewati orang-orang di sekitarnya, dan entah mengapa ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena bisa sampai di negri Eropa ini. Hae In merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan kertas yang tadi di berikan oleh ibunya. Membaca dengan seksama rute perjalanan yang akan di tempuhnya untuk sampai ke Oxford, kota yang akan dia tinggali. Hae In mengedarkan pandangannya ke atas, membaca dengan seksama satu persatu tanda penunjuk arah. Mencari gambar kereta karena ia harus naik underground atau kereta bawah tanah untuk menuju Stasiun Victoria di pusat kota London. Hampir sepuluh menit dia berkeliling tapi tidak menemukan petunjuk arah yang menunjukan kereta bawah tanah. Akhirnya ia menyerah dan bergegas mencari petugas di bandara tersebut. Menemukan sesosok lelaki berseragam keamanan, Hae In pun mendekat ke arahnya. Sungguh ia sangat gugup karena ia belum pernah berbicara dengan orang luar negri secara langsung. “Excuse me. How can i get a train from here?” ucapnya terbata karena gugup. Petugas itu tidak bisa mendengar suara Hae In dengan jelas, lalu menunduk mendekatkan telinganya kepada Hae In. “Pardon?” “How can i get a train from here?” ulangnya dengan suara lebih jelas. Petugas itu kembali menegakan tubuhnya lalu menjelaskannya dengan kecepatan bicara yang kurang bisa diikuti oleh Hae In. Gadis itu terdiam, semua penjelasan petugas itu tidak bisa dicernanya karena ia terlalu gugup, dan ia merasa menjadi bodoh tiba-tiba. Bahasa inggrisnya tidak seburuk itu padahal. Menangkap raut kebingungan dari wajah Hae In petugas itu mengeluarkan catatan kecil dari sakunya, lalu mengambil pulpen yang diselipkan di kantung kemejanya, mulai menuliskan sesuatu lalu memberikannya kepada Hae In. “I hope this can help you Miss.” Ucapnya ramah. Mata Hae In membulat lalu tersenyum sambil membaca arahan yang harus ditujunya. “Thank you very much!” pekiknya girang. Ia segera menggenggam kembali pegangan trolinya. “Have a nice day!” sahutnya sebelum berbalik dan membawa trolinya ke arah barat Bandara menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kali ini ia tidak tersesat dan kebingungan, dalam waktu singkat ia menemukan tanda kereta bawah tanah dan menyeret kedua koper besarnya menuruni eskalator. Ia kembali bertanya kepada petugas disana kereta mana yang akan membawanya ke Stasiun Victoria. Hae In merasa tersentuh ketika petugas lelaki itu dengan baik hatinya membantu Hae In membawakan satu koper besarnya ke dalam kereta. Lalu menjelaskan dengan jelas rute menuju kota Oxford, tentu saja dengan kecepatan bicara yang diperlambat. Tampaknya petugas bermata kehijauan itu mengerti kendala yang di hadapi Hae In, gadis asia bermata bulat dan coklat yang kebingungan di negara gentleman ini.

.

.

.

Hae In sampai di Stasiun Victoria. Lagi-lagi matanya membulat mengaggumi keindahan stasiun besar tersebut. Stasiun modern yang berbalut gedung Antik di luarnya. Ketika sampai di luar gedung stasiun Hae In segera mengeluarkan kamera poketnya yang ia taruh di dalam tas. Memotret keindahan Stasiun Victoria di sore hari yang cerah ini. Susunan bata merah dan juga coklat muda berdiri kokoh dengan jam besar di tengahnya. Jendela antik persegi, atap berwana keabuan dengan ujungnya yang berbentuk rata , pilar-pilar kurus dan tinggi berdiri di dekat atap membuat Hae In berdecak kagum. Sebenarnya ia ingin berlama-lama disini, berkeliling ke sekitar daerah Stasiun Victoria. Tapi mengingat hari semakin sore dan juga ia membawa dua koper bersamanya, ia mengurungkan niatnya. Ia takut hari keburu malam, penglihatannya buruk dan ia tidak mau tersesat di negara yang tidak ada kerabatnya satu orangpun untuk membantunya. Hae In segera bergegas mencari bis menuju Oxford. Bis besar yang ditumpanginya dari London ke Oxford sangatlah nyaman. Supir bertanya kepada Hae In apakah dia akan pulang pergi, atau hanya satu kali jalan. Supir itu mejelaskan, Jika pulang pergi maka tiketnya lebih murah sekitar 16 poundsterling. Hae In menjawab hanya untuk sekali jalan, karena ia bukan datang untuk berwisata. Dan akhirnya bus pun mulai melaju meninggalkan Stasiun Victoria. Dalam perjalanan ke Oxford Hae In dapat melihat pemandangan yang begitu indah. hamparan padang rumput dengan domba-domba seperti dalam film-film lama yang pernah ditontonnya. sebenarnya gadis itu mengantuk dan sangat kelelahan, tapi ia merasa tidak rela untuk memejamkan matanya barang sedetik. Pemandangan indah dan klasik seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Hae In melirik jam digital yang bertengger di atas atap bus. Pukul 4 sore waktu London. Ia tidak tahu berapa lama perjalanan dari London menuju Oxford, gadis itu berharap ia akan segera sampai sebelum hari berubah menjadi gelap.

