ParKyu Couple – A Job [Short Story]

43d88b513d13452ef95149bf792a764c

Genre : Romance | Slice of life | Drama

Disclaimer : cerita dan OC ini murni pemikiran Author. Please don’t Copy-Cat my story as you want.

©parknara

previous : My Blood Belong to you series | Worry | Regret

Sabtu siang yang sibuk di kantor Kyuhyun. Hae In yang sedari tadi sedang bersantai di ruang kerja Kyuhyun, terpaksa harus mencari tempat baru untuk bersantai setelah Kyuhyun mengusirnya karena ia akan menemui seorang investor di ruangannya. Hae In menyeret langkahnya dengan malas ke ruang kerja Leeteuk dan masuk begitu saja tanpa mengetuknya. Terlihat kakaknya sedang sibuk dengan berkas di tangannya yang dibolak-baliknya sejak tadi. Bahkan tidak menghiraukan Hae In yang masuk dengan wajah cemberut. Hae In menghempaskan tubuhnya dengan nyaman ke sofa. Disambarnya toples berisi biskuit coklat dengan taburan Almond di atasnya, ia yakin ini pasti buatan Sora. Gadis itu mulai menikmati biskuit milik kakaknya tanpa izin, ia menselonjorkan kakinya dan bersandar dengan nyaman di tangan sofa. Saat sedang memperhatikan sekitar, matanya menangkap sebuah kartu pos yang tergeletak begitu saja di atas meja. Ia mengulurkan tangannya dan mendapatkan kartu pos itu dengan sedikit susah payah. “Hyung, apa kabar? Aku ingin memberi tahu kau dan Kyuhyun kalau sebentar lagi aku menikah. Mungkin akhir tahun ini, sekitar bulan Desember. Aku akan membawa oleh-oleh yang banyak dari Jerman. Lee Sungmin.” Hae In membalik kartu pos itu dan meneliti gambar bangunan tua eropa yang terpampang di bagian depan. Hae In berpikir sejenak, rasanya ia tidak asing dengan nama Lee Sungmin. Ia pernah mendengar kakaknya dan juga Kyuhyun menyebut nama orang itu beberapa kali. “Menikah ya, enaknya..” gumam Hae In sembari menghela napas, lalu ia kembali menaruh kartu pos itu di meja dengan satu tangannya. Ia kembali memasukan satu buah biskuit kedalam mulutnya. Mengunyah sembari melamun menatap langit-langit. Menikah, tentu saja ia sangat ingin menikah dengan Kyuhyun. Tapi rasanya ia tak kuasa untuk memintanya kepada Kyuhyun, atau sekedar menyinggung masalah itu. Melihat Kyuhyun yang sangat sibuk membuatnya enggan untuk membicarakan hal seperti itu kepada Kyuhyun. Ia takut membuat hal tersebut menjadi beban pikiran Kyuhyun di saat-saat sibuknya. Disisi lain Hae In ingin cepat-cepat menikah. Mereka sudah saling berkomitmen untuk menjalin hubungan yang serius. Masalah finansial pun tidak ada masalah, toh Kyuhyun seorang CEO perusahaan. Belum lagi di tambah investasi Kyuhyun di bisnis properti yang baru-baru ini dimulainya. Tapi entah hal apa yang membuat Kyuhyun tak kunjung melamarnya. Hae In tergelak dari lamunannya saat Leeteuk merampas toples kue dari dekapannya. “Yak!” bentak Leeteuk sebal saat melihat isi toples itu sudah menghilang hampir setengahnya. “Hae In kau..” Leeteuk menatap toples itu prihatin sekilas lalu menatap ke arah adiknya, “Kau berani-beraninya memakan kue ini! Aku saja belum sempat mencicipinya, nakal!” Leeteuk menyentil dahi Hae In hingga menciptakan bunyi tulang yang beradu sedikit keras. Hae In hanya meringis sambil mengelus dahinya. Ia ingin balas memarahi kakaknya, tapi entah mengapa nafsu untuk marahnya hilang begitu saja. Gadis itu hanya melenggang pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata, dan membuat Leeteuk menatapnya terheran-heran.