*****

Hae In menyeret kedua kopernya susah payah. Gerimis mulai turun dan hari mulai menggelap, pukul setengah enam sore sekarang. Ia tidak tahu dari London ke Oxford memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Hae In menyetop taxi dan segera menaikinya setelah memasukan kedua koper jumbonya, menyebutkan alamat yang di tuju lalu menghela napas lega. Hae In terkesiap di dalam taxi. Ia hanya pernah melihat taxi semacam ini –salah satu bangkunya membelakangi pengemudi –disalah satu TV Series kesukaannya, Sherlock Holmes. Hae In merubah posisi duduknya, ia duduk di bangku yang membelakangi supir. Dan ia merasa seperti mobil ini berjalan mundur. Menarik, pikirnya. Ia jatuh cinta pada taxi dari Britania Raya ini, mobil antik dan kursi penumpang yang unik. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit akhirnya Hae In sampai di alamat yang dituju. Gerimis yang sedari turun mulai terasa lebih deras daripada sebelumnya. Hae In kembali merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kertas berisi alamat teman satu flatnya. Hae In menyusuri trotoar ber-paving blok abu-abu. Jalan di daerah itu tidak terlalu besar, ia berjalan di sebelah kiri. Sedangkan di sebelah kanan ia bisa melihat deretan sepeda terparkir dengan rapih d atas trotoar. Masih di sebelah kanan jalan, ada garis putih yang membatasi jalan itu untuk tempat parkir mobil. Tampaknya ini daerah perumahan atau daerah flat-flat di dekat kampus Oxford. Karena ia bisa melihat deretan bangunan yang hampir serupa, dan satu bangunan besar penuh dengan jendela menghadap kejalan. Mungkin itu flat, mungkin juga kantor, Entahlah. Hae In sampai di satu bangunan, tempatnya akan tinggal. Flat itu berbentuk kotak, persis bangunan minimalis dan bangunan itu serupa dengan flat-flat yang berbaris di samping kanan kirinya. Cat putih gading di lantai satu, dan lantai atasnya terbalut bata merah yang sedikit pudar. Ia bisa melihat jendela persegi panjang berukuran cukup besar di lantai dua yang menghadap ke arah jalan. Hae In menekan bel, perasaannya bercampur antara gugup dan senang karena teman satu flatnya adalah orang turunan Korea. Marcus Cho, ia berharap teman satu flatnya itu bisa berbicara bahasa Korea. Hae In bisa mendengar seseorang sedang membuka kunci, dan kemudian pintu itu terbuka lebar. Sosok jangkung dengan kaos putih dan celana rumahan muncul dihadapannya, warna rambutnya seperti kayu oak –coklat gelap. Wajah khas Asia terpatri dengan begitu indah, bola matanya hitam gelap, hidung mancung, bibir tebal dan sorot mata yang tenang. “Ha –Halo.” Sapanya dengan susah payah. Entah mengapa tiba-tiba tenggorokannya terasa kering setelah mengetahui teman satu flatnya setampan ini. “Park Hae In, ya?” sahutnya dengan senyuman tipis. Hae In mengangguk kemudian bernapas lega, lelaki itu menyapanya dengan bahasa Korea yang teramat sangat lancar. “Ayo masuk. Mari kubantu.” Marcus mengangkat satu koper milik Hae In dan menggringnya masuk kedalam. Flat itu sangat sederhana dan minimalis, terlihat lelaki sekali karena penataannya sangat simpel. Marcus masuk ke salah satu ruangan di dekat pintu masuk, Hae In mengekorinya masuk. Beberapa box besar –barangnya yang dikirim sebelum ia ke Oxford, bertumpuk di sudut ruangan. Walaupun ruangan ini tidak terlalu luas, tapi Hae In senang dengan suasananya yang tenang dan minimalis. Ranjang berkerangka besi berwarna hitam entah mengapa terlihat sangat manis dimatanya, jendela persegi panjang yang tidak terlalu besar menggantung di dinding samping ranjangnya, ia harus naik ke atas ranjangnya baru bisa melongok keluar jendela. “Bagaimana, Kau suka kamarmu?” Kyuhyun menginterupsi Hae In yang sedang mengaggumi kamar barunya. “Sangat! Kamar ini cantik sekali, aku sangat suka.” Marcus tersenyum dan membuat jantung Hae In berdegup tak karuan. “Mau kutunjukan keseluruhan rumah ini?” tawar Marcus. Hae In mengangguk antusias lalu segera mengekori Marcus yang berjalan mendahuluinya. Kamar Hae In dan Marcus terpisah oleh satu kamar mandi kecil di tengah-tengahnya, kamar mereka hanya berjarak lima langkah. “Di kamar mandi ini hanya ada Shower. Kalau kau ingin berendam pakai saja kamar mandi di kamarku, disitu ada bath-up.” Tunjuknya mengarah ke pintu kamarnya yang terbuka. “Mungkin sesekali aku akan memakainya, kalau kau tidak keberatan.” “Tentu saja tidak. Ayo kita ke lantai dua.” Marcus mendahului Hae In menaiki tangga yang bersebrangan dengan pintu kamarnya. di lantai dua terdapat dapur yang menyatu dengan ruang TV. Dapur minimalis dengan peralatan dapur yang lengkap. Lemari peralatan dapur, kabinet penyimpanan makanan instan semuanya berwarna hijau limun yang lembut. Meja makan berbentuk seperti meja bar yang menempel di dinding sebelah kanan beralaskan batu pualam hitam, dengan dua buah bangku tinggi sebagai tempat duduknya. Kyuhyun mengarah ke ruang TV dan merebahkan dirinya di atas sofa panjang berwarna coklat, karpet halus menggelitiki telapak kakinya saat ia menginjaknya. Hae In berdiri di tengah ruangan menilik tiap sudutnya. Pintu kaca menghadap langsung ke arah balkon, sofa panjang coklat yang kelihatannya sangat empuk, TV layar datar yang cukup besar, rak buku yang isinya penuh dengan buku dan beberapa mainan figure. Ia membayangkan dirinya akan menghabiskan waktunya seharian di hari liburnya di ruangan yang sangat cozy ini. “Flat ini nyaman sekali. Tidak terlalu luas tapi lengkap dan praktis sekali.” Pujinya senang. “Aku senang kalau kau suka. Ayo kita ke lantai atas, lantai terakhir di Flat ini.” Kyuhyun berjalan menuju sisi kanan ruangan dan menaiki tangga kecil. Lantai itu lebih kecil dari lantai-lantai di bawahnya. Terdapat meja bundar kecil dan sofa berukuran dua orang berbahan beludru lembut, dan jendela besar yang langsung menghadap ke sebuah bukit dengan beberapa pohon yang tumbuh di atasnya. “Aku jarang menggunakan ruangan ini. kau bisa menggunakannya untuk latihan biola.” Hae In menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Marcus, “Bagaimana kau bisa tahu aku bermain biola?” lelaki itu terkekeh sebelum akhirnya menjawab. “Kau dari tadi masih menenteng tas biola di punggungmu nona. Bagaimana aku bisa tidak tahu.” Jawabnya sembari mengulum senyum. Hae In melirik ke arah punggungnya dengan wajah tolol. “Ah, kau benar.” Hae In tersenyum kikuk, rasanya ia ingin segera hilang dari muka bumi ini karena telah mempermalukan dirinya dihadapan lelaki sangat tampan yang pernah ia temui. “Istirahatlah. Perjalanan 14 jam dari Korea pasti melelahkan.” Marcus mempersilakan Hae In untuk menuruni tangga terlebih dahulu. Sebelum Hae In turun ke kamarnya, Marcus terhenti di sisi tangga.”Kalau kau mencariku, aku menonton TV disini.” Hae In mendongak ke arah Marcus lalu mengangguk, kemudian berjalan turun menuju kamarnya.