—–

 Hae In mondar-mandir di depan ruangan Kyuhyun, sesekali ia menempelkan telinganya di daun pintu dengan penasaran. Walaupun itu adalah perbuatan yang sia-sia karena pintu itu terbuat dari kayu yang tebal dan hampir kedap suara. “Apa dia masih di dalam?” gumam Hae In sembari melirik ke arah pintu. Lelah berkeliling di depan pintu ruang kerja Kyuhyun, gadis itu memilih untuk berjongkok tepat di sebelah pintu. Setidaknya di lantai ini hanya ada ruangan Kyuhyun dan kakaknya saja, Hae In jadi tidak terlalu merasa khawatir untuk bertingkah seperti anak hilang di koridor ini. Hae In memainkan ujung tali sepatu kets nya bosan sambil menatap sepatunya yang mulai dekil. Tak lama kemudian ia mendengar suara kenop pintu yang akan di buka. Dengan sigap ia berdiri lalu berlari ke sudut koridor, berdiri di depan jendela besar yang menghadap keluar dan bertingkah seolah dia sudah sedari tadi di situ. Kyuhyun menyadari sosok Hae In yang memunggunginya di sudut sana. Sudut bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman. Dengan sopan Kyuhyun mengantar sang investor sampai memasuki lift, berdalih tak bisa mengantar sampai depan gedung karena ada urusan yang mendesak. Ya, urusan yang sangat mendesak bagi Kyuhyun. Rindu yang sedari tadi di tahannya sudah mendesaknya untuk bertemu dengan gadis itu. “Menungguku, nyonya Cho?” Hae In terkesiap saat tiba-tiba Kyuhyun memeluk tubuhnya dari belakang. Pipi Hae In terasa menghangat ketika mendengar ‘Nyonya Cho’ terlontar dari bibir Kyuhyun. “Hey, kita sedang di kantor tuan Cho.” Hae In membalikan tubuhnya tanpa membuat rangkulan Kyuhyun di pinggangnya terlepas. “Kalau dilihat orang lain bahaya.” Kyuhyun tersenyum miring, “Memangnya kenapa? Kurasa semuanya sudah tahu kau tunanganku, bukan masalah besar.” Kyuhyun menarik tubuh Hae In merapat lalu mengecup dahi gadis itu sekilas. Membuat Hae In tak mampu berkata karena sikap Kyuhyun yang begitu manis. “Aaah.. aku lapar.” Kyuhyun merangkul pundak Hae In lalu mengajaknya berjalan. “Kau ingin makan apa? Sayang sekali hari ini aku tidak membuat bekal.” Sesal Hae In. “Aku sedang ingin Jajangmyun dan ayam goreng, sepertinya enak sekali.” Kyuhyun membuka pintu ruangannya lalu membawa Hae In masuk. Hae In menatap Kyuhyun dengan pandangan bingung. “Bukannya kita mau pergi makan?” Kyuhyun bergidik pelan lalu menghempaskan tubuhnya di sofa, menepuk-nepuk pahanya mengisyaratkan agar Hae In duduk di pangkuannya. Hae In menatap Kyuhyun dengan pandangan tak yakin. “Cepat duduk sebelum aku tarik.” Ancam Kyuhyun yang mulai tak sabar, Hae In hanya pasrah menurut dan dengan segan duduk di pangkuan Kyuhyun. “Kalau tiba-tiba kakak masuk bagaimana?” Hae In menatap Kyuhyun cemas. Lelaki itu mendengus geli, “Gampang. Tinggal kudorong tubuhmu ke samping lalu aku akan berpura-pura memarahimu, dan pasti Hyung akan berpikir kalau kau sedang menggangguku.” Kyuhyun tertawa puas saat Hae In mulai mencekik lehernya dengan gemas. “Tampaknya akhir-akhir ini kau selalu berkeliaran di kantorku?” Hae In mendesah pelan lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Kyuhyun. “Memangnya apalagi yang bisa aku lakukan? Kau lupa aku seorang pengangguran?” Hae In sedikit menekankan kata “pengangguran” dalam kalimatnya. Kyuhyun terkekeh pelan, tangannya meyentuh punggung Hae In lalu mengelusnya pelan. “Mau ku beri sebuah pekerjaan yang menarik?” “Apa itu?” Hae In menatap Kyuhyun penuh minat, matanya membulat penasaran dengan senyum yang terlihat menggemaskan di mata Kyuhyun. “Jadi asistenku.” “Tapi kau kan sudah punya sekertaris Kyu, kenapa kau mau –“ “Jadi sisten seumur hidupku.” Potong Kyuhyun. “ Menemaniku setiap saat, membangunkanku tidur, menyiapkan keperluanku, memenuhi kebutuhanku sebagai lelaki, dan..” Kyuhyun mendekatkan wajahnya kepada Hae In, menyentuhkan kedua ujung hidung mereka dan juga bibir mereka. “Kau harus mengandung dan melahirkan anakku. Bagaimana? Menarik bukan?” Kyuhyun sedikit memiringkan kepalanya lalu mengecup bibir Hae In sekilas. Keheningan menghampiri ruangan itu tiba-tiba. Hae In terdiam dengan wajah bengong, sedangkan Kyuhyun dengan senyum jahilnya. “M –Maksudmu kau menawari aku sebagai –“ “Istriku.” “Kau sedang melamarku –Kyu ?” tanya Hae In sedikit terbata, karena tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. “Menurutmu? Aku sedang apa?” “Menawariku pekerjaan.” “Sebagai?” “Istrimu.” “Jadi artinya?” “Kau sedang malamarku.” Setetes air mata meluncur begitu cepat dari mata Hae In. “Kyuhyun! Huwaaa!” serunya lalu memeluk Kyuhyun erat-erat, tangisnya pecah begitu saja. Kyuhyun merasakan kemeja di bagian bahunya sedikit basah dan hangat. “Kau sedih karena ku lamar?” Hae In melonggarkan pelukannya, masih sambil terisak ia menatap Kyuhyun dengan air mata yang membanjiri pipinya, kemudian menggeleng. “Aku terlalu bahagia karena di lamar olehmu, bodoh.” Kemudian kembali memeluk Kyuhyun dan melanjutkan tangisnya. “Aku sedang tidak bermimpi kan? Ini benar-benar terjadi kan?” gumam Hae In pada dirinya sendiri. ia tidak bisa menahan air mata bahagianya karena hal yang selama ini diinginkannya terwujud. Dilamar oleh Kyuhyun. Kyuhyun melonggarkan pelukannya, memegang kedua lengan Hae In lalu sedikit mendorongnya hingga tersisa sedikit jarak di antara mereka. Jari besarnya menelusuri wajah Hae In yang basah, menyeka air mata yang membasahi pipinya, dan merapikan rambut yang menempel di wajah gadis itu. “Aku akan mengatakannya sekali lagi dengan benar.” Dengan tenang ia menyelipkan rambut ke belakang telinga Hae In, lalu menyentuh pipi gadis itu dengan satu tangannya. “Maukah kau menikah dengan ku, Park Hae In?” Ucapnya tenang, jelas, dan lantang. Dengan senyuman tipis di wajahnya yang menutupi segala kegugupan yang ada didirinya. Hae In menganggukan kepalanya berkali sembari menyentuh punggung tangan Kyuhyun di pipinya. “Tentu. Tentu saja aku mau, Kyuhyun-ah

-fin-

:: halo semuanya~ sudah lama sekali ya aku ga update cerita lolol. di luar urusan cerita yang mandek, aku juga lagi di repotin banget sama tugas kuliah yang mengharuskan aku mencari bahan ke kampus lain, dan juga tugas web yang bikin saya ga tidur hampir seminggu! heol~ makasih ya yang udah sempet baca dan komen di ceritaku yang aneh ini. sungguh aku pengen banget nulis, tapi hasilnya malah ga karuan begini. maafkan aku *guling-guling

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s