*****

Hae In merebahkan tubuhnya dikasur barunya yang empuk. Badannya terasa lebih segar sehabis dia madi air hangat, ia juga telah mengeringkan rambutnya dan mengganti bajunya dengan yang lebih nyaman. Badannya terasa remuk, tetapi matanya tidak bisa terpejam karena pengaruh Jet Lag. Ia dapat mendengar suara menyedihkan dari perutnya. Ia baru ingat kalau ia belum makan apapun sesampainya di London. Dengan gerakan malas ia turun dari kasurnya dan membuka koper berwarna merah yang ia isi makanan instan dan aneka bumbu Korea. Tangannya menyambar dua bungkus Ramyun dan segera membawanya ke dapur. Marcus duduk dengan tenang di sofa, matanya fokus menatap ke arah TV yang menayangkan dokumenter Perang Dunia 2. Tontonannya berat sekali, pikir Hae In. “Eum, Marcus-ssi.” panggil Hae In ragu. Lelaki itu menoleh dan langsung berdiri ketika mendapati Hae In berdiri di dekat meja makan bar itu. “Kau perlu sesuatu Hae In?” “Kau mau makan Ramyun? Aku membawanya langsung dari Korea.” tawarnya sambil menggoyang-goyangkan bungkus Ramyun di kedua tangannya. Mata Marcus berkilat antusias saat melihat bungkus Ramyun berwarna merah yang hampir tak pernah ia lihat lagi selama berapa belas tahun kebelakang. “Aku mau!” jawabnya antusias. “Aku akan membantumu menyiapkannya.” Tubuhnya melewati Hae In dan langsung menuju kabinet yang tergantung di dinding, mengambil sebuah panci berukuran besar dan segera mengisinya dengan air. “Apa ini cukup?” Marcus menyodorkan panci ke arah Hae In, meminta gadis itu memeriksanya. “Cukup. Terima kasih Marcus-ssi.” Hae In membuka bungkus Ramyun lalu meminta dua butir telur kepada Marcus, dan kemudian lelaki itu menyuruh Hae In untuk mengobrak-abrik kulkasnya sepenuh hati untuk mencari bahan yang diperlukannya. Entah sudah keberapa kalinya Hae In kagum dengan sesuatu semenjak menginjakan kaki di negara ini. Kalau tadi dia kagum dengan tata kota dan bangunan Inggris, kali ini ia kagum dengan teraturnya hidup seorang Marcus Cho. Ia melihat hampir tidak ada makanan kaleng di kulkasnya. Hanya ada beberapa minuman soda dan bir yang masih ada dalam kotaknya, tampaknya jarang disentuh. Bahkan ia bisa menemukan bawang daun dan beberapa sayuran segar di kulkas lelaki itu. Marcus mulai memasukan Ramyun beserta bumbunya ke dalam air yang mendidih. Hae In terkesiap dan segera mengiris bawang daun, ia terlalu lama mengagumi isi kulkas seorang Marcus. Hae In merasa Marcus adalah lelaki yang lembut dan sangat gentleman, pembawaannya tenang walaupun aura misterius terpancar darinya. Bahkan gadis itu tidak bisa berhenti mencuri pandang pada parasnya yang tampan. Dua mangkuk Ramyun sudah tersaji dengan uap yang mengepul di atas meja. Sebenarnya Hae In ingin melahapnya langsung dari panci, tapi melihat Marcus sudah menyiapkan mangkuk ia memilih untuk tidak menghentikannya. Mereka berdua duduk berdampingan di bangku tinggi meja makan mereka. Hae In langsung mengambil sumpitnya dan melahap Ramyunnya dengan kalap, tidak peduli rasa panas yang menyerang lidahnya. Begitu juga dengan Marcus, ia memakan Ramyunnya tidak kalah kalap dari Hae In. Selama sepuluh menit hanya ada suara seruputan kuah dan mie yang masuk kedalam mulut mereka. Sampai akhirnya mie itu tandas dan menyisakan mangkuk yang kosong. Selesai mencuci piring Marcus mengajak Hae In untuk mengobrol bersamanya di ruang TV. Hae In sempat ke kamarnya untuk mengambil beberapa bungkus camilan untuk memuaskan mulutnya yang masih ingin mengunyah. “Jadi, kau meneruskan kuliah musikmu disini?” Marcus duduk di sebelah Hae In kemudian menyodorkan minuman kaleng dingin kepadanya. Hae In menerima minumannya lalu mengangguk. “Aku sedang beruntung. Aku dapat beasiswa untuk menyelesaikan kuliahku disini.” Hae In meneguk minuman sodanya. “Omong-omong Marcus-ssi, kau blasteran Korea?” tanya Hae In penasaran, karena ia tidak melihat adanya percampuran di wajah tampan lelaki itu. Marcus menggeleng. “Tidak, aku asli Korea. Tapi sejak kelas 3 SD aku sudah tinggal di luar negri. Dan, kau tahu kan kalau orang barat sedikit sulit menyebutkan nama orang Korea. Jadi aku membuat nama baratku, Macus Cho.” Hae In sempat terdiam ketika mendengar penuturan Marcus yang menjelaskan kalau ia tinggal diluar negri sejak kelas 3 SD. Entah megapa mengingatkan pada teman iblisnya yang pindah saat mereka kelas 3 SD. “Memangnya nama aslimu siapa Marcus-ssi?” Marcus menghadapkan tubuhnya ke arah Hae In, menumpukan tangan kanannya pada sandaran sofa kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Hae In. Pandangan gadis itu terasa bergetar halus saat Marcus tersenyum miring kepadanya. Ia merasa tidak asing dengan senyum itu. Entah mengapa Hae In tiba-tiba merasa otaknya berhenti bekerja. Telinganya berdenging, dan hatinya berdebar tak karuan. Ia berharap ia salah dengar saat Marcus menyebutkan nama aslinya. “Ma- Maaf, bisa kau ulangi?” “Cho Kyuhyun. Namaku Cho Kyuhyun.” ucapnya tenang dengan pandangan tenang dan senyum miring yang masih menghiasi bibirnya. Hae In berdoa dalam hati semoga Kyuhyun yang ada di hadapannya ini adalah Kyuhyun yang lain. Bukan Kyuhyun teman kecilnya yang membuatnya ketakutan setengah mati itu. “Kenapa kau diam? Kau lupa padaku, eoh?” tangan kiri Kyuhyun terjulur ke arah Hae In, mendarat di pipi gadis itu dan mengelusnya pelan. Membuat tubuh Hae In makin bergejolak di balik diamnya. “Sudah lama sekali ya Hae In-ah. Aku merindukanmu, loh.” Kemudian tertawa. Rasanya jantung gadis itu turun ke perutnya, doanya tidak terkabul. Ia kenal betul cara tertawa yang terdengar jahat itu. Teman iblisnya telah kembali. Segel Iblis benar-benar sudah terbuka.

.

.

.

.

tbc

:: Halo! sudah lama sekali ya rasanya saya gapernah ngepost lagi hahahaha. jujur aja, banyak banget Draft cerita yang belum saya selesein karena mandek di tengah jalan. Project 12 Mens of Planet aja belum saya selesein hahahahaha, author macam apa saya ini. kalau kalian tanya kenapa saya jarang banget ngepost dan sebagainya, alasannya adalah SILENT RIDER.

saya selalu buka WordPress setiap hari, baca FF buatan penulis lain dan juga di blog lain yang ramai pengunjungnya. dan saya gapernah absen buat komen di karya orang lain, karena saya tau bagaimana rasa susahnya bikin cerita dan mikir jalan cerita. dan saya lihat pengunjung blog saya sehari bisa nyampe 30-50an, walaupun ga seberapa tapi tetep ga ada yang komen memberi masukan dan pendapat barang seorang – dua orang pun. yasudah, itu hak kalian. mungkin cerita saya aja yang bosenin hahahahaha XD

Iklan

17 thoughts on “Brutal Lover – Chap. 1

  1. Ping-balik: Brutal Lover – Chap.2 | FanFiction World

  2. aslinya aku baru nemu ff ini, aku sukaaaaa banget ceritanya, jiahaha aku inut deg2an kaya hae in…kyu aura iblismu kentara banget sampe bikin aku merinding wkwkwk

  3. Ping-balik: Brutal Lover – Chap.3 | FanFiction World

  4. Woww..
    Ceritanya menarik banget author-nim.. Aplagi si kyu bner” jdi iblis dan ngerusuh mulu’ ama hyein.. Ckckck

  5. Ping-balik: Brutal Lover – Chap.4 | FanFiction World

  6. Huhu gk pernah bca ff yg kyu nya kek gni ,keren , aku ijin bc part 2 3 4 ya thor ,bru mampir jd gk tau kalo ad ff bru

  7. Kekekeek haduhhhh apa jadinya nanti saat haein satu flat dengan kyuhyun…iblis selalu bersamamu kekeke

    Krn masih part awal jadi masih penasaran seperti apa kelanjutanya kekek..semoga kyuhyun gak terlalu jahat dengan hae in..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s